Seminari Menengah St. Yohanes Don Bosco Samarinda

Seminari Menengah St. Yohanes Don Bosco, Keuskupan Agung Samarinda

Alamat:
Jl. Pasundan 78 – Kel. Jawa RT 19RW 07 Samarinda Kaltim 75211

Rektor:
Rm. Silpanus Dalmasius, Pr

Alamat email:
seminariyohanesbosco@gmail.com

Jumlah seminaris:
Kelas X 5 orang
Kelas XI 5 orang
Kelas XII 5 orang
KPA 2 orang
Total 17 orang


Seminari Menengah St. Yohanes Don Bosco Samarinda atau dekat disebut Seminari Don Bosco merupakan seminari menengah atau sekolah untuk para yang akan menjadi pastor setingkat SMA. Terletak di Perlintasan Pasundan, di Kelurahan Jawa atau dikenal sebagai Kampung Jawa, Samarinda. Berada di dalam Keuskupan Luhur Samarinda.

Sejarah

Pada permulaannya bernama St. Yosef, dengan makna : Mendidik seminaris yang mau melakukan pekerjaan keras, tekun dan taat dalam asuhan Tuhan sebagaimana Santo Yosef. Tanggal 21 Mei 1938, wilayah Misi MSF di Kalimantan yang mencakup Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dipisahkan dari Vikariat Apostoliknya (Pontianak) dan menjadi Prefektur Apostolik Banjarmasin, dan tanggal 19 Oktober 1938 Peter Jac Kusters MSF diangkat menjadi Prefek Banjarmasin[1]

Program kerja Pater Jac Kusters MSF mencakup 3 hal :

1. Perbaikan dibidang sosial, berhubung demikianlah keadaanya pergeseran pada segi norma budaya dan hukum budaya pada hukum budaya pada masyarakat sebagai suku setempat.
2. Mengintensifkan karya pastoral, supaya khususnya permasalahan hidup perkawinan bisa ditangani secara bertambah adun.
3. Mengusahakan demikianlah keadaanya konsolidasi dibidang pendidikan dan pengajaran, karena demikianlah keadaanya pembukaan sekolah-sekolah dan pertumbuhannya yang terlalu cepat, adun sekolah yang dibangun oleh Pemerintah maupun pihak Gereja.
Tanggal 12 Juli 1950, Mgr. J. Groen MSF, Vikaris Apostolik Banjarmasin, mendirikan Seminari Menengah dengan nama pelindung St. Yosef Pekerja. Hal ini dimaksudkan untuk mencetak tenaga pastoral yang taat, tekun, melakukan pekerjaan keras serta setia pada karya dan rencana Allah.

Setelah empat tahun berlanjut, ternyata jumlah peminatnya, sehingga tahun 1954 Seminari St. Yosef ini dipindahkan ke Sanga-sanga, lebih kurang 10 Kilometer arah ke laut dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Seminari St. Yosef Sanga-sanga direncanakan akan menjadi Seminari Menengah Regional untuk Vikariat Banjarmasin dan Samarinda.

Tahun 1956 disiapkan konferensi Vikaris seluruh Kalimantan, salah satu keputusannya merupakan mengirim 3 kelas ke Seminari Nyarungkop-Pontianak hal ini dipertontonkan karena di Seminari Sanga-sanga kekurangan tenaga pengajar.

Tanggal 27 Juni 1959 Seminari Menengah St. Yosef Sanga-sanga di tutup. Kelas yang mempunyai dipindahkan ke Seminari Nyarungkop Pontianak-Kalimantan Barat, hanya Kelas Persiapan Atas (KPA) tetap tinggal di Kalimantan Timur. Selanjutnya KPA ini dipindahkan ke Desa Tering, lebih kurang 500 Kilometer dari Samarinda.

Tahun 1961, Seminari Menengah dibuka kembali di Samarinda. Para Siswa Seminari selama tiga tahun pertama mengikuti pelajaran SMP dan tiga tahun selanjutnya mengikuti pelajaran SMA. Di Seminari mereka memperoleh pelajaran tambahan Bahasa Latin dan bidang-bidang pembinaan agama. Cara pengajaran seperti ini bisa berlanjut dengan adun karena pada tahun 1959 telah dibuka SMP Katolik di Samarinda. Selanjutnya tahun 1963 SMA Katolik pun dibuka, sehingga siswa Seminari Menengah yang berbeda di Nyarugkop-Pontianak dipindahkan kembali ke Samarinda. Sebagian tahun selanjutnya Vikariat Banjarmsin juga mengirim siswa Seminarinya ke Samarinda.

