Varia

Semangat Misioner:

Pemulihan Martabat Manusia


“Pandemi ini menyingkapkan betapa rentan dan saling berhubungan kita satu sama lain. Jika kita tidak saling mempedulikan satu sama lain, mulai dari yang paling lemah, dengan mereka yang paling terkena, termasuk ciptaan, kita tidak dapat memulihkan dunia” (Paus Fransiskus, 22/8/2020).

Perayaan Hari Anak Misioner tahun ini, masih ditandai pandemi covid-19 yang masih belum berakhir. Pandemi ini, menimbulkan pemasalahan kesehatan, bahkan kematian yang diakibatkan virus Corona tersebut.  Hal ini sangatlah menyedihkan. Dampak lain dari pandemi ini, ada banyak orang kehilangan pekerjaan, dan perekonomian yang menurun. Semua itu membuat banyak orang khawatir, cemas, dan mengalami kebingungan. Dalam situasi yang demikian, apa yang dapat kita lakukan sebagai orang beriman? Ini menjadi sebuah tantangan bagi kita. Di saat yang sulit ini, kita dipanggil untuk menjalankan perutusan kita.

Penghargaan, pemulihan martabat manusia

Mgr. Charles de Forbin Janson sebagai pendiri Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner, telah mewariskan semangat misioner.  Salah satunya adalah memberikan penghargaan terhadap hak dan martabat kepada anak. Zaman itu, Mgr. Charles merasa ikut bertanggung jawab atas penderitaan anak-anak di dunia. Ia memperjuangkan hak dan martabat anak-anak untuk memperoleh hak-hak mereka, seperti: cinta, perhatian, dan pendidikan selayaknya sebagai citra Allah. Ia menghargai  potensi, karunia yang ada pada anak-anak untuk menolong anak-anak lain yang tidak  beruntung.

Di saat ini, khususnya di masa pandemi covid-19, Paus Fransiskus dalam katekesenya tertanggal 22 Agustus 2020, berbicara tentang “Iman dan Martabat Manusia”. Menurut Paus Fransiskus bahwa, “Virus corona bukan hanya penyakit yang harus dibasmi, akan tetapi, pandemi menguakkan penyakit sosial yang lebih luas”. Paus berpendapat bahwa, pandemi ini menjadi kesempatan kita untuk berbenah, menyadari akan jati diri kita di hadapan pencipta-Nya. Allah yang menciptakan kita, baik adanya dan secitra dengan-Nya, kita harus memulihkannya kembali. Paus Fransiskus mengatakan: “Dalam terang iman kita mengetahui, bahwa Allah memandang pria dan wanita dengan cara yang berbeda. Dia menciptakan kita bukan sebagai objek namun sebagai umat manusia yang dicintai dan sanggup mencintai; Dia menciptakan kita dalam gambaran-Nya dan keserupaan dengan-Nya (lih. Kej 1:27). Dengan cara demikian, Dia menganugerahi kita martabat yang khas, mengundang kita untuk hidup dalam kebersamaan dengan-Nya, dalam kebersamaan dengan saudara-saudari kita, dengan penghargaan akan semua ciptaan.”

Dipanggil: pemulihan martabat manusia

Dalam hal ini, baik Mgr. Charles pendiri Serikat Anak Remaja Misioner dan Paus Fransiskus mempunyai keprihatinan yang sama akan pemulihan martabat manusia. Dalam iman yang sama, kita pun dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam  pemulihan martabat manusia, yang saat-saat ini rusak karena keegoisan manusia sendiri. Apa yang dapat kita lakukan?  Paus Fransiskus mengajak kita untuk memberikan perhatian dan peduli kepada saudara-saudari kita yang terluka, yang menderita, yang lemah, dan tersingkir. Beliau berharap kita semua tidak hanya mementingkan diri sendiri. Maka, Paus mengajak kita untuk memandang sesama, kebutuhan sesama, persoalan sesama, dalam kebersamaan. Kita diajak untuk mengenali martabat pribadi manusia dalam setiap pribadi, apapun ras, bahasa atau kondisi yang menyertainya. Keselarasan menuntun kita pada pengakuan akan martabat manusia, dalam keselarasan yang diciptakan oleh Allah, dengan kemanusiaan berada di pusatnya.

Bagaimana dengan anak dan remaja misioner? Mgr. Charles sejak awal cita-citanya bahwa anak dan remaja misioner mampu menjadi pribadi yang peduli kepada orang lain, terutama kepada teman-teman mereka. Mereka mempunyai moto “Children Helping Children”.  Dengan moto ini, para anak dan remaja misioner ikut memberikan perhatian, menolong teman-teman mereka terutama yang menderita. Dengan kata lain, para anak dan remaja misioner telah ikut ambil bagian dalam pemulihan martabat manusia. Anak dan remaja misioner, menyadari bahwa mereka semua adalah anak-anak yang dikasihi Allah. Mereka menyadari bahwa mereka ada dalam satu keluarga misioner, yang harus saling menolong. Melalui semangat misioner yang mereka tabur, akan membuahkan sebuah pemulihan bagi martabat manusia, khususnya teman-teman mereka yang terluka dan menderita. Semangat solidaritas bersama yang dikembangkan, bukan keegoisan atau berpikir untuk kepentingan diri sendiri.

Iman mengundang kita, disembuhkan, dan dipertobatkan

Anak dan remaja misioner, mendukung dan melakukan apa yang disarankan oleh Paus Fransiskus. Paus mengatakan, “Kita semua adalah insan sosial, kita perlu hidup dalam keselarasan sosial, maka ketika kita berpusat pada diri sendiri, cara pandang kita tidak mengarah pada sesama, pada kebersamaan, namun berpusat pada diri kita sendiri, hal ini akan menjadikan kita bodoh, buruk dan egois, merusak keselarasan. Kesadaran baru akan martabat setiap umat manusia ini memiliki dampak sosial, ekonomi, dan politik yang serius. Memandang saudara-saudari kita dan keseluruhan ciptaan sebagai anugerah yang diterima dari kasih Bapa menginspirasikan sikap, kepedulian, dan kekaguman yang penuh perhatian”.

                Kita patut bersyukur, bahwa anak dan remaja misioner dari hari ke hari diproses menjadi pribadi yang beriman, peduli, dan penuh kasih kepada sesama. Apa yang telah ditabur oleh Mgr. Charles menghasilkan buah yang berlimpah. Walaupun demikian, para anak dan remaja misioner  janganlah berbesar hati, karena iman harus terus dipelihara, dipupuk, dan dikembangkan agar tumbuh subur. Karena iman yang benar akan mendorong seseorang untuk hidup bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk Tuhan dan sesama. Paus Fransiskus mengatakan, “Iman mendorong kita untuk melibatkan diri secara sungguh dan secara aktif melawan sikap tidak peduli berhadapan dengan penodaan martabat pribadi manusia. Iman senantiasa mengundang kita agar kita membiarkan diri disembuhkan dan dipertobatkan dari individualisme kita, entah pribadi ataupun bersama; individualisme kelompok.” Paus Fransiskus berharap, katanya: “Semoga Tuhan ‘memulihkan pandangan mata kita’ sehingga menemukan kembali apa artinya menjadi anggota keluarga umat manusia.” Iman diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang konkret dengan belas kasihan dan penghargaan akan setiap pribadi manusia dan melindungi rumah bersama kita.

Sr. Yohana Halimah, SRM.

<<< Kembali ke Halaman Utama