Panggilan: Kini Ada Suster Pink di BN-KKI

Jakarta, dokpenkwi.org – Anak muda zaman now pasti mengenal Blackpink, girlband K-Pop yang memiliki ciri khas berbusana unik, karismatik, nyentrik sekaligus mewah. Tak mau kalah dengan Blackpink, kantor KWI pun dikejutkan oleh hadirnya gadis berbaju pink dengan salib di dada kiri. Siapakah dia?

xDSC_2307-640x424.jpg.pagespeed.ic.yVIXzXcErf(Foto: Y. Indra/Dokpen KWI)

Wanita berbaju pink tersebut adalah Yohana Halimah, karyawati Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia (BN-KKI) yang berada di kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Ignatius I Nengah Naya (alm.) dan Maria Theresia Pramitari (alm.) ini mulai berkarya di BN KKI pada Agustus 2004. Sebelumnya, selama dua tahun ia menjadi karyawati Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar sepulang dari perutusannya untuk melanjutkan studi di Universitas Kepausan Urbaniana, Roma pada jurusan Misiologia (1999-2002).

Lalu kenapa ia berbaju pink? Hari Minggu lalu (12/8/2018) di Panti Semedi Sangkal Putung Klaten, bertepatan dengan peringatan Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga, Yohana Halimah telah mengikrarkan kaul prasetya sementara di dalam tarekat sekular Serikat Rosa Mistika (SRM).

Tuhan ini aku, terimalah aku

Panggilan menjadi anggota hidup bakti sudah tertanam dalam di hatinya sejak muda karena memang ia sudah memiliki keinginan ke arah sana. Benih-benih panggilan ini semakin bertumbuh subur ketika di Roma bertemu dengan Romo Mulyatno Pr.

“Bagi saya untuk menanggapi panggilan tidak sulit karena saya sudah berjanji untuk melayani bagi misi Gereja. Untuk misi Gereja saya akan mempersembahkan diri saya dengan sepenuh hati, dengan segala kekurangan dan kelebihan saya. Kalau Tuhan memang memanggil pasti Ia akan memberikan jalan bagi saya. Saya merasa bahwa saya telah dituntun tahap demi tahap untuk menjawab panggilan-Nya,” demikian ungkapnya.

Yohana mensharingkan bahwa dalam hidupnya hingga saat ini ini merasa mengalami tiga mukjizat yang merupakan misteri Allah.

Pertama, ketika saya diutus untuk melanjutkan studi ke Roma oleh almarhum Mgr. Benyamin Bria, padahal saya tidak bisa berbahasa Inggris dan Italia. Namun saya jalani saja perutuasan itu dengan sukacita. Kedua, pada saat saya bekerja di BN KKI di KWI ini. Ini juga merupakan perutusan bagi saya karena ini bukan kehendak saya pribadi. Saya tidak melamar di KKI, tetapi mendapatkan mandat dari Uskup saya, almarhum Mgr. Bria. Dengan segala pergumulan atas segala kekurangan saya, saya mencoba untuk terus belajar menjadi lebih baik di BN KKI. Mukjizat ketiga yang saya terima adalah bergabung sebagai anggota SRM ini,” demikian sharing katekis lulusan Castel Gandolfo, Roma ini.

Sebagai nama susternya Yohana memilih nama Yosephina berdasarkan inspirasi dari Padre de Bono, pendiri Komunitas Yohanes Paulus II di Italia. Nama ini memiliki arti bahwa Tuhan menggenapi, menambahkan.

“Saya pakai nama ini agar Tuhan sendiri menggenapi dan menambahkan apa yang kurang dari diri saya. Saya hanya bisa mengatakan ‘Tuhan ini aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku, terimalah aku. Aku akan berusaha menjadi lebih baik dan mulai menata diri agar aku bisa melanjutkan karya-Mu ini,’” harapnya dalam doa.

