REFLEKSI INJIL
Paus Fransiskus
Patut dicatat betapa dekatnya hubungan antara roti Ekaristi, makanan untuk kehidupan kekal, dan roti harian, yang diperlukan untuk kehidupan duniawi. Sebelum mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa sebagai Roti keselamatan, Yesus memastikan ada makanan bagi mereka yang mengikuti-Nya dan yang agar dapat bersama-Nya, lupa membuat persediaan. Terkadang hal-hal rohani dan materi saling bertentangan, tetapi pada kenyataannya spiritualisme, seperti materialisme, asing bagi Alkitab. Itu bukan bahasa Alkitab.
Dan kita dipanggil untuk mendekati meja Ekaristi dengan sikap-sikap yang sama seperti Yesus: belas kasihan terhadap kebutuhan orang lain, kata yang diulang dalam Injil ketika Yesus melihat suatu masalah, suatu penyakit atau orang-orang ini yang tidak punya makanan… “Ia memiliki belas kasihan.” “Ia memiliki belas kasihan”. Belas kasihan bukanlah perasaan yang semata-mata material; belas kasih sejati adalah patire con [menderita bersama], menanggung kesedihan orang lain atas diri kita sendiri.
Mungkin ada baiknya kita hari ini bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya merasa kasihan ketika membaca berita tentang perang, tentang kelaparan, tentang pandemi? Begitu banyak hal… Apakah saya merasa kasihan terhadap orang-orang itu? Apakah saya merasa kasihan terhadap orang-orang yang dekat dengan saya? Apakah saya mampu menderita bersama mereka, atau apakah saya berpaling, atau “mereka dapat berjuang sendiri”? Janganlah kita melupakan kata “belas kasihan” ini, yang merupakan kepercayaan pada kasih Bapa yang penuh pemeliharaan, dan berarti berbagi dengan keyakinan.
(Sapaan Paus Fransiskus pada Doa Malaikat Tuhan, 2 Agustus 2020)
