Paus Fransiskus menunjukkan jalan ke depan

Direktur Editorial Divisi Komunikasi dari Kuria Roma, Andrea Tornielli, menjelaskan bagaimana Surat Paus Fransiskus kepada para Uskup Amerika Serikat, menunjukkan arah bagi seluruh Gereja.

Surat yang dikirim Paus Fransiskus sebagai tanda kedekatan pribadinya dengan para Uskup Amerika, yang berkumpul dalam retret spiritual di Chicago, menawarkan kunci untuk memahami sudut pandangnya tentang krisis pelecehan, dengan sebuah pandangan juga mengenai pertemuan pada bulan Februari yang akan datang di Vatikan. Dalam pidatonya kepada Kuria Roma pada tanggal 21 Desember 2018, Paus mengekspresikan dirinya dalam banyak hal, dengan tekad dan cara yang kuat tentang masalah ini. Sekarang, dalam pesannya kepada para Uskup Amerika Serikat, dia tidak berkutat memeriksa fenomena penyalahgunaan kekuasaan, hati nurani dan seksualitas terhadap anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan, tetapi pergi ke akar masalah dengan menunjukkan jalan ke depan.

“Kredibilitas Gereja,” kata Paus, “telah secara serius dilemahkan dan dikurangi oleh dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan ini, tetapi bahkan lebih lagi dengan upaya yang dilakukan untuk menyangkal atau menyembunyikannya.” Tetapi inti dari Surat itu harus dicari dalam jawaban yang dia sarankan. Paus Fransiskus memperingatkan agar jangan terlalu percaya pada tindakan yang tampaknya “membantu, baik dan perlu,” dan bahkan “benar,” tetapi di mana, jika mereka cenderung untuk mengurangi respons (tanggapan) terhadap kejahatan hanya pada masalah organisasi, tidak memiliki “rasa Injil.”

Sebuah Gereja yang berubah menjadi sebuah “departemen sumber daya manusia” tidak selalu memiliki “rasa Injil.” Gereja semacam itu hanya menempatkan imannya pada strategi, bagan organisasi dan praktik-praktik terbaik, alih-alih memercayai, di atas segalanya, di hadapan Yang Esa yang telah membimbingnya selama dua ribu tahun, dalam kekuatan rahmat yang menyelamatkan, di dalam keheningan – pekerjaan Roh Kudus dari hari ke hari.

Selama beberapa tahun sampai sekarang, para Paus telah memperkenalkan aturan yang lebih pas dan lebih keras untuk memerangi fenomena pelecehan: pedoman lebih lanjut akan datang dari pertemuan kolegial para Uskup seluruh dunia yang dipersatukan dengan Petrus. Tapi obatnya bisa terbukti tidak efektif jika tidak disertai “oleh perubahan dalam pola pikir kita (pertobatan = metanoia), cara kita berdoa, penanganan (pendayagunaan) kekuasaan dan uang kita, pelaksanaan otoritas (wewenang) kita serta cara kita berhubungan satu sama lain dan dengan dunia sekitar kita.”

Kredibilitas tidak dibangun kembali dengan strategi pemasaran. Itu pasti buah dari Gereja yang tahu bagaimana mengatasi perpecahan dan konflik internal; Gereja yang tindakannya muncul dari pantulan cahaya yang bukan miliknya, tetapi terus diberikan kepadanya; Gereja yang tidak memproklamirkan dirinya dan kemampuannya sendiri; sebuah Gereja yang terdiri dari para imam dan umat beriman yang, seperti yang dikatakan Paus, mengakui diri mereka sebagai orang berdosa dan dipanggil untuk bertobat, justru karena mereka telah mengalami dan terus mengalami dalam diri mereka sendiri, pengampunan dan belas kasihan.

03 Januari 2019
Oleh: Andrea Tornielli
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s