SAPAAN DIRNAS

Sahabat misioner terkasih,

Kita merayakan Hari Anak Misioner di awal tahun 2021 ini dalam situasi yang memprihatinkan. Pandemi Covid-19 belum reda. Virus Covid-19 membuat kita semua kalang kabut. Sendi-sendi kehidupan terkoyak, terhambat, dan terhenti karena ganasnya virus ini. Kita semua sedih, gelisah, takut, dan khawatir. Banyak keluarga berduka karena ada anggota keluarga mereka yang terpapar virus Corona Covid-19, bahkan meninggal karenanya. Banyak aktivitas berhenti dan banyak orang kehilangan pekerjaan. Anak-anak tidak bisa belajar dan sekolah sebagaimana mestinya. Mereka kehilangan keceriaan dan kebebasan bermain untuk tumbuh kembang. Tidak hanya itu, aktivitas keagaamaan pun terbatas. Banyak umat gelisah dan rindu karena tidak bisa beribadah sebagaimana mestinya. Misa diselenggarakan secara virtual. Beberapa pelayanan sakramental terkait ekaristi diambil oleh otoritas Gereja setempat untuk melayani umat sebaik mungkin. Meski demikian masih ada juga pro dan kontra terhadap pelayanan yang diberikan itu.

Situasi pandemi boleh dibilang situasi krisis, situasi yang tidak ideal. Dalam situasi seperti ini, kita perlu belajar dari St. Yusuf. Apalagi tahun ini ditetapkan sebagai Tahun Santo Yusuf (Yosef), 8 Desember 2020 s.d. 8 Desember 2021, oleh Paus Fransiskus. Untuk menandai Tahun Santo Yusuf, Paus Fransiskus mengeluarkan Surat Apostolik Patris Corde pada peringatan 150 tahun pemakluman Santo Yosef sebagai Pelindung Gereja Semesta, 8 Desember 2020.

Injil Matius menceritakan sikap St. Yusuf menghadapi situasi krisis yang menimpanya. “Pada waktu Maria, ibu Yesus, bertunangan dengan Yusuf, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Mat.1:18-19). Kenyataan bahwa Maria telah mengandung dari Roh Kudus rasanya membawa Yusuf, suaminya, kepada situasi yang sulit. Yusuf sangat risau oleh kehamilan Maria yang tidak dapat dipahaminya. Terhadap situasi tersebut, Yusuf tidak meratapi atau mengutukinya. Sebaliknya, ia justru memiliki niat baik, “tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum.” Tidak hanya berhenti pada niat baik, Yusuf seorang yang tulus hati melakukan hal-hal terbaik dengan mentaati malaikat Tuhan. Ketaatan memungkinkannya untuk mengatasi kesulitannya dan menyelamatkan Maria.

Anak-anak misioner terkasih,

Belajar dari Santo Yusuf, marilah kita bangun niat dan lakukan tindakan-tindakan baik terlebih dalam masa sulit seperti pandemi saat ini.  Jauhkan diri dari sikap mengeluh, menggerutu, atau memprovokasi apalagi menghasut ke hal-hal buruk. Sebaliknya, hendaknya kita tumbuhkan perasaan dan pikiran positif, berkata-kata yang sejuk dan membuat damai, serta membuat niat dan tindakan baik. Untuk itu, dirumuskan “Anak Misioner Hidup bagi Tuhan dan Sesama” sebagai tema Hari Anak Misioner 2021.

Engkau adalah anak-anak misioner, anak-anak Katolik yang diutus menjadi misionaris cilik untuk mewartakan sukacita Injil kepada semakin banyak orang. Kita menjadi misionaris dalam keluarga kita masing-masing, bagi teman-teman di sekolah maupun di rumah, dan bagi orang-orang yang kita jumpai di mana saja dan kapan pun. Sebagai anak misioner, kita hidup bagi Tuhan. Anak misioner senantiasa mengarahkan dan mempersembahkan hidup kepada Tuhan lewat doa, adorasi, devosi, serta terutama sakramen Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Hidup bagi Tuhan ini kita wujudkan dengan hidup bagi sesama. Anak misioner bisa hidup bagi sesama dengan semboyan children helping children, anak bantu anak. Apa yang dikerjakan? 2D2K: Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian.

Anak-anak dan sahabat misioner terkasih,

Pada Hari Anak Misioner Sedunia ke-178 ini, Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia (BN KKI) kembali menyajikan majalah MISSIO bagi Anda. Semoga majalah MISSIO ini boleh menjadi sarana bagi kita untuk mengobarkan api misioner dalam diri semakin banyak orang. Marilah senantiasa memohon rahmat Tuhan melalui Maria Bunda Yesus, bintang evangelisasi, dan melalui Santo Yusuf, Penjaga Sang Penebus, suami Perawan Maria yang terberkati. Dengan pertolongan Bunda Maria dan Santo Yusuf, semoga semakin banyak orang mengenal dan mengimani Yesus, Sang Emanuel, Juru Selamat. Selamat Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Tuhan memberkati!

 

Salam misioner,

Rm. M. Nur Widipranoto, Pr

Dirnas KKI

 


<<< Kembali ke Halaman Utama

Selanjutnya >>>