Berhala Uang Menyebabkan Banyak Hal Buruk

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 23 Oktober 2017 :

Bacaan Ekaristi : Rm. 4:20-25; MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 12:13-21.

Di masa-masa ini, dengan banyak malapetaka dan ketidakadilan di media, terutama mengenai anak-anak, marilah kita memanjatkan doa yang sungguh-sungguh agar Allah mengubah hati manusia untuk dapat mengenal Tuhan dan tidak menyembah uang sebagai Allah. Inilah desakan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi, 23 Oktober 2017, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan.

Mengacu pada Bacaan Injil (Luk 12:13-21) yang berisi perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh, yang menyembah uang sebagai Allah, Paus Fransiskus mengulas tentang kesombongan mempercayai barang-barang duniawi dan bukan pada harta yang sesungguhnya yaitu hubungan dengan Tuhan. Meski panen melimpah, orang yang serakah itu berpikir untuk memperluas lumbung-lumbungnya. “Mengidamkan kehidupan yang panjang”, kata Paus Fransiskus, “ia berpikir untuk memiliki lebih banyak barang sampai pada titik muak, dan tidak merasa puas, ia masuk ke dalam sebuah jalinan “konsumerisme yang menjengkelkan”.

Paus Fransiskus berkata, “Allahlah yang membatasi keterikatan akan uang ini”. Manusia yang diperbudak oleh uang bukanlah sebuah kisah yang diciptakan oleh Yesus, Paus Fransiskus menjelaskan, dan menambahkan bahwa memang benar bahkan sampai hari ini, di mana banyak orang hidup menyembah uang. Kehidupan orang-orang yang mengumpulkan kekayaan untuk dirinya sendiri, tidak memiliki arti, beliau berkata. Mereka tidak tahu apa artinya kaya di dalam Allah. Dalam hal ini, beliau teringat akan sebuah kisah tentang seorang pengusaha kaya di Argentina yang meski sakit parah, dengan bersikeras ingin membeli sebuah vila tanpa berpikir bahwa ia harus segera hadir di hadapan Allah.

Bahkan saat ini, ada orang-orang yang haus akan uang dan harta benda duniawi ini, Paus mengeluh, orang-orang yang memiliki “banyak harta” dibandingkan dengan “anak-anak yang kelaparan yang kekurangan obat-obatan dan pendidikan serta yang terlantar”. Hal ini, Paus Fransiskus menunjukkan, adalah “sebuah penyembahan berhala yang membunuh”, yang “mengorbankan umat manusia”. “Penyembahan berhala ini membuat banyak orang mati kelaparan”, Paus Fransiskus menekankan, mengutip kasus 200.000 anak Rohingya dari 800.000 orang di kamp pengungsian, yang hampir-hampir tidak makan dan kekurangan gizi, tanpa obat-obatan. Hal ini sedang terjadi hari ini, kata Paus Fransiskus, dan bukan sesuatu dari zaman Yesus. Dalam menghadapi hal ini, Paus Fransiskus mendesak untuk berdoa dengan sungguh-sungguh : “Tuhan, tolong jamah hati orang-orang yang menyembah Allah, Allah uang ini. Jamah juga hatiku agar aku tidak jatuh ke dalam hal itu dan tahu bagaimana cara melihatnya”.

Akibat lain dari keserakahan ini, Paus Fransiskus menunjukkan, adalah peperangan, termasuk juga dalam keluarga. Beliau berbicara tentang apa yang terjadi dalam keluarga saat mempertanyakan warisan. Keluarga-keluarga terbagi dan berakhir dengan kebencian, satu orang berbantah dengan yang lain. Paus Fransiskus mengatakan bahwa pada akhir itu semua, Tuhan dengan lembut mengingatkan kita bahwa satu-satunya jalan untuk memperkaya diri ada di dalam Tuhan. “Kekayaan hanya ada di dalam Allah”, kata Paus Fransiskus, menambahkan, ini tidak berarti memandang rendah uang. “Tidak”, beliau berkata, “itu adalah keserakahan, seperti yang Allah katakan. Hidup yang melekat pada Allah uang”. Inilah sebabnya, Paus Fransiskus berkata, doa kita harus kuat, mencari di dalam Allah landasan yang kokoh dari keberadaan kita.

 

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s