Puasa dan Solidaritas Profetis

Renungan Harian Misioner
Jumat sesudah Rabu Abu, 8 Maret 2019
Perayaan S. Yohanes de Deo
Yesaya 58:1-9a; Matius 9:14-15

Lewat kedua bacaan hari ini, Gereja mengajak umat Kristiani untuk mendalami lagi makna puasa yang sejati dan melakukan puasa yang berkenan kepada Allah. Praktik-praktik puasa tradisional yang berpusat pada diri sendiri dan kepalsuan-kepalsuan yang menyertainya harus ditinggalkan.

Sebagai suatu bentuk peradaban manusia, puasa merupakan praktek yang sangat tua, bahkan mungkin setua usia manusia di muka bumi ini. Intensinya bermacam-macam: demi kebugaran fisik, demi kemajuan hidup spiritual, demi pahala seperti yang diajarkan oleh agama. Dalam agama-agama tradisional, seperti Kejawen misalnya, dikenal jenis-jenis puasa khusus, seperti puasa mutih untuk ilmu gaib, puasa ngableng untuk peneguhan sukma dan terkabulnya suatu keinginan, puasa ngeluwang untuk mendapatkan kesaktian, puasa weton untuk proteksi diri terhadap kesialan, dan sebagainya. Juga ada berbagai macam cara berpuasa, seperti: berpuasa dari makanan, berpuasa dari berbagai kebiasaan; puasa yang berlangsung satu hari, seminggu, sebulan, atau empat puluh hari; ada pula jenis puasa senin-kamis; dan seterusnya. Singkatnya, puasa itu suatu kearifan manusiawi yang dipraktikkan di banyak tempat dalam sejarah peradaban manusia dan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dalam bacaan-bacaan hari ini, dibedakan cara puasa yang benar dari puasa yang keliru. Puasa yang benar bukanlah kesalehan individual yang dipamer-pamerkan kepada publik demi pengakuan sosial dan kepuasan diri sendiri. Kedangkalan rohani dalam puasa munafik seperti itu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang pada zaman ini saja, tetapi juga sudah dipraktikkan pada zaman dahulu. Juga pada zaman nabi Yesaya – atau lebih tepat, pada zaman Trito-Yesaya (bacaan pertama hari ini)! Lewat sang nabi, Allah menunjukkan bahwa Dia tidak berkenan kepada kesalehan-kesalehan palsu. Semua bentuk puasa demi pemuasan diri sejatinya merupakan praktik religius yang memberhalakan diri sendiri (lih. Yes 58:1-5).

Puasa bukan pula suatu kebiasaan rutin semata-mata, suatu ritus kesalehan demi puasa itu sendiri atau suatu rutinitas yang dilakukan demi pengakuan sosial. “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” tanya murid-murid Yohanes kepada Yesus (Mat 9:14). Pertanyaan yang bernada mengadili ini memberi kesan bahwa mereka memprotes toleransi Yesus terhadap murid-murid-Nya yang ‘tidak religius’ itu. Seakan-akan mereka berkata: “Mengapa murid-murid-Mu tidak seperti ‘kami’ yang taat kepada kebiasaan nenek moyang? Mengapa Guru membiarkan mereka bertindak seperti ‘orang tidak beriman’?”

Sebaliknya, puasa yang dikehendaki Allah dan yang berkenan kepada-Nya adalah tindakan keluar dari ‘zona nyaman’ untuk ‘membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, membagi-bagikan roti kepada orang-orang yang lapar, memberi tumpangan kepada orang-orang miskin yang tak punya rumah, dan memberi pakaian kepada yang telanjang; singkatnya, tidak menutup mata terhadap kebutuhan dasar sesama manusia’ (bdk. Yes 58:6-7).

Puasa yang benar itu terungkap dalam solidaritas kepada sesama manusia, utamanya mereka yang harkat dan martabatnya direndahkan. Puasa yang berkenan kepada Allah nyata dalam perjuangan memperbaiki masyarakat, yakni restrukturisasi sistem-sistem sosial yang tidak adil. Singkatnya, puasa yang dikehendaki Allah itu terealisasi dalam tindakan altruistik, yakni cinta kepada sesama dan demi sesama. Lewat sang nabi, Allah memajukan nilai dasar puasa yang benar itu, yakni solidaritas profetis: perjuangan memanusiakan manusia dan rekonstruksi sistem-sistem sosial yang menindas.

Karena itu, saudara-saudari seiman, masa puasa ini perlu kita sucikan dengan laku ibadah yang saleh lewat puasa, pantang dan banyak doa bagi pemuliaan manusia dan perbaikan masyarakat luas.

(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Wakil Ketua Komisi Karya Misioner KWI)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Pengakuan Hak Komunitas-Komunitas Kristiani: Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati oleh masyarakat sekitar. Kami mohon… 

Ujud Gereja Indonesia:

Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden: Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum untuk anggota DPR dan Presiden, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan serta persaudaraan sesama anak bangsa agar tidak tergoda oleh bujukan politik uang. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami ikut mengusahakan agar penyelenggaraan pemilihan di kampung-kampung terlaksana dengan semangat persaudaraan yang tulus dan penuh kejujuran.Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s