Anak-Anak Bagian dari Misi Kita Bersama

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Jumat, 28 Desember 2018
Pesta Kanak-kanak Suci, Martir
1Yoh. 1:5 – 2:2; Mat. 2:13-18

Hari ini Gereja, kita bersama, merayakan pesta Kanak-kanak Suci para martir. Ada dua hal yang bisa direnungkan. Pertama, tentang kuasa kegelapan. Martir kanak-kanak suci yang diperingati hari ini adalah bayi-bayi berusia di bawah 2 tahun yang dibunuh karena amarah, kepanikan dan ketakutan Herodes. Herodes marah karena merasa diperdaya para majus. Ia panik dan takut karena mendengar bahwa telah lahir seorang bayi yang kelak akan menjadi raja diraja. Ia takut akan ditaklukan dan terpuruk. Karena marah, panik dan takut, ia menumpas semua bayi di Mesir.

Marah, panik dan takut adalah emosi-emosi negatif. Letupan emosi negatif tersebut bisa menjadi jalan strategis bagi kekuatan kegelapan atau kuasa jahat untuk memengaruhi manusia. Orang menjadi gelap hati, silap mata, bertindak khilaf. Ia dikuasai kekuatan gelap dan jahat, menjauh dari Allah yang adalah terang. Surat 1Yohanes, bacaan pertama misa hari ini, menyatakan “Allah adalah terang dan dalam Dia tidak ada kegelapan.” Maka, mereka yang jauh dari Tuhan akan mudah dikuasai daya kegelapan dan kejahatan. Bahkan, memandang (orang yang dekat) Tuhan sebagai musuh, penghambat dan pribadi yang harus dilawan.

Bagaimana aku menghadapi rasa marah, panik dan takut? Apakah aku membiarkan diri dikuasainya atau mengelolanya dan mengubahnya menjadi emosi-emosi positif sehingga tidak “mematikan” orang lain?

Kedua, tentang perlindungan anak. Akhir bacaan Injil dalam misa hari ini mengisahkan, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih. Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab anak-anaknya tidak ada lagi.” Sampai saat ini masih banyak Rahel-Rahel yang lain yang sedang menangis. Mereka menangisi anak-anaknya yang diperjualbelikan dalam arus human trafficking, yang mendapat pelecehan, yang dijadikan anak-anak perasan di jalanan sebagai pencopet atau pengemis, yang jadi korban narkoba. Tidak hanya yang kasat mata terang-terangan itu, penyingkiran atau peminggiran anak-anak bahkan bisa terjadi dalam laku keagamaan. Mereka tidak mendapat perlakuan yang adil sesuai tahap-tahap perkembangan imannya. Kadangkala anak-anak ini tidak mendapat prioritas utama dalam kebijakan pastoral. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap mereka sebagai penghalang karena berisik, ramai atau susah diatur.

Pesta Martir Kanak-kanak suci mengajak kita bersama untuk menghormati dan melindungi anak entah dalam keluarga, komunitas, gereja dan di tengah-tengah masyarakat. Kita diajak berziarah menuju Yesus Tuhan bersama anak. Bersama anak, kita menjalankan misi mewartakan sukacita Natal dengan Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian.*** (NW)

(RD.M. Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s