Roh dan Mempelai Allah. Roh Kudus Menuntun Umat Allah Menuju kepada Yesus Sumber Pengharapan Kita [17]
Roh Kudus dan Mempelai Perempuan berkata: “Datanglah!”. Roh Kudus dan Pengharapan Kristiani
Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!
Kita telah tiba di akhir katekese tentang Roh Kudus dan Gereja. Kita akan mengabdikan refleksi terakhir ini pada judul yang kita berikan untuk seluruh rangkaian, yaitu: “Roh Kudus dan Sang Mempelai Perempuan. Roh Kudus menuntun Umat Allah menuju Yesus, sang pengharapan kita”. Judul ini merujuk pada salah satu ayat terakhir dari Kitab Suci, dalam Kitab Wahyu, yang mengatakan: “Roh dan mempelai perempuan itu berkata, ‘Datanglah’” (Why. 22:17). Kepada siapa seruan ini ditujukan? Seruan ini ditujukan kepada Kristus yang bangkit. Sungguh, baik Santo Paulus (lih. 1 Kor. 16:22) maupun Didaché, sebuah teks dari zaman para rasul, membuktikan bahwa dalam pertemuan-pertemuan liturgis umat kristiani perdana, terdengar seruan dalam bahasa Aram, “Maràna tha!”, yang memang berarti “Datanglah, Tuhan!”. Sebuah doa kepada Kristus, agar Dia datang.
Pada masa awal itu, seruan itu berlatar belakang yang kita gambarkan hari ini sebagai eskatologis. Sungguh, seruan itu mengungkapkan harapan yang membara akan kedatangan Tuhan yang mulia. Dan seruan ini, dan harapan yang diungkapkannya, tidak pernah padam di dalam Gereja. Bahkan hari ini, dalam Misa, segera setelah konsekrasi, Gereja mewartakan wafat dan kebangkitan Kristus “seraya kita menantikan harapan dan kedatangan-Nya yang membahagiakan”. Gereja menantikan kedatangan Tuhan.
Namun harapan akan kedatangan Kristus yang terakhir ini bukan satu-satunya harapan. Harapan itu juga telah disertai dengan harapan akan kedatangan-Nya yang terus-menerus dalam situasi peziarahan Gereja saat ini. Dan kedatangan inilah yang terutama dipikirkan Gereja, ketika, digerakkan oleh Roh Kudus, Gereja berseru kepada Yesus: “Datanglah!”.
Suatu perubahan, atau lebih baik, katakanlah, suatu perkembangan, yang penuh makna, telah terjadi berkenaan dengan seruan “Datanglah”, “Datanglah, Tuhan!”. Seruan itu tidak hanya ditujukan kepada Kristus, tetapi juga kepada Roh Kudus sendiri! Dia yang berseru sekarang adalah Dia yang kita serukan. “Datanglah!” adalah seruan yang dengannya kita mengawali hampir semua madah dan doa Gereja yang ditujukan kepada Roh Kudus: “Datanglah, Roh Kudus”, kita ucapkan dalam Veni Creator, dan “Datanglah, Roh Kudus”, “Veni Sancte Spiritus”, dalam rangkaian Pentakosta; dan seterusnya, dalam banyak doa lainnya. Adalah tepat bahwa demikianlah seharusnya, karena, setelah kebangkitan, Roh Kudus adalah “alter ego” Kristus yang sejati, Dia yang menggantikan-Nya, yang membuat-Nya hadir dan bekerja dalam Gereja. Dialah yang “memberitakan … hal-hal yang akan datang” (lih. Yoh. 16:13) serta membuatnya dikehendaki dan diharapkan. Itulah sebabnya Kristus dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan, juga dalam tata cara keselamatan.
Roh Kudus adalah sumber pengharapan kristiani yang terus mengalir. Santo Paulus mewariskan kita kata-kata yang berharga ini, inilah yang dikatakan Paulus: “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kuasa Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Rm. 15:13). Jika Gereja adalah sebuah perahu, Roh Kudus adalah layar yang mendorongnya dan membiarkannya maju di lautan sejarah, baik hari ini sebagaimana di masa lalu!
Pengharapan bukan kata kosong, atau keinginan samar kita agar segala sesuatunya berubah menjadi yang terbaik; pengharapan adalah suatu kepastian, karena didasarkan pada kesetiaan Allah terhadap janji-janji-Nya. Dan inilah sebabnya harapan disebut sebagai kebajikan teologis: karena harapan diresapi oleh Allah dan memiliki Allah sebagai penjaminnya. Harapan bukanlah kebajikan pasif, yang hanya menunggu segala sesuatu terjadi. Pengharapan adalah kebajikan yang sangat aktif yang membantu mewujudkannya. Seseorang yang berjuang untuk pembebasan kaum miskin menulis kata-kata ini: “Roh Kudus adalah sumber dari jeritan kaum miskin. Ia adalah kekuatan yang diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kekuatan. Ia memimpin perjuangan untuk emansipasi dan realisasi penuh orang-orang yang tertindas”.
Orang kristiani tidak boleh merasa puas dengan memiliki pengharapan; ia juga harus memancarkan pengharapan, menjadi penabur pengharapan. Pengharapan adalah karunia terindah yang dapat diberikan Gereja kepada seluruh umat manusia, terutama pada saat-saat ketika segala sesuatu tampaknya berjalan lambat.
Rasul Petrus menasihati jemaat perdana dengan kata-kata ini: “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu.” Namun, ia menambahkan sebuah anjuran: “Tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Ptr. 3:15-16). Dan ini karena bukan kekuatan argumen yang akan meyakinkan orang, melainkan kasih yang kita tahu bagaimana menanamkannya pada mereka. Ini adalah bentuk penginjilan perdana dan paling efektif. Dan ini terbuka bagi semua orang!
Saudara-saudari terkasih, semoga Roh Kudus senantiasa membantu kita untuk “berlimpah dalam pengharapan oleh kebajikan Roh Kudus! Terima kasih.
.
