Allah Bekerja Dalam Kesunyian

Renungan Harian Misioner
Jumat Biasa III, 1 Februari 2019
Ibr. 10:32-39; Mrk. 4:26-34

Menjadi populer, tenar dan disanjung adalah godaan zaman now. Secara rohani, disebut narcisme spiritual. Kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi memudahkan dan memanjakan orang untuk mengunggah atau upload apa saja yang kita inginkan. Positifnya adalah berita atas peristiwa apa saja yang perlu direspon cepat dapat disiarkan secara langsung. Negatifnya adalah orang bisa disibukkan pada diri sendiri tanpa mengutamakan sekitar yang perlu mendapat perhatian pertama. Di samping itu, kemudahan tersebut bisa menyemarakkan hoax. Di balik itu semua adalah hasrat untuk tenar, populer dan mendapat sanjungan. Parahnya adalah hasrat tersebut merambah masuk ke ruang-ruang spiritual, menjadi narcisme spiritual. Orang merasa puas diri dengan kebaikan-kebaikan yang telah dibuat, tanpa disadari motivasi dangkal yang menggerakkannya. Orang menjadi latah tebar pesona kebaikan diri. Apakah ini salah? Oohh..NO! Tidak! Hanya saja tidak cukup bagi orang beriman. Orang beriman orientasinya adalah Allah, bukan dirinya sendiri!

Allah bekerja dalam kesunyian. Inilah pesan yang diwartakan dalam bacaan Injil hari ini, Markus 4:26-34, perumpaan tentang Kerajaan Allah. Dikatakan, “Beginilah halnya Kerajaan Allah: Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Malam hari ia tidur, siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas, dan tunas itu makin tinggi! Bagaimana terjadinya, orang itu tidak tahu!” Allah tidak pamer pesona kebaikan-Nya sendiri. Allah bahkan tidak populer dan tenar. Alih-alih dilirik, Allah tidak menjadi rujukan, bisa dikatakan tergeser dengan kemajuan teknologi. Allah bekerja dalam kesunyian. Injil melanjutkan, “Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkai, lalu bulir, kemudian butir-butir yang penuh isi pada bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Allah bekerja dalam diam untuk kesejahteraan orang lain. Bukan untuk kepuasan diri-Nya sendiri, tetapi untuk kebahagiaan dan kehidupan orang lain.

Kehadiran yang menenteramkan. Tanda kedua Kerajaan Allah adalah pertumbuhan dan kehadiran yang menenteramkan. Perumpaan dalam Injil menyebutkan, “Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain, dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam rimbunannya.” Mau bertumbuh dan memberikan ketenteraman, inilah pesan perumpamaan kedua. Kita dipanggil untuk bertumbuh baik dalam kepribadian maupun dalam iman. Bahaya yang perlu diwaspadai adalah “malas tumbuh.” Millenial bilang “mager” (malas gerak) atau “’ga’ move on.” Kerajaan Allah ditandai dengan adanya gerak tumbuh, meski pelan tapi pasti dan pertumbuhan itu membawa pada kehadiran pribadi yang menenteramkan bagi yang lain. Perhatikan! Yang tumbuh sesawi, yang bersarang adalah burung. Beda species! Kehadiran yang menenteramkan itu bukan hanya untuk yang segolongan dengan kita, hanya yang sekelompok dengan kita, yang seagama dengan kita, sekerabat dengan kita, tetapi yang berbeda pun merasakan kedamaian atas kehadiran kita.

Demikian, pesan misioner bagi kita hari ini adalah siap sediakah kita terus rendah hati dalam kerja dan kebaikan, serta terbukakah kita menjadi kehadiran yang menenteramkan bagi sekitar, bagi bahkan yang berbeda dengan kita, lewat kata-perasaan-pikiran-dan tindakan kita?*** (NW)

(RD.M Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perdagangan Manusia: Semoga dengan murah hati, kita semua bersedia menerima dan melayani para korban perdagangan manusia, korban prostitusi dan korban kekerasan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pertemanan dalam Media Sosial: Semoga para pengguna media sosial semakin cerdas dan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan di dunia maya demi pengembangan diri yang sehat dan baik, sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan bermartabat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami melaksanakan Masa Prapaskah dengan memanfaatkan media sosial secara bijaksana penuh hikmat Roh Kudus bagi keselamatan sesama sebagai bentuk matiraga kami. Kami mohon…

 Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s