Orang-orang Kudus Menunjukkan Kepada Kita Bagaimana Mengatakan “YA” Terhadap Kasih Allah

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KANONISASI 35 ORANG KUDUS BARU 15 Oktober 2017 :

Bacaan Ekaristi : Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Flp. 4:12-14,19-20; Mat. 22:1-14.

Perumpamaan yang baru saja kita dengar menggambarkan Kerajaan Allah sebagai pesta perkawinan (bdk. Mat 22:1-14). Tokoh utamanya adalah putra raja, mempelai laki-laki, yang di dalamnya kita dapat dengan mudah melihat Yesus. Perumpamaan tersebut tidak menyebutkan tentang mempelai wanita, tetapi hanya para tamu yang diundang dan diharapkan, dan mereka yang mengenakan pakaian pesta perkawinan. Kita adalah tamu-tamu itu, karena Tuhan ingin “merayakan perkawinan” bersama kita. Perkawinan tersebut meresmikan persahabatan seumur hidup, persekutuan yang Allah ingin nikmati bersama kita semua. Oleh karena itu, hubungan kita dengan Dia harus lebih dari sekedar hubungan bakti kawula dengan raja mereka, para hamba yang setia dengan tuan mereka, atau murid-murid yang berbakti dengan guru mereka. Hubungan tersebut terutama merupakan hubungan mempelai wanita tercinta dengan mempelai prianya. Dengan kata lain, Tuhan menginginkan kita, Ia pergi mencari kita dan Ia mengundang kita. Bagi-Nya, tidaklah cukup kita seharusnya melakukan tugas kita dan mematuhi hukum-hukum-Nya. Ia menginginkan sebuah persekutuan kehidupan yang sejati dengan kita, sebuah hubungan yang berdasarkan dialog, kepercayaan dan pengampunan.

Begitulah kehidupan umat kristiani, sebuah kisah cinta dengan Allah. Tuhan secara bebas mengambil prakarsa dan tidak ada seorang pun yang bisa mengaku sebagai satu-satunya orang yang diundang. Tidak ada seorang pun yang memiliki tempat duduk yang lebih baik daripada orang lain, karena semua orang menikmati kemurahan Allah. Kehidupan kristiani selalu terlahir dan terlahir kembali dari cinta yang lembut, khusus dan istimewa ini. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri setidaknya sekali sehari kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mencintai-Nya; jika kita mengingat, di antara semua hal lainnya, kita katakan, katakan kepada-Nya setiap hari, “Tuhan, aku mengasihi-Mu; Engkaulah hidupku”. Karena sekali cinta hilang, kehidupan kristiani menjadi hampa. Kehidupan tersebut menjadi tubuh tanpa jiwa, etika yang tidak mungkin, kumpulan peraturan dan hukum untuk dipatuhi tanpa alasan yang layak. Allah kehidupan, bagaimanapun, menunggu tanggapan hidup. Tuhan kasih menanti tanggapan kasih. Berbicara kepada salah satu Gereja dalam Kitab Wahyu, Allah membuat sebuah celaan yang gamblang : “Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Why 2:4). Inilah bahayanya – kehidupan kristiani yang menjadi rutinitas, puas dengan “kelumrahan”, tanpa dorongan atau antusiasme, dan dengan ingatan yang singkat. Sebagai gantinya, marilah kita mengipasi api kenangan kasih kita yang semula. Kita adalah yang orang-orang terkasih, para tamu di pesta perkawinan, dan kehidupan kita adalah sebuah karunia, karena setiap hari merupakan kesempatan yang luar biasa untuk menanggapi undangan Allah.

Tetapi, Injil memperingatkan kita bahwa undangan tersebut dapat ditolak. Banyak tamu undangan mengatakan tidak, karena mereka terjebak dalam urusan-urusan mereka sendiri. “Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya” (Mat 22:5). Masing-masing orang mengkhawatirkan urusan-urusannya sendiri; inilah kunci untuk memahami mengapa mereka menolak undangan tersebut. Para tamu tidak memikirkan bahwa pesta perkawinan akan menjemukan atau membosankan; mereka hanya “memperjelasnya”. Mereka terjebak dalam urusan-urusan mereka sendiri. Mereka lebih tertarik untuk memiliki sesuatu daripada mempertaruhkan sesuatu, seperti tuntutan-tuntutan kasih. Beginilah cara kasih tumbuh dingin, bukan karena kedengkian tetapi karena keinginan kita sendiri: keamanan kita, penegasan diri kita, kenyamanan kita … Kita tinggal di dalam kursi keuntungan, kesenangan, atau hobi yang membawakan kita beberapa kebahagiaan. Dan kita akhirnya penuaan parah dan cepat, karena kita tumbuh tua di dalam. Ketika hati kita tidak berkembang, hati tersebut menjadi tertutup dalam dirinya sendiri. Ketika semuanya tergantung pada saya – pada apa yang saya sukai, pada apa yang paling sesuai untuk saya, pada apa yang saya inginkan – maka saya menjadi kasar dan keras hati. Saya menyerang orang-orang tanpa alasan, seperti para tamu dalam Injil, yang memperlakukan secara memalukan dan akhirnya membunuh (bdk. ayat 6) orang-orang yang diutus untuk menyampaikan undangan, hanya karena mereka mengganggu mereka.

