Rasul Zaman Now Hati-Hati dengan Ragimu

Renungan Harian Misioner
Selasa Biasa VI, 19 Februari 2019
Peringatan S. Marselus, S. Konradus dr Lombardia
Kej. 6:5-8, 7:1-5, 10 & Mrk. 8:14-21

In te speravi, non confundar (pada-Mu aku berharap, aku takkan dikecewakan): spirit seorang misionaris

Tataaran, 18/02/2019

Saudara, apakah kita termasuk tipe orang yang mudah terpengaruh oleh kecemasan atau ketakutan ataukah sebaliknya kita menaruh harapan kita pada pemeliharaan Tuhan? Kita tipe orang yang mudah bingung, linglung, kacau balau, khawatir, ragu, cemas dan mengeluh? Lihat para murid begitu cemas dan merasa bersalah ketika mereka sadar bahwa mereka lupa membawa roti, padahal harus menyeberangi danau. Mereka takut kelaparan, takut kekurangan. Aduh, padahal mereka baru saja menjadi saksi mata bahkan aktor pembantu dalam mukjizat lima roti dan dua ikan…

Betapa mudahnya kita melupakan perbuatan besar Tuhan dan meragukan penyertaan dan pemeliharaan-Nya ketika berhadapan dengan kesulitan atau tantangan. Kita sampai lupa akan Tuhan yang mencintai kita, anak-anak-Nya, yang diutus-Nya. Padahal St. Yohanes mengatakan bahwa cinta yang sejati melenyapkan ketakutan… (1 Yoh. 4:18)
Inilah salah satu pokok yang harus diperhatikan setiap misionaris, utusan dan saksi Tuhan: menyadari kehadiran Allah yang penuh cinta dan percaya pada penyelenggaraan ilahi yang Ia lakukan.

Selanjutnya, Yesus mengingatkan para murid juga akan bahaya dari ‘’ragi’’ orang Farisi. Janganlah para rasul ikut-ikutan seperti mereka… Para Farisi dan Saduki lebih sibuk dengan pikiran mereka sendiri dan bukan care serta focus pada apa yang menjadi pikiran Allah. Seperti ragi, yang mempunyai daya positif, menghasilkan roti yang baik dan bagus; tetapi jika tidak dikontrol dengan baik, jika tidak digunakan dengan baik maka akan memiliki daya merusak, daya membusukkan, daya negatif. Orang Farisi, orang Saduki, memiliki otoritas spiritual; begitu juga dengan Herodes, dia memiliki otoritas sosial politik. Otoritas adalah sesuatu yang baik dan bagus, punya daya positif demi kebaikan umat Allah dan masyarakat. Tetapi, jika disalahgunakan, akan berakibat buruk, negatif, merusak, mematikan. Orang Farisi dan Saduki dengan gampang dibutakan oleh arogansi, superioritas religius; akibatnya mereka tidak dapat mengenal kebenaran dan kebijaksanaan Allah. Begitu juga Herodes, bisa saja menyalahgunakan power-nya, kuasanya, dayanya.

Tiga hal ini diingatkan oleh Yesus: pertama, terlalu khawatir dan cemas akan persediaan roti; kedua, seperti orang Farisi dan Saduki terlalu berkutat dengan pikiran pribadi sendiri dan tidak mau mengerti dan memahami apa yang menjadi kehendak Allah. Ketiga, hati-hati terhadap hal-hal baik yang Tuhan berikan kepada kita; jangan disalahgunakan, malah akan merusak belaka.

Bukankah kita juga sering seperti para rasul ini?
Dengan mudah kita digoncangkan oleh problem, kebutuhan, kekuatiran saat ini dan melupakan begitu banyaknya perbuatan besar Tuhan bagi kita? Ingatlah akan umat Israel yang meninggalkan Mesir: dibebaskan dari cengkeraman Firaun yang nampak tak tergoyahkan… Bukankah mereka melewati laut merah dengan kaki kering? Bukankah mereka dipelihara Bapa dengan air dari gunung batu, dengan roti dari surga, dengan daging dari langit, dengan tiang awan dan tiang api? Yahweh sebaik ini pun mereka bisa lupakan, bahkan mereka ganti dengan lembu emas.

