Karunia Keselamatan Allah Membukakan Pintu Untuk Semua Orang

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 19 Oktober 2017 :

Bacaan Ekaristi : Rm. 3:21-30; Mzm. 130:1-2,3-4b,4c-6; Luk. 11:47-54

Tuhan memberi kita kenangan akan keselamatan Allah yang merupakan suatu “karunia” dan dekat dengan terwujudnya karya-karya kerahiman yang Ia inginkan kita lakukan, entah karya kerahiman “jasmani atau rohani” : maka kita akan menjadi orang-orang yang membantu “membukakan pintu” untuk diri kita dan orang lain. Itulah doa Paus Fransiskus pada Misa harian Kamis pagi 19 Oktober 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan. Mengingat perikop Injil Lukas yang menceritakan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menganggap diri mereka benar, dan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa hanya Allah yang benar, Paus Fransiskus menjelaskan mengapa para praktisi hukum telah “mengangkut pengetahuan” dengan “konsekuensi tidak dapat masuk Kerajaan Surga atau membiarkan orang lain memasukinya”.

“Hal ini membawa kita memahami pewahyuan Allah, memahami hati Allah, memahami keselamatan Allah – kunci pemahaman – kita dapat mengatakan bahwa kunci pemahaman tersebut sangat terabaikan. Kita melupakan kebebasan keselamatan; melupakan kedekatan Allah dan melupakan kerahiman Allah. Dan orang-orang yang melupakan karunia keselamatan, kedekatan Allah, dan kerahiman Allah, telah mengangkut kunci pemahaman”.

Oleh karena itu, karunia ini “terlupakan”. Karunia ini adalah prakarsa Allah untuk menyelamatkan kita dan sebagai gantinya berdiri di sisi hukum” : Keselamatan – Paus Fransiskus mengatakan – “ada di sana untuk mereka”, oleh karena itu tiba dalam “sekumpulan resep” yang pada kenyataannya menjadi keselamatan. Jadi, “mereka tidak menerima kuasa kebenaran Allah”. Hukum, bagaimanapun, selalu merupakan “jawaban atas kasih Allah yang berlimpah”, yang telah mengambil “prakarsa” untuk menyelamatkan kita. Dan, Paus Fransiskus melanjutkan, “ketika kalian melupakan karunia keselamatan kalian kandas, kalian kehilangan kunci kecerdasan dari sejarah keselamatan”, kehilangan “rasa kedekatan Allah”:

“Bagi mereka, Allahlah yang telah membuat hukum. Tetapi ini bukan Allah pewahyuan. Allah pewahyuan adalah Allah yang telah mulai berjalan bersama kita dari Abraham hingga Yesus Kristus, Allah berjalan bersama umat-Nya. Dan ketika kalian kehilangan hubungan dekat dengan Tuhan ini, kalian jatuh ke dalam pola pikir yang bodoh ini yang mempercayai kecukupan diri akan keselamatan dengan pemenuhan hukum Taurat. Kedekatan Allah”.

Ketika tidak ada kedekatan Allah, ketika tidak ada doa, Paus Fransiskus menekankan “doktrin tidak dapat diajarkan” dan bahkan dengan “mempelajari teologi”, apalagi “teologi moral” : Paus Fransiskus mengulangi bahwa teologi “berlutut, selalu dekat dengan Allah”. Dan kedekatan Tuhan datang “hingga titik tertinggi Yesus Kristus yang tersalib”, “dibenarkan” karena darah Kristus, seperti yang dikatakan Santo Paulus. Karena alasan ini, Paus Fransiskus menjelaskan, karya-karya kerahiman “adalah batu penggenapan hukum Taurat”, karena karya-karya kerahiman tersebut menjamah daging Kristus, “menjamah penderitaan Kristus dalam seseorang, baik secara jasmani maupun rohani”. Juga, ketika kunci untuk memahami hilang, kita juga menjadi “buruk”. Paus Fransiskus akhirnya mencatat “tanggung jawab” para gembala, sekarang dalam Gereja berkomentar bahwa ketika mereka kehilangan atau mengangkut “kunci kecerdasan”, mereka menutup “pintu pada diri mereka sendiri dan pada orang lain” :

Di negara saya, kata Paus Fransiskus, “saya telah mendengar beberapa kali pastor paroki yang tidak membaptis anak-anak dari para ibu karena mereka tidak dilahirkan dalam perkawinan yang sesuai hukum Gereja. Mereka menutup pintu, mengapa? Karena hati para pastor paroki ini telah kehilangan kunci pemahaman.

Tiga bulan yang lalu, di sebuah negara, di sebuah kota, seorang ibu ingin membaptis anak laki-lakinya yang baru lahir, namun ia menikah secara sipil dengan seorang duda. Sang imam berkata, ‘Ya, ya. Baptislah bayimu. Tetapi suamimu sudah bercerai. Jadi ia tidak bisa hadir pada upacara tersebut’. Hal ini sedang terjadi hari ini. Orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat bukanlah orang-orang di masa lalu, bahkan sampai hari ini banyak orang Farisi dan ahli Taurat. Itulah sebabnya kita membutuhkan doa untuk para gembala kita. Berdoalah agar kita tidak kehilangan kunci pengetahuan dan tidak menutup pintu bagi diri kita dan orang-orang yang ingin memasukinya”.

 

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id/)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s