Sajian Utama

Epifani: Belajar dari Para Majus 


Hari Raya Epifani dirayakan oleh Gereja tepatnya tanggal 6 Januari. Pesta Penampakan Tuhan ini dijadikan sebagai Hari Anak Misioner Sedunia, yang sudah disepakati dan ditentukan oleh Gereja universal. Mengapa Hari Raya Epifani ini menjadi penting bagi anak dan remaja misioner?

Apa yang dimaksud dengan Hari Raya Epifani?

Hari Raya Epifani disebut juga Hari Raya Penampakan Tuhan. Kata “Penampakan Tuhan” berasal dari kata epiphaneia (bahasa Yunani) atau epifani yang secara harafiah berarti penampakan yang mencolok. Kata “epifani” digunakan dalam Perjanjian Lama untuk merujuk pernyataan diri Allah (2Mak 15:27), sedangkan dalam Perjanjian Baru digunakan untuk merujuk kelahiran Kristus atau penampakan-Nya sesudah kebangkitan serta kedatangan-Nya yang kedua (2 Tim 1:10). Dengan demikian, kata “epifani” digunakan untuk merujuk pada penampakan keilahian Allah.

Kapan Gereja merayakan Epifani?

Epifani dirayakan oleh Gereja Katolik Ritus Latin pada 6 Januari, namun Gereja memperbolehkan Konferensi Uskup setempat untuk menggeser hari raya ini ke hari Minggu terdekat. Hari Raya Penampakan Tuhan tersebut digeser ke hari Minggu antara tanggal 2-8 Januari, agar Epifani dapat dirayakan dengan meriah, mengingat kondisi daerah setempat yang tidak memungkinkan untuk menjadikan Epifani sebagai hari libur nasional.

Siapa saja tokoh di Hari Raya Epifani?

Ketika kita mendengar kata Epifani, tentu pikiran kita terarah kepada tiga orang Majus dari Timur yang membawa persembahan kepada bayi Kanak-Kanak Yesus. Penampakan Tuhan melalui tiga orang Majus, mewakili seluruh umat manusia yang datang untuk menyembah Tuhan, Sang Raja Damai yang baru dilahirkan. Menurut tradisi, mereka bernama Baltasar (Persia), Melkior (Asia), dan Gaspar (Ethiopia); mereka mewakili ketiga ras besar bangsa manusia di dunia pada waktu itu. Dari tiga orang Majus ini hendak dinyatakan bahwa kehadiran Yesus itu bukan hanya untuk kalangan terbatas bangsa Yahudi, tetapi untuk seluruh bangsa di dunia. Dengan kata lain, Hari Raya Penampakan Tuhan hendak menyatakan iman kita akan universalitas keselamatan dari Yesus. Yesus adalah penyelamat seluruh umat manusia  yang mau menerima Dia dan percaya kepada-Nya.

Apa saja teladan sikap iman para Majus?

Para Majus dari Timur datang ke Yerusalem dengan bimbingan bintang. Tentu semua itu dilandasi iman yang kokoh, iman yang mencari dengan sepenuh hati. Orang-orang Majus ini dapat menjadi teladan iman bagi kita semua. Teladan iman apa yang dapat kita ikuti sebagai umat beriman?

Usaha datang kepada Yesus

Para Majus dikenal dengan keahliannya dalam ilmu perbintangan. Mereka menggunakan keahliannya tersebut untuk mencari dan menyembah Yesus (Mat 2:2). Sebagai orang beriman, kita pun dapat meneladani apa yang dilakukan para Majus. Kita dapat menggunakan keahlian kita masing-masing untuk mencari dan menyembah/mengabdi Tuhan. Bukan sebaliknya untuk kepentingan dan kesenangan kita sendiri. Apapun profesi, keahlian, keterampilan, bakat, dan talenta kita, marilah kita gunakan sebagai sarana untuk mencari dan mengabdi Tuhan.

Melihat petunjuk bintang

Para Majus dapat berjumpa dengan Yesus karena bantuan bintang, yang seakan memberikan sebuah petunjuk, di mana Mesias dilahirkan.  Mereka mengatakan, “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Kepada kita masing-masing, Tuhan memberikan “bintang-Nya”, yaitu petunjuk bagi kita untuk mencari dan menemukan Tuhan. Namun, seperti yang dialami para Majus tersebut, “bintang” Tuhan itu tidak selalu jelas dan tampak. Maka, kita harus berusaha untuk peka menangkap bimbingan Tuhan: ke arah mana Tuhan membimbing saya dan di mana saya harus berhenti untuk melakukan sesuatu, kemudian melanjutkan perjalanan lagi sesuai dengan bimbingan Tuhan. Kita diajak untuk mengasah kepekaan kita agar kita mampu melihat “bintang” yang berhenti di atas keluarga kita, di atas lingkungan/masyarakat kita, di atas Gereja kita, di atas tempat kerja kita, dan lain-lainnya,  sehingga di tempat-tempat itu, kita dapat menemukan Tuhan dan berjumpa dengan-Nya.

Sujud dan menyembah Yesus

Setelah berjumpa dengan Yesus, para Majus itu kemudian “sujud menyembah Dia … dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu” (Mat 2:11). Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Sebagaimana para Majus yang sujud menyembah kepada Tuhan dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, kita pun diajak supaya dengan tekun dan setia datang kepada Tuhan untuk bersujud menyembah dan menghunjukkan persembahan kepada-Nya. Dalam hal ini, perayaan Ekaristi harus mendapatkan tempat utama dalam hidup kita. Sebab, di situlah Yesus sendiri hadir dan kita sujud menyembah serta menghunjukkan persembahan kepada-Nya, berupa kolekte dan bahan persembahan lainnya. Ekaristi itu harus kita jadikan sebagai sumber dan puncak kehidupan kita. Artinya, sembah sujud dan persembahan yang kita hunjukkan kepada Tuhan dalam perayaan Ekaristi, harus menjadi pendorong bagi kita untuk mengabdi Tuhan melalui karya pelayanan kita kepada sesama dalam hidup sehari-hari.

Pulang dengan jalan lain

Dalam Injil ditulis, bahwa mereka pulang lewat jalan lain karena dilarang untuk kembali kepada Herodes. Tetapi secara simbolis, hal ini menegaskan bahwa mereka yang benar-benar mengalami penampakan Tuhan dan berjumpa dengan-Nya, tidak akan lagi hanya menapaki jalan hidup yang sama. Sebab, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan itu membarui dan mengubah. Maka, setelah kita berjumpa dengan Tuhan dan sujud menyembah kepada-Nya dalam perayaan Ekaristi, kita harus kembali dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, kehidupan sehari-hari itu harus kita jalani secara lain dan baru, sesuai dengan roh, semangat, dan inspirasi yang kita dapatkan melalui perjumpaan dengan Tuhan dalam Ekaristi.

Semoga perayaan Hari Raya Epifani, membarui hidup kita, semangat kita untuk berusaha mencari Tuhan, dengan segala keahlian yang kita miliki. Kita persembahkan diri kita, kita datang, sujud menyembah dihadapan-Nya.

Sr. Yohana Halimah, SRM

<<< Kembali ke Halaman Utama

Selanjutnya >>>