Yesus pun, sang Immanuel, berbuat yang sama. Dia adalah Allah yang menyertai kita. Kita bukan anak yatim. Kita bukan domba tanpa gembala. Bukankah Dia sudah mengajarkan kita berdoa kepada Bapa, berilah kami rezeki secukupnya? Mengapa meragukan Bapamu? Mengapa lebih mudah ragu dan goncang, bukannya mengandalkan Dia?

Lalu, bagaimana saya menggunakan power, daya, berkat, rahmat, otoritas yang Tuhan berikan? Secara negatif atau positif? Apakah saya termasuk misionaris yang sering membuat abuse of power yang saya terima? Otoritas, bakat, talenta, public power yang kita dewakan bisa membuat kita menyalahgunakan daya misi Allah; kita merasa sendirian saja yang memiliki Roh Kudus, atau sampai mengklaim kamu yang ini dan itu, tidak dipengaruhi Roh Kudus. Dan kita mulai bertindak menurut intuisi pribadi kita. Ragi itu baik, tapi gunakanlah dengan baik pula.

Tentu saja, dalam karya pastoral, dalam pelayanan misi, kita tidak lepas dari salib, tantangan, kesulitan, kegagalan bahkan malam-malam gelap. Buntu. Bingung. Kacau. Bagaimana sikap kita? Mungkin dua hal ini bisa menjadi pegangan kita dalam karya pastoral kita dengan segala tantangan dan kesulitannya.

Pertama: selalu ingat dan mengenang perbuatan besar Tuhan, keterlibatan Tuhan, bahkan ‘’mukjizat’’ yang pernah Tuhan lakukan untuk kita. Ingat, sadari, hadirkan peristiwa itu. Dan katakan pada dirimu dengan keyakinan penuh: Allah sudah menolong, Allah sekarang menolong, Allah selamanya menolong… Jadi, halaulah kekuatiran dan kecemasan, dengan menghadirkan Allah yang menyertai, Allah yang terus bekerja di dalam diri utusan-Nya. Deus qui te misit, tecum est.

Kedua: jika memang harus mengalami keadaan tak berdaya, merasa kehilangan jalan, sulit dan buntu, berserahlah, surrender pada-Nya. Semakin mencemplungkan diri dalam tuntunan dan karya tangan-Nya. Bahagiaku terikat pada Yahweh, harapanku pada Allah Tuhanku (Mazmur 1). Mengandalkan Allah, menaruh harapan pada-Nya saja (Yeremia 17:7).

Biasanya, pada hari ulang tahun, seseorang suka mengenang kebaikan-kebaikan Tuhan padanya; marilah kita menganggap hari ini adalah HUT kita, sambil kita mengenang dan mensyukuri karya tangan Tuhan pada kita, kita memperteguh kepercayaan kita pada-Nya, sekaligus siap berserah di hari-hari mendatang, terus mewartakan Dia, dalam keadaan apapun juga, dengan iman, harap dan kasih. Sebab, Tuhan yang mengutusmu, menyertaimu juga. Don’t worry. Jesus inside!

(RD. Terry Thomas Ponomban – Pastor Paroki St. Antonius Padua Tataaran, Keuskupan Manado)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perdagangan Manusia: Semoga dengan murah hati, kita semua bersedia menerima dan melayani para korban perdagangan manusia, korban prostitusi dan korban kekerasan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pertemanan dalam Media Sosial: Semoga para pengguna media sosial semakin cerdas dan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan di dunia maya demi pengembangan diri yang sehat dan baik, sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan bermartabat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami melaksanakan Masa Prapaskah dengan memanfaatkan media sosial secara bijaksana penuh hikmat Roh Kudus bagi keselamatan sesama sebagai bentuk matiraga kami. Kami mohon…

 Amin

Tinggalkan komentar