Homili Paus Fransiskus dalam Misa Satu Abad Berdirinya Kongregasi untuk Gereja-gereja Timur di Basilika Santa Maria Maggiore (Roma) 12 Oktober 2017

Bacaan Ekaristi : Mal 3:13-20a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 11:5-13.

Hari ini kita bersyukur kepada Tuhan atas berdirinya Kongregasi untuk Gereja-gereja Timur dan Institut Kepausan Asia Timur, karya Paus Benediktus XV seratus tahun yang lalu, pada tahun 1917. Perang Dunia Pertama sedang mengamuk pada saat itu; hari ini, seperti telah saya katakan, kita sedang hidup dalam perang dunia lainnya, jika sedikit demi sedikit. Dan kita melihat banyak saudara dan saudari kristiani kita di Gereja-gereja Asia Timur yang mengalami penganiayaan-penganiayaan dramatis dan sebuah diaspora yang semakin meresahkan. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan, banyak “mengapa”, yang mirip dengan Bacaan Pertama hari ini, dari kitab Maleakhi (3:13-20a).

Tuhan meratapi umat-Nya dan bersabda : “Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: ‘Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?’ Kamu berkata: ‘Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam? Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allah pun, mereka luput juga'” (ayat 13-15).

Berapa kali kita juga memiliki pengalaman ini, dan seberapa sering kita mendengarnya dalam kepercayaan dan pengakuan orang-orang yang membuka hati mereka kepada kita. Kita melihat orang-orang jahat, orang-orang yang secara tidak bermoral melayani kepentingan-kepentingan mereka sendiri, menghancurkan orang lain, dan tampak semuanya berjalan baik bagi mereka; mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dan hanya memikirkan menikmati hidup. Dari sini muncul pertanyaan, “Mengapa, Tuhan?”.

“Mengapa-mengapa” ini, yang juga terulang dalam Kitab Suci, kita semua tanyakan. Dan terhadap hal tersebut, Sabda Allah yang sama menjawab. Tepatnya dalam perikop dari nabi Maleakhi ini kita membaca, “Tuhan memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan Tuhan dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya” (ayat 16). Jadi, Allah tidak melupakan anak-anak-Nya, ingatan-Nya adalah untuk orang-orang benar, bagi mereka yang menderita, yang tertindas dan yang bertanya kepada diri mereka sendiri, “Mengapa?”, tetapi jangan berhenti untuk mengungkapkan isi hati kepada Tuhan.

Seberapa sering Perawan Maria, di sepanjang jalannya, bertanya pada dirinya sendiri, “Mengapa?”; tetapi di dalam hatinya, yang merenungkan segalanya, rahmat Allah menjadikan iman dan pengharapan bersinar. Dan ada sebuah jalan untuk masuk ke dalam ingatan Allah : doa kita, seperti yang diajarkan dalam perikop Injil yang telah kita dengar (bdk. Luk 11:5-13).

Ketika kita berdoa, dibutuhkan keberanian iman : percaya bahwa Tuhan mendengarkan kita, keberanian untuk mengetuk pintu. Tuhan bersabda : “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (ayat 10). Dan hal ini membutuhkan keberanian.

Tetapi, saya bertanya-tanya, apakah doa kita benar-benar seperti ini? Apakah doa benar-benar melibatkan diri kita, apakah doa melibatkan hati kita dan kehidupan kita? Apakah kita tahu bagaimana mengetuk hati Allah? Di akhir perikop Injil (bdk. ayat 11-13), Yesus bersabda : Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! … Dan kita mengharapkannya berlanjut, dengan mengatakan : Ia akan memberikan hal-hal yang baik kepadamu. Sebaliknya tidak, Ia tidak mengatakan ini! Ia bersabda : Roh Kudus akan memberi kepada orang-orang yang meminta kepada-Nya. Justru inilah karunia, inilah “tambahan” yang Allah berikan. Tambahan yang Tuhan, Bapa berikan, adalah Roh Kudus : inilah karunia Bapa yang sesungguhnya. Manusia mengetuk dengan doa di pintu Allah untuk memohonkan rahmat. Dan Ia, yakni Bapa, memberikan saya hal itu, dan lebih lagi : karunia, Roh Kudus.

Saudara dan saudari, mari kita belajar mengetuk hati Allah! Dan marilah kita belajar melakukannya dengan berani. Semoga doa yang berani ini juga mengilhami dan memelihara pelayananmu dalam Gereja. Dengan cara ini usahamu akan menghasilkan “buah pada musimnya” dan kamu akan menjadi seperti pohon yang “daunnya tidak layu” (bdk. Mzm 1:3).

 

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s