Tertarik bergabung dengan SRM karena ketidaktahuan

Selanjutnya, Yohana menyampaikan tentang ketertarikannya menjadi suster SRM. Menurutnya, SRM dipilih karena ia tidak mengenal SRM.

“Justru itulah yang membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang tarekat sekular ini dan akhirnya membuat saya jatuh cinta kepadanya,” ungkapnya dengan jujur.

Selain itu, Romo Mulyatno Pr, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang menjadi pendamping retret suster-suster SRM, juga menjadi titik tolaknya ini untuk bergabung dengan SRM karena dia mengatakan bahwa Yohana cocok masuk SRM karena untuk bergabung dengan tarekat sekular ini syaratnya antara lain harus memiliki pekerjaan tetap dan bisa menghidupi diri sendiri.

air berkat sambutan(Foto :Adrian S. / BN-KKI)

Sosok lain yang menginspirasi adalah Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta, Romo Samuel Pangestu yang memiliki hati untuk melayani para suster SRM yang hanya berjumlah empat orang di KAJ. Menurut Romo Samuel para anggota hidup bakti seperti para suster SRM inilah yang harus lebih diperhatikan karena mereka tidak memiliki biara dan harus menghidupi dirinya sendiri. Sementara para biarawan-biarawati sudah tercukupi dalam biara mereka, para anggota tarekat sekular tidak memiliki tempat, biara ada di dalam hati anggotanya.

Baju pink sebagai sarana kesaksian dan pewartaan

Sementara itu, jubah atau baju warna pink yang menjadi identitas SRM diharapkan bisa menjadi sarana kesaksian atau pewartaan.

“Dengan seragam pink ini saya bisa menunjukkan dan memberi kesaksian tentang keberadaan SRM. Dengan seragam pink ini saya juga berharap bisa menarik banyak teman perempuan yang masih ragu akan panggilan hidupnya atau anak-anak perempuan untuk menjadi biarawati,” jelas Yohana.

Yohana juga memilih untuk tidak berkerudung karena di dalam tarekat sekular kerudung tidak menjadi suatu keharusan. Selain itu, dengan tanpa mengenakan kerudung ia merasa lebih leluasa untuk melayani dan bergerak di antara umat beragama lain.

Proficiat Suster “Pink” Yohana Halimah SRM. Tuhan memberkati seluruh hidup, karya dan pelayananmu.

Harini B. (DokPen KWI)

Sumber: http://www.dokpenkwi.org/2018/08/15/di-kwi-kini-ada-suster-pink/
dengan penyesuaian judul.

 

(Tambahan)

Testimoni dari Salah Seorang Teman

Salah seorang rekan sekerja Sr. Yohana yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, bahwa ia sangat bangga dan berbahagia dengan keputusan Sr. Yohana SRM dalam menanggapi panggilan hidupnya. “Saya sangat bangga dan berbahagia karena sekarang di sisi saya kini ada seorang teman baik yang merupakan rekan kerja sehari-hari, teman untuk berbagi cerita, sekaligus pembimbing rohani yang baik dalam hidup saya.” Menurutnya, ini adalah sebuah jawaban panggilan murni dari Sr. Yohana dalam tarekat SRM yang justru selama ini seringkali dipandang “miring” oleh sebagian pihak. Kenyataan memang menyatakan bahwa tarekat SRM tidak tinggal di biara khusus, namun biara suster-suster SRM berada di dalam ketulusan hati mereka masing-masing. “Suster Yohana hadir untuk meluruskan pandangan-pandangan tersebut, ia menyerahkan dirinya dalam tarekat ini dalam kondisi yang murni dan tanpa tekanan dari manapun, dan dalam kehidupan tarekat ini kedepannya, ia akan terus berkarya dalam berbagai hal dan membuat dampak baik bagi banyak orang dimanapun ia berada,” ungkap seorang rekannya tersebut.

Adrian S. (BN-KKI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s