Injil bertanya kepada kita, di mana kita berdiri: dengan diri kita atau dengan Tuhan? Karena Tuhan adalah kebalikan dari keegoisan, penyerapan diri. Injil mengatakan kepada kita bahwa, bahkan sebelum penolakan dan ketidakpedulian yang terus menerus pada pihak yang Ia undang, Allah tidak membatalkan pesta perkawinan. Ia tidak menyerah, tetapi memperluas undangan. Ketika Ia mendengar sebuah “tidak”, Ia tidak menutup pintu, tetapi memperluas undangan. Dalam menghadapi kesalahan-kesalahan, Ia menanggapi dengan kasih yang bahkan semakin besar. Ketika kita terluka oleh perlakuan orang-orang lain yang tidak adil atau penolakan mereka, kita sering menyimpan dendam dan kebencian. Allah di sisi lain, seraya terluka oleh “tidak” kita, mencoba lagi; Ia terus berbuat baik bahkan bagi mereka yang berbuat jahat. Karena inilah apa itu kasih. Karena inilah satu-satunya cara agar kejahatan dikalahkan. Hari ini, Allah kita, yang tidak pernah meninggalkan pengharapan, mengatakan kepada kita untuk berbuat apa yang Ia perbuat, hidup dalam kasih sejati, mengatasi sikap terima nasib dan tingkah laku menjengkelkan dan kemalasan diri kita.

Ada satu gagasan terakhir yang ditekankan oleh Injil : pakaian wajib para tamu yang diundang. Tidak cukup hanya menanggapi undangan segera sesudahnya, hanya mengatakan “ya” dan kemudian tidak berbuat apa-apa. Hari demi hari, kita harus mengenakan pakaian perkawinan, “kebiasaan” mengamalkan kasih. Kita tidak bisa mengatakan, “Tuhan, Tuhan”, tanpa mengalami dan mengamalkan kehendak Allah (bdk. Mat 7:21). Kita perlu mengenakan kasih Allah dan memperbaharui pilihan kita bagi-Nya setiap hari. Orang-orang kudus yang dikanonisasi hari ini, dan terutama banyak martir, menunjukkan cara tersebut. Mereka tidak mengatakan “ya” yang sekejab untuk mengasihi; mereka mengatakan “ya” mereka dengan kehidupan mereka dan sampai kesudahan!. Jubah yang mereka kenakan sehari-hari adalah kasih Yesus, kasih yang “gila” yang mengasihi kita sampai kesudahan dan menawarkan pengampunan-Nya dan jubah-Nya kepada orang-orang yang menyalibkan-Nya. Pada saat baptisan kita menerima jubah putih, pakaian perkawinan untuk Allah. Marilah kita memohon kepada-Nya, melalui perantaraan para kudus, saudara dan saudari kita, karena rahmat memutuskan setiap hari mengenakan pakaian ini dan menjaganya agar tetap bersih. Bagaimana kita bisa melakukan hal ini? Terutama, dengan mendekati Tuhan tanpa rasa takut untuk menerima pengampunan-Nya. Inilah satu langkah yang berarti, karena memasuki aula perkawinan untuk merayakan bersama dengan-Nya pesta kasih.

______

NB : Orang-orang kudus yang dikanonisasi oleh Paus Fransiskus adalah :

■ 30 orang martir asal Brasil (Beato Andre de Soveral, seorang imam Yesuit; Beato Ambrosio Francisco Ferro, seorang imam diosesan; Beato Mateus Moreira, seorang awam; dan 27 orang awam lainnya) yang terbunuh pada tahun 1645 dalam sebuah gelombang penganiayaan anti-Katolik yang dilakukan oleh Kalvinis Belanda di Natal, Brasil. Mereka dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 5 Maret 2000.

■ 3 orang martir kanak-kanak asal Tlaxcala, Meksiko (Beato Cristobal, Beato Antonio dan Beato Juan yang berusia antara 12 sampai 13 tahun, dan merupakan penduduk pribumi pertama di Meksiko yang bertobat) yang terbunuh antara tahun 1527 dan 1529 karena menolak untuk meninggalkan iman dan kembali ke tradisi nenek moyang mereka. Mereka dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 6 Mei 1990.

■ Beato Angelo dari Acri, seorang imam Kapusin Italia yang terlahir dengan nama Luca Antonio Falcone dan meninggal pada tahun 1739 dan telah dibeatifikasi oleh Paus Leo XII pada tahun 1825. Ia merupakan seorang pengkhotbah terkenal, yang mewartakan kabar baik Injil dengan cara yang sederhana dan nyata dan tidak hanya dengan mengucapkan kata-kata. Ia juga dikenal karena pembelaannya terhadap kaum miskin dan tahu bagaimana mengangkat suara melawan penguasa waktu itu

■ Beato Faustino Miguez, seorang imam Spanyol dan seorang anggota Bapa-bapa Piaris yang lahir pada tahun 1831. Ia mendirikan sebuah sekolah lanjutan untuk anak perempuan pada saat pendidikan semacam itu terbatas hampir secara eksklusif untuk anak laki-laki.

 

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s