Renungan Harian Misioner
Kamis, 28 November 2024
P. S. Katarina Labourne
Why 18:1-2.21-23; 19:1-3.9a; Mzm 100:2.3.4.5; Luk 21:20-28
Pembicaraan tentang akhir zaman selalu membuat kita merinding, sedih dan takut sehingga kita cenderung untuk hindari sebisa mungkin. Dalam bacaan hari ini, Yesus menubuatkan bahwa dunia yang kita kenal ini akan berakhir. Nubuat tentang kehancuran kota suci Yerusalem, kehancuran dunia dan hari penghakiman terakhir bukanlah sesuatu yang baru bagi orang Israel karena berabad-abad sebelumnya para nabi telah menubuatkan peristiwa-peristiwa ini. Lihatlah, hari Tuhan datang, kejam, dengan murka dan kemarahan yang dahsyat untuk membuat bumi menjadi sunyi sepi dan untuk membinasakan orang-orang berdosa darinya (Yesaya 13:9-13; Yoel 2:1-2; Amos 5:18-20; Zefanya 1:14-18). Pertanyaannya, mengapa kehancuran Yerusalem terjadi? Yesus memperingatkan bahwa kehancuran Yerusalem yang akan segera terjadi sebagai akibat dari penolakan terhadap Injil. Menurut sejarawan Josephus, lebih dari satu juta penduduk tewas ketika orang Romawi menghancurkan Yerusalem beserta bait sucinya pada tahun 70 M. Pembalasan dendam Yerusalem terjadi karena ketidakpeduliannya terhadap kunjungan Allah dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus (Lukas 19:44).
Yesus juga berbicara tentang penghakiman di akhir dunia. Yesus sepenuhnya jujur. Ia memberi tahu para pengikut-Nya risiko yang harus mereka tanggung karena mengikuti-Nya. Yesus berjanji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan mereka sendirian, bahkan di masa kesengsaraan mereka: “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat” (Lukas 21:28). Apakah orang-orang Kristen akan luput dari malapetaka-malapetaka yang mengerikan? Sama seperti orang-orang lain, orang Kristen pun mungkin akan panik dan takut. Namun, di tengah-tengah malapetaka dan kepanikan itu, orang-orang Kristen justru seharusnya bersikap lain. Mengapa? Sebab semua malapetaka itu seharusnya diartikan sebagai tanda-tanda datangnya pembebasan. Semua cobaan dan derita yang harus dialami umat Kristen seharusnya diartikannya sebagai undangan untuk “berdiri tegak” dan “mengangkat kepala”.
Yesus berbicara tentang kedatangan-Nya yang kedua sebagai fakta yang diketahui, suatu peristiwa yang pasti yang dapat kita harapkan dengan yakin akan terjadi pada waktu yang Tuhan pilih. Kedatangan ini akan ditandai dengan tanda-tanda yang akan dikenali oleh semua orang. Tanda-tanda yang akan menimbulkan ketakutan dan kesedihan bagi mereka yang tidak siap dan keajaiban serta sukacita bagi mereka yang siap bertemu Tuhan. Ketika Tuhan Yesus kembali, Ia akan sepenuhnya menegakkan kerajaan keadilan dan kebenaran-Nya dan Ia akan membenarkan semua orang yang telah setia kepada-Nya. Penghakiman-Nya adalah tanda harapan bagi mereka yang telah menaruh kepercayaan kepada-Nya. Siapa saja yang dengan teguh percaya kepada Tuhan, yang dengan setia mengikuti perintah-perintah-Nya, yang terus-menerus tetap berharap meskipun ada tanda-tanda zaman yang mengecilkan hati dan menakutkan, pembebasan dari rasa takut apapun sudah ada pada mereka.
Malapetaka dan penderitaan dunia ini yang ditanggung dengan iman, harapan, dan kasih Allah, akan berharga jika kita menyadarinya dan merenungkannya dalam terang penghakiman khusus setiap kita dan Kedatangan Kristus yang Kedua. Yesus Kristus telah menebus kita dari perbudakan dosa, dari rasa takut akan kematian, dan dari kehancuran akhir. Yesus menawarkan kita keselamatan dalam menghadapi ancaman-ancaman di bumi. Sebagai murid, marilah kita berjalan bersama Kristus. Kita mungkin kehilangan tubuh kita, tetapi tidak kehilangan jiwa. Tuhan Yesus akan membangkitkan tubuh kita yang hina agar menjadi seperti tubuh-Nya yang mulia yang tidak lagi tunduk pada penyakit, kematian, dan kerusakan. Ketika ada tanda-tanda zaman yang mengecilkan hati dan menakutkan, kita hendaknya menegakkan kepala karena penyelamat kita sudah dekat, yakni Anak Manusia yang datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (Lukas 21:27).
(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen Universitas Katolik Weetebula, NTT)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Orang tua yang kehilangan anak – Semoga semua orang tua yang berduka karena meninggalnya putra atau putri mereka mendapatkan dukungan dari komunitas dan dianugerahi kedamaian dan penghiburan dari Roh Kudus.
Ujud Gereja Indonesia: Para imam, bruder, dan suster usia lanjut – Semoga para imam, bruder, dan suster usia lanjut tetap menemukan api cinta Tuhan dalam hidup mereka, serta bersedia membagikan inspirasi serta kisah kasih Allah pada generasi muda.
Amin
