Mengemban Misi Cinta Allah

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Senin Pekan III Adven, 17 Desember 2018
Kej. 49:2,8-10; Mat. 1:1-17

Tuhan menyejarah. Bacaan Injil hari ini menampilkan silsilah “Yesus yang disebut Kristus.” Dengan silsilah tersebut, mau ditunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah Tuhan yang peduli dan menyejarah. Ia mencintai umat-Nya, peduli pada keselamatan umat-Nya. Oleh karena itu, Tuhan menyejarah, masuk dalam relung-relung kehidupan manusia. Ia bukanlah Tuhan yang mengawang-awang di angkasa jauh dari manusia, tetapi Ia adalah Tuhan yang menyusuri perjalanan sejarah hidup manusia dengan segala kerapuhannya. Allah menampakkan kepedulian dan cinta-Nya melalui Yesus, Putera-Nya, yang disebut Kristus. Ia menjadi manusia sehingga mengalami dan merasakan pahit getir, gembira sukacita, dan harapan hidup manusia. Dengan menjadi manusia, Allah menjalankan misi kasih-Nya. Ia menerima realitas hidup manusia apa adanya. Yang berbeda Ia terima dan hargai. Yang berdosa pun Ia rengkuh. Allah menyelamatkan semua orang dari generasi ke generasi.

Dari silsilah Tuhan Yesus, ada empat perempuan yang menarik untuk diperhatikan, yaitu Rahab, Rut, Tamar, dan Batsyeba. Rahab adalah perempuan Kanaan dan sundal. Rut adalah perempuan Moab. Kedua perempuan ini tidak termasuk kewargaan Israel. Artinya, bukan termasuk kelompok umat terpilih. Ini menunjukkan bahwa dalam Yesus, baik orang asing maupun pendatang diterima sebagai keluarga orang-orang kudus, orang-orang yang diselamatkan. Dua perempuan yang lain, Tamar dan Batsyeba istri Uria, dikenal sebagai perempuan yang berzinah. Mereka hadir pula dalam garis silsilah Yesus. Ini menandakan bahwa orang-orang berdosa pun masuk dalam hubungan paling dekat dengan Tuhan Yesus ketika mereka bertobat. Dalam Yesus yang disebut Kristus, Allah menghendaki semua keturunan diterima, dicintai dan diselamatkan.

Kita pun, para murid Kristus, dipanggil dan diutus mengemban misi cinta Allah ini. Tidak sepantasnya kita mencela orang dengan aib entah karena perbuatannya sendiri atau aib yang dilakukan leluhurnya. Bukan hak kita untuk menilai atau bahkan menghakimi orang lain. Yang Tuhan inginkan adalah pertobatan, pengampunan dan penerimaan sebagai orang-orang yang sama-sama dicintai Tuhan.

(RD. Markus Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s