Menyambut Hari Anak Misioner Sedunia 2019

“BINTANG MISIONER PANCARKAN SINARMU!”

Pada perayaan Epifani, Gereja kembali merenungkan perayaan misteri kelahiran Yesus Sang Penebus. Kelahiran Yesus Putra Allah bukan hanya untuk umat Israel, tapi juga untuk seluruh umat manusia.  

Missio KKI edisi ini mengambil pesan Paus Fransiskus pada waktu Angelus, 6 Januari 2018 di Lapangan St. Petrus, Roma-Italia.  Ucapan selamat juga disampaikan oleh Bapa Suci kepada anak dan remaja misioner yang merayakannya. 

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Epifani, penampakan Tuhan. Injil Matius menyajikan tiga sikap dari tokoh-tokoh dalam menyambut kedatangan Tuhan Yesus Kristus dalam manifestasinya kepada dunia. Yakni: (1) sikap teliti dan bijak;  (2) sikap tidak peduli; dan (3) rasa takut dan curiga.

Sikap Teliti dan Bijak

Dalam Injil Matius, kita mendengar bahwa datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur, dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Para Majus berusaha dan tidak ragu untuk menemukan Sang Mesias yang baru dilahirkan itu.

Para Majus melakukan perjalanan panjang. Mereka mencari tahu di mana Raja yang baru lahir dapat ditemukan. Dengan  teliti dan bijak, mereka pun mulai bertanya-tanya di manakah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Ketidaktahuannya tidak membuat mereka putus asa. Namun dengan penuh iman, mereka mencari. Mereka bertanya agar mereka bisa menemukan Mesias, Sang Juruselamat. Ketika mereka menemukan Mesias, ada sukacita lalu mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.

Sikap Tidak Peduli

Para imam dan para ahli Taurat adalah orang yang tahu benar tentang isi Kitab Suci. “Apa buktinya, mereka tahu di mana Mesias dilahirkan?” Ketika Herodes bertanya kepada para imam dan ahli Taurat mereka memberikan jawaban yang benar katanya, “Di Betlehem di Yudea,  karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi… (bdk. Mat 2:5).

Mereka pun tahu di mana Raja orang Yahudi dilahirkan. Namun, mereka diam dan seakan tidak peduli dengan kedatangan Sang Mesias. Mengapa para imam dan ahli Taurat bersikap demikian? Ini semua disebabkan karena mereka merasa nyaman. Mereka tidak mau repot-repot pergi mengunjungi Mesias. Walaupun jarak mereka tidak jauh dan hanya beberapa kilometer saja, tapi mereka tidak peduli dan tak mau bergerak. Mereka sudah merasa nyaman.

Rasa Takut atau Curiga

Sikap ketiga yang terjadi pada diri Herodes, yaitu rasa takut dan curiga. Herodes mempunyai pikiran yang sangat negatif ketika mendengar tentang kelahiran Raja orang Yahudi. Herodes diam-diam memanggil orang-orang Majus. Ia menyuruh menyelidiki untuk memberikan informasi tentang Yesus kepadanya dengan alasan agar ia dapat menyembah-Nya. Namun, itu semua adalah sebuah kepalsuan. Sebenarnya Herodes takut dan mulai curiga kalau kekuasaannya jatuh pada Raja yang baru dilahirkan.

Kenyataannya, Herodes tidak mau pergi dan menyembah Yesus. Herodes ingin tahu di mana Anak itu berada. Bukan untuk memuja-Nya, tetapi untuk melenyapkan-Nya, karena dia menganggap-Nya sebagai saingan. Sikap Herodes takut dan curiga, dan hal ini mengarah pada kemunafikan yang ada dalam hatinya.

Sikap Mana yang Saya Pilih

Tiga sikap yang kita temukan dalam Injil Matius, yaitu: (1) sikap teliti dan bijaksana yang dilakukan oleh para Majus; (2)  ketidakpedulian oleh para imam dan ahli Taurat; dan (3) rasa takut dan curiga dari Herodes.  Tentu, kita dapat berpikir dan memilih : mana yang harus saya pilih dan mana yang harus saya lakukan? Apakah saya mempunyai semangat seperti para Majus, tekun dan bijak, dan tetap berusaha mencari Yesus? Atau saya diam saja, karena saya sudah tahu tentang Yesus? Atau saya merasa tersaingi dengan kehadiran Yesus?

Keegoisan dapat membuat seseorang berpikir, bahwa kehadiran Yesus dalam hidupnya bagaikan ancaman.  Kemudian kita mencoba untuk menekan atau membungkam pesan Yesus. Ketika kita mengikuti ambisi manusia yang kecenderungan kejahatan, Yesus dianggap sebagai hambatan.

Di sisi lain, godaan tidak peduli selalu ada. Kita tahu bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah lahir untuk kita, namun kita lebih senang dan nyaman dengan diri sendiri. Tidak mau ambil pusing, yang penting diriku nyaman. Itulah yang terjadi di zaman sekarang ini. Keegoisan lebih besar ada dalam diri kita. Hal ini dapat menimbulkan : haus akan kekuasaan, keangkuhan, dan main kuasa, seperti yang yang dilakukan oleh Herodes.

Sebaliknya, mari kita bergegas datang kepada-Nya. Kita dipanggil untuk  meneladani orang-orang Majus. Sebuah usaha yang dilakukan untuk mencari Yesus Sang Juruselamat. Dengan keyakinan, ketekunan, ketelitian, dan kebijaksanaan disertai kepekaan hati, mereka bergegas datang dan menyembah-Nya.

Jika kita memiliki sikap ini, Yesus benar-benar menyelamatkan kita, dan kita dapat menjalani kehidupan yang indah. Kita dapat bertumbuh dalam iman, harapan, cinta kepada Allah dan saudara-saudara kita.

Mari kita mohon doa melalui Maria Bunda Yesus,  bintang peziarahan dalam hidup ini. Dengan bantuan Maria ibu-Nya, semoga setiap orang mencapai Kristus, terang kebenaran, dan dunia maju di jalan keadilan dan kedamaian.

Saudara dan saudari terkasih,

Saya ucapkan kepada anak dan remaja misioner yang merayakan hari mereka. Saya mengundang para misionaris cilik untuk mencari dan menemukan Yesus. Yesus adalah pedoman hidup bagi kalian. Dan  dalam  diri Tuhan Yesus yang baru lahir, kalian dapat berhimpun untuk berdoa dan berbagi bersama dengan teman-teman yang membutuhkan.

www.vatican.va

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s