“Relasi” dengan Tuhan Bukan Gagasan Kesalehan

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I 2019

Peringatan Wajib Santa Agnes, Perawan & Martir

Senin, 21 Januari 2019
Ibr.5:1-10 & Mrk.2:18-22

Hidup beragama jika tidak berlandaskan pada relasi personal yang mendalam dengan Tuhan akan membawa kita pada penghayatan praktik keagamaan yang dangkal. Kegiatan-kegiatan seperti mengikuti perayaan Ekaristi setiap Minggu, berdoa Rosario pada bulan Maria, atau menjalankan pantang dan puasa di masa Prapaskah dengan taat, akan kehilangan maknanya jika tidak disertai penghayatan mendalam akan relasi kita dengan Kristus. Menjalankan semua praktik keagamaan tersebut memang tidak salah dan sekilas akan menjadikan kita ‘dipandang’ sebagai umat beragama yang taat. Akan tetapi tanpa relasi mendalam dengan Tuhan semuanya itu merupakan praktik keagamaan yang kering karena kita lupa menjalin relasi dengan Kristus, Sumber Air Kehidupan itu sendiri.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengkritik praktik keagamaan yang hanya mengutamakan ‘kesalehan lahiriah’ belaka. Ketika ditanya mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa seperti orang Farisi dan murid Yohanes Pembaptis, Yesus menjawab, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mrk.2 : 19-20) Mempelai laki-laki melambangkan Yesus sendiri, Putra Allah yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita, manusia. Dan ketika kita menyadari kehadiran Allah dalam hidup kita, sudah sepantasnya kita bersukacita dan bergembira, karena Allah sendiri rela hadir menyapa kita manusia yang berdosa ini. Kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidup kita inilah yang membentuk relasi kita dengan Tuhan semakin personal dan mendalam. Tuhan hadir dalam hidup kita dengan cara yang unik dan berbeda dengan orang lain. Ia menyapa kita dengan nama kita masing-masing dan melalui pengalaman-pengalaman kita yang paling sederhana.

Yesus mengkritik praktik beragama orang Farisi yang kering, karena menjalankan puasa bukan pertama-tama karena relasi dengan Tuhan, melainkan agar mereka diperhatikan dan ‘dipandang’ sebagai teladan saleh orang beragama. Mata hati mereka tertutup oleh gagasan-gagasan mengenai kesalehan sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Yesus sebagai utusan Allah yang mengajarkan kasih kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari kasih terhadap sesama manusia. Pola pikir lama yang diibaratkan kain dan kantong anggur lama, perlu diganti dengan pola pikir baru agar mampu menerima kabar sukacita Yesus Kristus. Jika tidak, kain dan kantong itu akan koyak, sebagaimana orang Farisi yang tidak bisa menerima pewartaan Yesus.

Injil hari ini mengajak kita sebagai misionaris cinta kasih Allah untuk senantiasa menyadari dan merawat relasi kita dengan Tuhan. Sebab hanya itulah yang menjadikan praktik-praktik kehidupan beragama kita berbuah hingga akhirnya mengalirkan berkat bagi orang lain. Dengan demikian relasi mendalam dengan Tuhan menjadikan cara hidup kita benar-benar sebuah pewartaan akan kasih Allah.

(Br. Kornelius Glossanto, SX – Missionaris Xaverian)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kaum muda dan Teladan Bunda Maria: Semoga kaum muda, terutama yang berada di Amerika Latin mau meneladani Bunda Maria dan menjawab panggilan Tuhan untuk menyampaikan kegembiraan Injil pada dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pemimpin Agama: Semoga para pemimpin agama berani dengan tegas menolak segala bentuk usaha pribadi maupun kelompok masyarakat yang hendak menggunakan agama demi meraih kepentingan politik praktisnya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kamimendukung hasrat Sri Paus membangun damai dengan hikmat yang menguatkan tekad persaudaraan para pemimpin negara kami. Kami mohon…

 Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s