Penyesalan Adalah Tanda Keselamatan

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 September 2017

 

Bacaan Ekaristi : Hag. 1:1-8; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk. 9:7-9.

Jangan takut “berbicara kebenaran tentang kehidupan kita”, dengan mengenali dosa-dosa kita dan mengakuinya kepada Tuhan. Itulah pesan homili Paus Fransiskus pada Misa harian Kamis pagi 28 September 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan.

Bapa Suci merenungkan Bacaan Injil liturgi hari itu (Luk. 9:7-9) tentang tanggapan Herodes terhadap pewartaan Yesus. Beliau mencatat bahwa beberapa orang mengaitkan Yesus dengan Yohanes Pembaptis, Elia, atau seorang nabi. Herodes, beliau mengatakan, tidak tahu harus berpikir apa tentang Yesus, tetapi “ia merasakan” sesuatu di dalam batinnya. Ini bukan sekadar keingintahuan, kata Paus Fransiskus, tetapi “penyesalan dalam jiwa dan hatinya”. Herodes berusaha menemui Yesus “untuk menenangkan dirinya”.

Bapa Suci mengatakan bahwa Herodes ingin melihat Kristus melakukan sebuah mukjizat, tetapi Yesus menolak untuk mengadakan “sebuah sirkus di hadapannya”, maka Herodes menyerahkannya kepada Pontius Pilatus. Dan Yesus membayar penolakannya dengan nyawa-Nya.

Dengan melakukan hal itu, kata Paus Fransiskus, Herodes menyelubungi “satu kejahatan dengan kejahatan lainnya” dan “satu penyesalan hati nurani dengan kejahatan lainnya”, seperti “orang yang membunuh karena takut”. Oleh karena itu, penyesalan, beliau mengatakan, tidak “hanya mengingat sesuatu” tetapi “sebuah luka yang menganga”.

“Penyesalan adalah sebuah luka yang menganga, yang, ketika kita telah melakukan sesuatu yang salah dalam kehidupan kita, menyakiti kita. Tetapi penyesalan adalah sebuah luka yang tersembunyi, yang tak terlihat bahkan oleh saya, karena saya terbiasa membawanya dan membiusnya. Penyesalan ada di sana dan beberapa orang menjamahnya, tetapi penyesalan tetap di dalam batin. Ketika penyesalan melukai, kita merasa menyesal. Saya tidak hanya sadar telah melakukan kejahatan, tetapi saya juga merasakannya di dalam tubuh saya, di dalam jiwa saya, dan di dalam kehidupan saya. Jadi saya merasakan godaan untuk menutupinya dan tidak merasakannya lagi”.

Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengatakan bahwa “rahmat untuk merasakan hati nurani kita mempersalahkan kita”. Tetapi, beliau mengatakan bahwa tak seorang pun dari kita adalah orang kudus, jadi kita semua tergoda untuk memperhatikan dosa-dosa orang lain, bukan dosa-dosa kita sendiri.

“Kita harus, jika saya boleh mengatakannya, ‘membaptis’ luka yang menganga ini, yakni, memberikannya sebuah nama … Dan jika kalian bertanya, ‘Bapa, bagaimana saya bisa menghilangkannya?’ Pertama-tama, berdoalah : ‘Tuhan, kasihanilah aku, orang berdosa’. Dan kemudian periksa kehidupan kalian … Dan mintalah seseorang untuk membantu kalian mengenali luka tersebut dan memberikannya sebuah nama, dengan mengatakan ‘saya merasa menyesal karena saya melakukan tindakan nyata ini’. Inilah kerendahan hati yang sejati di hadapan Allah”.

Paus Fransiskus mengatakan tindakan mewujudnyatakan dengan penyesalan ini diperlukan untuk penyembuhan. “Kita harus mempelajari ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan mempersalahkan diri kita … Saya mempersalahkan diri saya sendiri, merasakan penderitaan yang disebabkan oleh luka tersebut, mempelajari dari mana asalnya penyesalan, dan kemudian mempersalahkan diri saya sendiri berkenaan hal itu. Jangan takut akan penyesalan, karena penyesalan adalah tanda keselamatan”.

Akhirnya, Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk berdoa bagi rahmat “memiliki keberanian untuk mempersalahkan diri kita”, guna melakukan perjalanan sepanjang jalan menuju keselamatan.

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s