Melihat Jejak-Jejak Kemuliaan Tuhan

Renungan Harian Misioner
Sabtu Biasa VI, 23 Februari 2019
Peringatan S. Polikarpus
Ibr. 11:1-7 & Mrk. 9:2-13

Hanya trio Murid kepercayaan yang diajak Yesus naik ke gunung. Peristiwa itu bukan untuk konsumsi umum. Pada saat turun gunung pun, Ia perintahkan agar ketiga murid-Nya itu menjaga rahasia. Ini berbeda dengan saat Transfigurasi itu sendiri, dimana Yesus justru amat “dipamerkan.” Di depan mata mereka, Ia berubah rupa, pakaian-Nya putih cemerlang, lalu suara Bapa mengumumkan siapa Dia. Identitas Yesus sengaja dibuka total, tanpa rahasia lagi. Mengapa?

Pertama, untuk memberi semangat dan pengharapan kepada para murid-Nya. Bayangkan, sudah setengah perjalanan bersama Yesus, mereka tetap saja belum paham dan siap. Jalan bersama Yesus menuju salib tampaknya terlalu sulit untuk diikuti. Maka, semangat dan pengharapan mereka harus dihidupkan. Misteri akhir dan puncak perjalanan bersama Yesus itu harus dibuka, meski untuk sesaat saja. Maka, kemuliaan Yesus saat Ia bangkit mulai sedikit diantisipasi. Yesus yang berubah dan pakaian-Nya yang berkilauan menunjuk pada Yesus yang bangkit kelak. Dua teman bicara-Nya juga datang “dari dunia sana”: Elia dan Musa, para tokoh yang juga wafat secara mulia. Aneka penderitaan di dunia ini harus dilihat dan dijalani dalam terang Kebangkitan. Pelbagai salib dalam hidup ini hanyalah sebagian dari cerita. Iman akan Kebangkitan memberi kita semangat dan harapan bahwa semua salib itu pasti menghantar kita kepada kemuliaan sebagai anak-anak Bapa. Hanya dengan itu, orang beriman dapat hidup dengan penuh pengharapan, gairah dan optimisme.

Kedua, untuk memberi tuntunan dan pedoman. Bapa memperkenalkan Yesus sebagai Anak-Nya. Pernyataan “Inilah Anak yang Kukasihi” segera diikuti dengan perintah “dengarkanlah Dia.” Yesuslah yang harus didengarkan, bukan pendapat dan inisiatif manusia. Mengapa? Sebab Dialah Anak kekasih Allah yang paling mengenal Allah dan kehendak-Nya. Para murid-Nya, dahulu dan juga kini, harus mendengarkan dan menjalankan ajaran-Nya, juga ajaran yang mungkin tidak mudah dan tidak sesuai keinginan kita, seperti: melayani, memanggul salib, kehilangan nyawa demi Injil, dll.

Ketiga, setelah sejenak mengalami situasi surgawi, mereka harus “turun gunung”. Kemuliaan dan kejayaan biasanya membius. Dengan pemahaman baru, mereka harus kembali ke tengah manusia, ke tengah rutinitas dan perjuangan hidup harian. Cara memandang dunia dan kehidupan secara baru, harus juga dibawa ke tengah dunia untuk dibagi dengan sebanyak mungkin orang. Itulah tugas perutusan para murid Tuhan: membawa dan menghadirkan harapan dan optimisme bagi dunia yang banyak muram dan derita.

Keempat, Yesus sendiri menyebut peristiwa ini sebagai “penglihatan” (9:9). Begitulah seharusnya saya dan Anda memandang hidup. Jadikanlah hidup ini sebuah “penglihatan”: sebuah pengalaman memandang dan menikmati kemuliaan TUHAN. Aneka suka-duka hidup harian adalah kesempatan untuk berkontemplasi: kesempatan untuk melihat “jejak-jejak kemuliaan Tuhan” dalam dunia. Hidup dan sejarah menjadi momen dimana surga dan dunia terus menyapa dan berjabatan tangan.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perdagangan Manusia: Semoga dengan murah hati, kita semua bersedia menerima dan melayani para korban perdagangan manusia, korban prostitusi dan korban kekerasan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pertemanan dalam Media Sosial: Semoga para pengguna media sosial semakin cerdas dan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan di dunia maya demi pengembangan diri yang sehat dan baik, sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan bermartabat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami melaksanakan Masa Prapaskah dengan memanfaatkan media sosial secara bijaksana penuh hikmat Roh Kudus bagi keselamatan sesama sebagai bentuk matiraga kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s