Berbagi Sukacita Injil Hingga ke Jagat Online

Jambore_Palembang_2017Kamis hingga Minggu (6-9 Juli) merupakan hari terselenggaranya Jambore Sekami Remaja Keuskupan Agung Palembang. Kegiatan yang diikuti oleh 832 anak remaja, 70 pendamping, dan 60 biarawan-biarawati ini diadakan di kompleks Xaverius Centrum Studiorum, Palembang.

Pembukaan jambore bertema Berbagi Sukacita Injil hingga ke Jagat Online ini ditandai dengan Perayaan Ekaristi. Uskup Agung Palembang, Mgr Aloysius Sudarso SCJ memimpin Misa didampingi oleh Dirnas KKI Romo Markus Nur Widi Pranoto Pr dan Dirdios KKI Romo Elis Handoko SCJ beserta belasan imam lainnya.

Dalam homilinya, Mgr Sudarso SCJ menekankan bahwa remaja adalah sosok yang istimewa karena dikasihi Tuhan Yesus. Kasih Tuhan ini membawa konsekuensi. “Kalian, meskipun masih remaja, memiliki kewajiban untuk mewartakan sukacita Injil kepada orang banyak. Tuhan menjaga kalian dan berharap kalian meneruskan sukacita ini. Hiduplah dengan mewartakan sukacita hingga ke dunia gadget,” kata Mgr Sudarso SCJ.

Sebelum berkat penutup, dilakukan penyematan name tag dan syal Sekami kepada empat orang perwakilan peserta dan pendamping. Pembukaan resmi Jambore Sekami ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Mgr Sudarso SCJ dan gerak animasi theme song jambore.

Sukacita dan Laudato Si’

Tahapan pertama dari formasi misioner ialah menggali makna berbagi dan sukacita Injil bagi anak-anak Sekami. Dalam materinya, Dirnas KKI Romo Nur Widi mengajak peserta untuk aktif dalam kegiatan Sekami. Melalui Sekami, anak remaja diajarkan hal-hal kehidupan, baik jasmani maupun rohani. “Kalian harus aktif di Sekami. Mengapa? Karena di Sekami ini kalian belajar berbagi, bermisi, dan mewartakan,” tegas Romo Nurwidi.

Selanjutnya, peserta melakukan aksi misioner yang berpedoman pada Ensiklik Laudato Si’. Sebelumnya, Dirdios KKI Romo Elis Handoko memberikan pemahaman dasar tentang Laudato Si’ dan keadaan bumi saat ini. Romo Elis juga menjelaskan tujuan dimintanya peserta untuk membawa alat makan dan gerakan bawa botol minum (BBM) sebagai langkah gerakan ramah lingkungan dengan mengurangi sampah. Dari sinilah, peserta diajak untuk membuat komitmen misioner bersama dalam acara Laudato Si’ in Action. Dengan kreatif mereka membuat hiasan rambut dan pernak-pernik lainnya menggunakan sampah organik dan an-organik. Mereka pun membuat komitmen untuk turut aktif menjaga bumi ini. Kreativitas komitmen misioner ini lalu di-upload di medsos sebagai ungkapan berbagi sukacita di jagat online.

Cerdas Bermedsos

Formasi misioner kedua lebih melihat arti berbagi sukacita Injil di dunia online. Di sini, Romo Elis Handoko mengajak anak-anak Sekami untuk menyadari jatidirinya sebagai misionaris cilik di dunia Internet, khususnya medsos. Ajakan sentral yang disodorkan ialah agar anak-anak hidup secara baik di jagat online sebagaimana itu terjadi di kehidupan offline sehari-hari. Intinya, bagaimana sebagai seorang murid Kristus, kita mengungkapkan hidup secara baik di dunia siber. Sebab, di dunia ini pula, kita diutus menjadi saksi sukacita-Nya.

“Jangan cuma update status yang isinya curhatan galau supaya di-like banyak orang. Cerdas bermedsos artinya apa yang kita bagikan di medsos itu mesti mengalir dari keimanan kita pada Kristus. Jadi, ada pesan makna tertentu yang kita bagikan,” urai Romo Elis.

Materi ini ditutup dengan refleksi melalui film pendek Disconnect to Connect. Usai materi, hand phone dan gadget yang tadinya dititipkan pada panitia pun dibagikan pada para peserta. Tujuannya, agar mereka bisa langsung mewujudkan aksi misioner mereka di dunia medsos.

Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menganimasi anak-anak sekami remaja. Misalnya, dengan kunjungan misioner ke stan-stan tarekat religius. Ada pula dialog antara Bapak Uskup dengan anak-anak. Kegiatan-kegiatan yang tidak kalah menarik adalah ibadat lilin kasih, menonton film pendek bertemakan menjadi saksi di dunia online ala anak misioner, berkomitmen tentang sikap anak misioner di jagat online, pentas seni dan evaluasi serta refleksi Jambore.

Rangkaian acara memuncak pada Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr Aloysius Sudarso SCJ dan belasan orang imam. Di akhir Ekaristi, Mgr Sudarso SCJ menyematkan pin Sekami sebagai simbol perutusan bagi anak-anak Sekami.

Kristiana Rinawati