“Zaman Akhir dan Karya Misi”

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I 2019

Senin, 14 Januari 2019
Ibr.1:1-6 & Mrk.1:14-20

Misi berarti perutusan. Ite missa est, pergilah kalian diutus. Begitu rumusan baku perutusan di akhir perayaan Ekaristi. Bukannya tanpa alasan kalau karya misi identik dengan perpindahan tempat: diutus dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Beberapa imam dari konggregasi misioner pernah bercerita bahwa berkarya di komunitas Kristen yang ada jauh dari tanah air, menjadi salah satu alasan menjadi anggota konggreasi tersebut. Pemahaman spatial (terkait tempat) ini perlu dilengkapi dengan pemahaman temporal (terkait waktu). Misi Gereja yang nampak dalam pengutusan misionaris dari satu tempat ke tempat lainnya perlu diletakkan dalam konteks kesadaran akan waktu. Waktu macam apa? Bacaan pertama dan Injil hari ini masing-masng memperkenalkan dua konsep tentang waktu.

Bacaan pertama berbicara tentang suatu masa, suatu periode, suatu zaman, yaitu zaman akhir (eskaton). Zaman ini dimulai dengan karya, wafat dan kebangkitan Putra Manusia, ”Pada zaman akhir ini Allah berbicara kepada kita melalui Putera-Nya” (Ibr. 1:2). Apa artinya hidup di zaman akhir? Artinya, segala rahasia tentang kebenaran dan nasib ciptaan sudah mulai terungkap dan nampak. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidup, arti kebaikan dan kejahatan, penderitaan dan kebahagiaan, sudah diwahyukan secara penuh dalam diri Yesus dari Nazaret. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu lagi perwahyuan baru. Yesus adalah Kristus, artinya Dia yang diurapi untuk mewartakan kebenaran tentang Allah dan semesta. Bukankah Gereja bermisi karena keyakinan ini bahwa Yesus adalah Sang Penyelamat, bahwa melalui Dia, Allah dan manusia sudah didamaikan, bahwa kelamnya sejarah manusia tidak dapat menghapus kebaikan dan harapan sebagaimana nampak dalam kemenangan Yesus atas maut?

Bacaan Injil memberikan konsep waktu yang kedua, yaitu konsekuensi atau tuntutan yang muncul dari kesadaran bahwa kita hidup pada zaman akhir. Secara sederhana, konsep waktu sebagai tuntutan ini tercermin dalam suatu ungkapan yang mungkin pernah didengar: hiduplah seolah-olah esok kau tidak akan melihat matahari terbit. Begitu sadar dan menerima bahwa waktu hidup kita ada batasnya, kita mulai menghargainya. Tindakan dan ucapan kitapun mulai diperhitungkan karena semuanya itu harus dipertanggungjawabkan di depan sang Pencipta. Konsep inilah yang muncul dalam bacaan Injil: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:5). Kegenapan atau kepenuhan waktu (kairos) berarti waktu yang menentukan. Dalam olah raga bola, istilahnya injury time, waktu-waktu akhir yang dapat mengubah keadaan final.

Maka, jangan lagi menunda-nunda untuk menjadi lebih baik, untuk menanggapi cinta Allah, untuk jadi suami, istri, anak, pelajar, pekerja, sahabat, manusia yang lebih baik. Sebab, kita sudah hidup di zaman akhir. Tanggapan cepat dari keempat murid pertama, yaitu Andreas, Petrus, Yakobus dan Yohanes di tepi danau Galilea menjadi model untuk kita. Jangan lagi menunda-nunda menjadi dan berbuat baik. Sebab, siapa yang tahu kalau esok masih datang lagi. Bukankah kesadaran ini yang juga mendorong Gereja untuk bermisi, untuk mewartakan Injil sepenuh hati, yaitu kesadaran bahwa waktunya sudah penuh, masa menuai jiwa-jiwa sudah tiba?

(RD. Carolus Putranto Tri Hidayat – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kaum muda dan Teladan Bunda Maria: Semoga kaum muda, terutama yang berada di Amerika Latin mau meneladani Bunda Maria dan menjawab panggilan Tuhan untuk menyampaikan kegembiraan Injil pada dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pemimpin Agama: Semoga para pemimpin agama berani dengan tegas menolak segala bentuk usaha pribadi maupun kelompok masyarakat yang hendak menggunakan agama demi meraih kepentingan politik praktisnya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kamimendukung hasrat Sri Paus membangun damai dengan hikmat yang menguatkan tekad persaudaraan para pemimpin negara kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s