Mengampuni karena Sudah “Diampuni”

Renungan Harian Misioner
Senin Prapaskah II, 18 Maret 2019
Peringatan S. Syrillus dr Yerusalem
Dan. 9:4b-10; Luk. 6:36-38

Kata ‘maaf’ erat kaitannya dengan kata ‘ampun’, bahkan kerap disama-artikan. Kata-kata itu sering terdengar atau terucap. Begitu mudah dan cepat orang mengungkapkan kata ‘ampun’ atau ‘maaf’ – ‘I am sorry’ – itu. Karena sering mudah dan gampang terucap atau terdengar, kata-kata itu hampir tak dihayati lagi. Orang begitu gampang mengucapkannya; bahkan, sering terucap tanpa sadar. Begitulah kata ‘maaf’ atau ‘ampun’ yang bernada permohonan sangat gampang diucapkan. Namun, bisa diselidiki dan diteliti betapa ‘maaf’ atau ‘ampun’ itu tak gampang dipraktikkan atau diberikan. ‘Maaf’ atau ‘ampun’ menjadi kata yang begitu gampang terucap, namun memberi ‘maaf’ atau ‘ampun’ masih menjadi perjuangan semesta.

Di suatu rumah makan, saya pernah tak sengaja memecahkan gelas yang sedang disiapkan oleh pelayan rumah makan itu. Spontan saja saya berucap: “Sorry, saya tak sengaja”. Sebagaimana sama di hampir semua tempat serupa – pelayannya hanya tersenyum sambil mengatakan “tak apa-apa” dan langsung membereskan pecahan gelas – itulah yang saya alami. Tentu banyak pengalaman serupa yang pernah dialami oleh begitu banyak orang; pengalaman mengungkapkan permohonan maaf atas peristiwa atau kesalahan yang tak disengaja. Sesudah permohonan maaf itu spontan terungkap, persoalan itu menjadi sepele dan dianggap selesai. Pemberian maaf dari si pelayan rumah makan tadi lalu menjadi hampa dan tak bermakna. Seolah-olah sudah diketahui pasti bahkan haruslah dimaafkan. Justru jika si pelayan tadi langsung membentak dan memarahi, persoalan panjang-lebar akan terjadi. Begitulah dalam peristiwa-peristiwa serupa permohonan maaf menjadi spontanitas belaka – hampir tak dihayati – dan mengharuskan pengampunan.

Ironisnya, permohonan maaf atau ampun yang sudah menjadi ungkapan pasaran sering tak dibarengi dengan kebiasaan atau tabiat ‘memberi maaf’. Banyak peristiwa atau pengalaman bisa dijumpai, manakala orang sulit memberi maaf atau mengampuni sesamanya. Berbagai alasan dan penyebab bisa menjadi latar belakang sulitnya mengampuni. Memberi ampun atau maaf dalam hidup antar-manusia masih menjadi sebuah perjuangan yang terus-menerus harus diperjuangkan. Perjuangan ini hanya akan berhasil ketika semua manusia mau bercermin dari hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Kita sungguh mengerti dan mengakui bahwa kita manusia memiliki banyak kekurangan dan kesalahan. Masing-masing mengetahui berapa banyak kekurangan dan kesalahannya dalam hubungan dengan sesama apalagi dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan yang Mahamulia, manusia tak bisa mengelak dari rentetan riwayat kekurangan-kesalahan-dosa-nya. Namun demikian, Tuhan tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita. Seringkali kita memohon ampun kepada Tuhan lewat berbagai cara. Tetapi, tak jarang juga kita melakukan kesalahan dan dosa yang sama dan bahkan berulang-kali-lagi. Begitu terus-menerus manusia melangsungkan hidupnya: melakukan kesalahan dan dosa – memohon ampun – melakukan kesalahan dan dosa lagi – dan seterusnya. Seolah proses ini menjadi siklus hidup manusia di hadapan Tuhan. Namun, adakah Tuhan pernah benci atau dendam terhadap kita – manusia? Adakah Tuhan pernah tak mengindahkan permohonan ampun kita? Adakah Tuhan berhenti mengampuni kita? Adakah Tuhan membalas kesalahan dan dosa kita?

Tuhan yang Maharahim selalu rela dan tulus mengampuni manusia. Lebih dari itu, Tuhan telah lebih dahulu mengasihi dan mengampuni manusia sebelum manusia memohon ampun dan bertobat. Sikap dan perlakuan Tuhan terhadap manusia inilah yang perlu menjadi cerminan hidup setiap kita manusia yang sering sulit memaafkan atau mengampuni sesama. Inilah semangat pengampunan yang sejati: mengampuni karena sudah terlebih-dahulu diampuni. Jika semangat ini menjadi dasar dan pedoman hidup, maka hidup antar manusia akan menjadi mudah untuk saling mengampuni. Dengan demikian ‘misi damai’ menjadi pekerjaan yang mudah. Hidup antar-manusia akan dipenuhi damai karena ada semangat mau saling mengampuni, karena tahu bahwa Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni. Mengampuni bukan lagi menjadi perjuangan semesta, melainkan pembaharuan semesta. Mari membarui dunia, membawa ‘misi damai’ dengan semangat iman rela dan tulus mengampuni sesama karena Tuhan telah lebih dahulu mengampuni kesalahan dan dosa kita, manusia.

(RD. Ramlan Abraham Mantow – Pastor Paroki St.Petrus Kotaraya, Keuskupan Manado)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Pengakuan Hak Komunitas-Komunitas Kristiani: Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati oleh masyarakat sekitar. Kami mohon…

 Ujud Gereja Indonesia:

Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden: Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum untuk anggota DPR dan Presiden, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan serta persaudaraan sesama anak bangsa agar tidak tergoda oleh bujukan politik uang. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami ikut mengusahakan agar penyelenggaraan pemilihan di kampung-kampung terlaksana dengan semangat persaudaraan yang tulus dan penuh kejujuran.Kami mohon…

 Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s