Tidak Ada Orang Kristiani Yang Menggampangkan

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 26 Oktober 2017 :

Bacaan Ekaristi : Rm. 6:19-23; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 12:49-53.

“Yesus memanggil kita untuk mengubah hidup kita, untuk mengubah jalan, memanggil kita untuk bertobat”. Dan hal ini berarti berperang melawan kejahatan, bahkan di dalam hati kita sendiri, “sebuah perjuangan yang tidak memberi kalian kemudahan, tetapi memberi kalian kedamaian”, pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 26 Oktober 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan. Diilhami oleh Injil hari itu (Luk 12:49-53), Paus Fransiskus menjelaskan bahwa inilah “api” yang dilemparkan Yesus ke bumi – sebuah api, beliau mengatakan, yang menyerukan perubahan:

“Mengubah cara berpikir kita, mengubah cara kita merasakan. Hati kalian, yang bersifat duniawi, kafir, sekarang menjadi kristiani dengan kekuatan Kristus : berubah, inilah pertobatan. Dan mengubah cara bertindak kalian : karya-karya kalian harus berubah”.

Pertobatanlah, beliau melanjutkan, yang “melibatkan segalanya, tubuh dan jiwa, segalanya”, Paus Fransiskus menekankan. “Pertobatan adalah sebuah perubahan, tetapi pertobatan bukan sebuah perubahan yang dibuat dengan riasan. Pertobatan adalah sebuah perubahan yang dibuat oleh Roh Kudus, di dalam batin. Dan saya harus membuatnya menjadi milik saya sehingga Roh Kudus dapat bertindak. Dan ini berarti sebuah pertempuran, perjuangan!”.

“Tidak ada orang kristiani yang menggampangkan, yang tidak berjuang”, Paus Fransiskus menambahkan. “Mereka bukan orang-orang kristiani, mereka suam-suam kuku”. Ketenangan yang diperlukan untuk tidur dapat ditemukan “bahkan dengan sebuah pil”, beliau mengatakan, “tetapi tidak ada pil” untuk kedamaian batin. “Hanya Roh Kudus”, yang dapat memberi “kedamaian jiwa yang memberi kekuatan kepada orang-orang kristiani”. Dan, beliau berkata, “Kita harus membantu Roh Kudus”, dengan “memberi ruang di dalam hati kita”. Pemeriksaan harian hati nurani “bisa membantu kita dalam hal ini”, kata Paus Fransiskus. Pemeriksaan hati nurani tersebut dapat membantu kita “untuk melawan penyakit yang ditabur musuh”, yang beliau sebut “penyakit keduniawian”.

“Perjuangan yang dilakukan Yesus untuk melawan Iblis, melawan kejahatan, bukanlah sesuatu yang kuno, perjuangan tersebut adalah hal yang modern, hal hari ini, sepanjang hari”, kata Paus Fransiskus, karena “api yang telah didatangkan Yesus membawa kita berada di dalam hati kita. “Jadi kita harus membiarkan-Nya masuk, dan harus” bertanya kepada diri kita sendiri, setiap hari : bagaimana saya telah beralih dari duniawi, dari dosa, menjadi kasih karunia? Sudahkah aku memberi ruang untuk Roh Kudus, supaya Ia dapat bertindak?”

“Kesulitan-kesulitan dalam hidup kita tidak terselesaikan dengan menyiramkan kebenaran. Kebenaran adalah ini : Yesus telah membawa api, dan pergumulan. Apa yang akan aku lakukan?”

Untuk pertobatan, Paus Fransiskus mengakhiri, “hati yang dermawan dan setia” dibutuhkan : “kemurahan hati yang selalu berasal dari kasih”, dan “setia, setia kepada Sabda Allah”.

 

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s