Bukankah Ia Ini Tukang Kayu, Anak Maria?

Renungan Harian Misioner
Rabu Biasa IV, 6 Februari 2019
Peringatan St. Paulus Miki
Ibr. 12:4-7, 11-15 & Mrk. 6:1-6

Saya teringat pada peristiwa sebelum saya ditahbiskan menjadi seorang imam. Kebetulan tempat pelaksanaannya di Paroki asal saya sendiri dan saya akan menjadi seorang pastor pertama yang berasal dari paroki tersebut. Oleh karena hal tersebut, banyak orang khususnya yang tidak mengenal saya, mulai bertanya-tanya siapakah gerangan orang tersebut? Ia tinggal di mana? Orang tuanya yang mana? Hal ini saya ketahui dari teman saya. Ketika orang-orang mulai bertanya akan hal tersebut, ia kemudian menjawab dengan hal yang sederhana, “Orang tua calon pastor tersebut selalu duduk di balkon sudut belakang dan bapaknya yang kepalanya botak itu, kerap kali tertidur.” Jawaban ini ternyata sangat mudah mengungkapkan sebagian identitas diri saya.

Seperti bacaan hari ini khususnya dalam bacaan Injil (Matius 6:1-6), Yesus langsung dikenali oleh orang-orang yang mendengar pengajaran-Nya berdasarkan dari identitas kedua orang tuanya, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Reaksi spontan orang-orang yang awalnya takjub, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” kemudian berubah menjadi kecewa dan menolak Dia. Begitulah kita manusia, kerap kali menghubungkan seseorang berdasarkan ‘siapa orang tuanya.’ Ketika orang lain muncul dan berbicara di depan umum dan kita tidak mengenalinya, kerap kali kita langsung mencari tahu entah kepada orang di samping kita atau melalui internet: siapa dia? Siapa keluarganya? Pendidikannya apa? Tanpa kita sadari kecenderungan ini biasanya membawa kita pada dua sikap: menerima orang tersebut atau menolaknya.

Kenapa kita mudah menerima? Mungkin saja latar belakang keluarganya yang kaya raya, anak pejabat, pendidikannya dari luar negeri atau apa saja yang serba ‘wah.’ Lalu mengapa kita perlahan-lahan mulai menolak keberadaan seseorang? Bisa jadi karena ia hanya datang dari keluarga biasa, tidak kaya secara materi dan pendidikannya dari sekolah yang biasa. Bahkan lebih parahnya lagi, hati kecil kita berkata, “Siapa sih dia? Belum saatnya dia tampil, masih terlalu muda dan tidak punya pengalaman.” Apakah penolakan-penolakan tersebut adalah wujud kesombongan kita manusia yang menilai seseorang berdasarkan apa yang dia miliki? Menurut saya ini hanya kebiasaan sederhana yang bertumbuh mulai sejak kecil dan kadang-kadang menjadikan kita jatuh dalam sesat berpikir.

Sejak kecil kita selalu diarahkan bahwa hidup yang sukses adalah berhasil dalam hal pendidikan, punya jabatan dan memiliki materi yang melimpah. Jarang sekali kita diarahkan pada hidup yang sukses adalah hidup yang berbuah yaitu rendah hati, mau berkorban, rela menolong sesama, mendahulukan kepentingan orang lain dan bekerja tulus tanpa pamrih atau bukan sekedar mengejar prestasi. Dalam kepengurusan Gereja pun demikian. Bila kemudian ada yang muncul dari tengah-tengah kita seseorang yang sederhana, mau bekerja dengan tulus dan tidak cari muka bisa jadi orang-orang tersebut tidak mendapatkan tempat dalam pelayanan karena kita masih jatuh pada sesat berpikir: dia itu siapa?

Sebagai misionaris, mari kita belajar semakin rendah hati dan menerima setiap orang apapun latar belakangnya dan sebaliknya tidak perlu meninggikan seseorang hanya karena latar belakangnya pula. Kita belajar seperti Yesus. Ia bahkan menerima orang-orang yang dianggap pendosa dan ditolak oleh masyarakat.

(RD. Hendrik Palimbo – Pastor Paroki Deri-Toraja, KAMS)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perdagangan Manusia: Semoga dengan murah hati, kita semua bersedia menerima dan melayani para korban perdagangan manusia, korban prostitusi dan korban kekerasan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pertemanan dalam Media Sosial: Semoga para pengguna media sosial semakin cerdas dan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan di dunia maya demi pengembangan diri yang sehat dan baik, sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan bermartabat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami melaksanakan Masa Prapaskah dengan memanfaatkan media sosial secara bijaksana penuh hikmat Roh Kudus bagi keselamatan sesama sebagai bentuk matiraga kami. Kami mohon… 

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s