Tahun 1971, Seminari St. Yosef diintegrasikan dengan Asrama St. Yohanes Don Bosco, sebuah asrama untuk pelajar Putra Non Seminaris yang dibangun tahun 1956. Semenjak penggabungan itu nama Seminari St. Yosef berubah menjadi “Asrama Seminari St. Yohanes Don Bosco. Pada tahun 1993, penggabungan ini dirombak, para Seminaris dipisahkan dengan yang non Seminaris. Para Seminaris pindah ke Gedung Seminari Don Bosco di perlintasan Pasundan 78, hingga sekarang.

Arti Simbol

Simbol didominasi bentuk bebijian yang melambangkan “BENIH=SEMEN (Bahasa Latin)” bertambah lanjut pengertiannya mengembang menjadi ” SEMINARE” lalau ” SEMINARIUM” yang berarti “Penyemian Benih”

Makna Tulisan: Warna Kuning = Keluhuran; Merah = Pengorbanan demi sesama; Hijau=Kesuburan untuk penyemian benih; Biru muda = Keteduhan demi kesehatan jiwa raga; Biru Tua= Kemantapan dalam iman; Hitam=Keteguhan hati menolak godaan duniawi.

1. Inti Benih dipadu dengan Salib dan Cawan/Sibori yang menyatu dengan mesbah atau Altar bermakna SANCTITAS : Kemurnian salah satu motto Seminari yang membina para Seminaris/Yang akan menjadi Imam untuk bisa hidup dan memiliki dedikasi yang tinggi untuk hidup mengarah kepada Tuhan dan menjunjung tinggi segi kesakralan/kekudusan di tengah dunia yang sudah porak poranda.
2. Daging Benih yang menjadi latar inti benih bermakna SANITAS: Kesehatan salah satu motto Seminari yang membina para Seminaris/Yang akan menjadi Imam untuk mampu hidup dalam jiwa dan raga yang sehat,walau mereka berada di situasi dunia yang penuh dengan kekotoran, dan justru nanti akan menjadi tugas dan kewajiban mereka untuk membawa dunia ini menuju kekudusan kepada Tuhan.
3. Kulit benih yang menjadi pelindung Inti benih yang bermakna SCIENTIA: Science/Pengetahuan salah satu moto Seminari yang membina para Seminaris/Yang akan menjadi Imam untuk memiliki Science/pengetahuan,dan Teknologi karena matang ini kemajuan dunia informatika begitu pesat dan up to date para yang akan menjadi Imampun harus mampu menyesuaikan semuanya itu dalam rangka menunjang penerapan tugas dan kewajibannya kelak sebagai Imam dalam melayani umat.

Kapel

Pemberkatan peletakan batu pertama oleh Pastor Hendrik Nuva, SVD disaksikan Uskup Luhur Samarinda Mgr. Florentinus Sului.
Untuk melengkapi Seminari Menengah Don Bosco dibangun kapel dalam sekeliling yang terkait seminari di perlintasan Pasundan yang dimulai pembangunannya pada tanggal 15 Maret 2009 dengan ditandai pemberkatan peletakan batu pertama oleh Pastor Hendrik Nuva, SVD dan disaksikan oleh Uskup Luhur Samarinda Mgr. Florentinus Sului Hajang Hau, M.S.F.

Kapel diberkati Duta Agung Vatikan untuk Indonesia Mgr. Leopoldo Girelli pada tanggal 19 September 2010.[2]

Diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak dan Uskup Luhur Samarinda MGR Sului Florentinus MSF pada tanggal 31 Januari 2011.


  1. ^ MSF Kalimantan
  2. ^ Kapel
  3. ^ Gubernur Kaltim Kembali Sampaikan Pesan Kebersamaan
  4. ^ Gubernur Kaltim Resmikan Kapel Seminari Don Bosco