Tiga Jalan Belaskasih

Homili Paus Fransiskus: Meniru belas kasih Tuhan
Selama Misa yang dirayakan di kapel Casa Santa Marta, Paus berbicara tentang belas kasih Tuhan dan menawarkan beberapa saran untuk menjalani masa Prapaskah hingga mencapai kepenuhannya.

Jangan menghakimi orang lain; jangan menghukum; maafkan: dengan cara ini Anda meniru belas kasih Bapa. Dalam Misa di Casa Santa Marta, Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa dalam usaha agar “tidak sesat” dalam hidup, kita perlu “meniru Tuhan”, “berjalan di hadapan Bapa”. Dimulai dengan Injil dari St Lukas, Paus berbicara terutama tentang belas kasih Allah, yang mampu mengampuni bahkan perbuatan-perbuatan “terburuk”:

Kemurahan Tuhan adalah suatu hal yang luar biasa, sangat luar biasa. Kita tidak boleh melupakannya. Berapa banyak orang [berkata]: “Saya telah melakukan hal-hal yang begitu mengerikan. Saya telah membeli tempat saya di neraka, saya tidak bisa kembali”. Tetapi apakah mereka berpikir tentang belas kasih Allah? Mari kita ingat kisah tentang janda miskin yang pergi untuk mengaku ke Curé of Ars. Suaminya bunuh diri; dia melompat dari jembatan ke sungai. Dan wanita itu menangis. Dia berkata, “Tetapi saya adalah seorang pendosa, seorang wanita miskin. Tapi suamiku yang malang! Dia ada di neraka. Dia bunuh diri, dan bunuh diri adalah dosa besar. Dia ada di neraka”. Dan Curé of Ars berkata, “Tapi tunggu sebentar, Bu, karena antara jembatan dan sungai, ada belas kasih Tuhan”. Tetapi sampai akhir, sampai akhir, ada belas kasih Tuhan.

Kebiasaan-kebiasaan baik untuk Prapaskah
Paus Fransiskus berkata bahwa Yesus memberikan tiga saran praktis untuk membantu kita membiasakan diri untuk berbelas kasih. Pertama: untuk tidak “menghakimi”. Kita harus menahan diri untuk tidak menghakimi, terutama pada masa Prapaskah:

Juga, itu merupakan sebuah kebiasaan yang tercampur dalam kehidupan kita bahkan tanpa kita sadari. Selalu! Bahkan hanya dengan memulai percakapan: “Apakah Anda melihat apa yang dia lakukan?” Menghakimi orang lain. Mari kita pikirkan berapa kali setiap hari kita menghakimi. Kita semua. Tetapi selalu melalui memulai percakapan, komentar tentang orang lain: “Tapi lihat, orang itu menjalani operasi plastik! Mereka lebih jelek dari sebelumnya”.

Membiarkan kantong kita tetap terbuka
Dalam khotbahnya, Paus Fransiskus mengundang semua orang untuk mempelajari kebijaksanaan kedermawanan, cara utama untuk mengatasi “gosip”. Ketika kita bergosip tentang orang lain, dia berkata, “kita terus menghakimi, terus-menerus mengutuk, dan sulit memaafkan:

Tuhan mengajar kita: “Berilah dan kamu akan diberi”: bermurah hati dalam memberi. Jangan menjadi “kantong tertutup”; bermurah hati dalam memberikan kepada orang miskin, kepada mereka yang membutuhkan, dan juga dalam memberikan banyak hal: dalam memberikan nasihat, dalam memberikan senyum kepada orang-orang, dalam tersenyum. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu”, karena Tuhan akan bermurah hati: Kita memberi satu, dan Dia memberi kita seratus dari semua yang telah kita berikan. Dan ini adalah sikap yang menyediakan perlengkapan untuk tidak menghakimi, tidak menghukum; untuk memaafkan. Pentingnya memberi sedekah, tetapi tidak hanya sedekah materi, tetapi sedekah rohani juga: menghabiskan waktu bersama seseorang yang membutuhkan, mengunjungi seseorang yang sakit, menawarkan senyum.

18 Maret 2019
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s