Puasa Yang Dikehendaki Tuhan

Renungan Harian Misioner
RABU ABU Pantang dan Puasa, 6 Maret 2019
Yl. 2:12-18; 2Kor. 5:20 – 6:2; Mat. 6:1-6,16-18

Hari ini kita memulai masa khusus dalam siklus tahun liturgi kita yang dikenal dengan sebutan masa puasa atau prapaskah. Ada juga yang menyebutnya masa retreat agung. Nama-nama itu mau menunjukkan makna dari masa khusus itu. Sesungguhnya puasa itu bukan merupakan ciri khas kristiani. Puasa juga dipraktekkan oleh umat beragama lain atau bahkan dilakukan dalam konteks kesehatan seperti diet. Puasa selalu dikaitkan dengan amal-kasih dan ibadah, sebagai satu kesatuan latihan rohani dalam rangka pembenahan relasi beriman, yang selalu terarah kepada Allah, sesama manusia, sesama ciptaan dan diri sendiri.

Puasa dikaitkan dengan askese, pengendalian dan penguasaan diri, sehingga sikap dan tindakan kita sungguh terarah dan terkontrol, terutama dalam hal mencegah yang buruk dan jahat, serta memilih prioritas melakukan yang baik dan benar. Puasa dalam berarti mengendalikan keinginan serta mengarahkan sikap dan tindakan, bermuara pada peningkatan mutu hidup beriman dan mutu relasi kita dengan dengan sesama manusia alam ciptaan dan Allah sendiri.

Bacaan-bacaan hari ini membantu kita memahami puasa yang benar sebagaimana dikehendaki Allah. Yoel dalam bacaan pertama mengingatkan bahwa makna puasa tidak terletak dalam olah-fisik seperi mengurangi makan-minum atau hal lainnya. Puasa bukan suatu “pameran praksis beragama” – tetapi mengarahkan kembali kehidupan ke arah yang benar, yakni Allah. Yoel menyerukan “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh”. Puasa pertama-tama adalah olah-batin, pengarahan hati, pembenahan hidup agar kembali ke jalan dan tujuan yang benar, yakni Allah.

Paulus dengan sedikit lugas menegaskan bahwa puasa adalah suatu masa tobat, masa berbalik kepada Allah, metanoia: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah”. Suatu pemulihan relasi, suatu rekonsiliasi. Menjalani hidup dengan baik dan benar agar kasih karunia Allah tidak menjadi sia-sia dalam kehidupan kita. Jika demikian maka masa puasa adalah masa refleksi dan rekonsiliasi. Menelisik kehidupan dan membenahinya jika menyimpang dan salah arah.

Yesus memberikan petunjuk praktis dalam menjalankan tiga keutamaan atau kewajiban dalam hidup beriman: sedekah (amal kasih), doa dan puasa. Ketiganya bukanlah suatu atraksi atau pameran untuk dilihat dan dipuji orang. Jika memberi sedekah, berdoa dan berpuasa, hindari motivasi egoistis. Ketiganya dilakukan karena memang baik dan benar pada dirinya sebagai praksis beriman, bukan untuk mendapatkan pujian. Biarkan Tuhan saja yang mengetahuinya, karena pada akhirnya ketiga kewajiban itu terarah dan tertuju kepada Dia.

Puasa mesti bermuara pada rekonsiliasi dengan Allah, dan rekonsiliasi dengan Allah mesti berbuah pada rekonsiliasi dengan diri sendiri, dengan sama manusia dan sesama ciptaan. Selamat berpuasa.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Pengakuan Hak Komunitas-Komunitas Kristiani: Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati oleh masyarakat sekitar. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden: Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum untuk anggota DPR dan Presiden, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan serta persaudaraan sesama anak bangsa agar tidak tergoda oleh bujukan politik uang. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami ikut mengusahakan agar penyelenggaraan pemilihan di kampung-kampung terlaksana dengan semangat persaudaraan yang tulus dan penuh kejujuran.Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s