Renungan Harian Misioner
Rabu Prapaskah III, 27 Maret 2019
Peringatan S. Rupertus, Nikodemus & S. Lucy Filipini
Ulangan 4:1,5-9; Matius 5:17-19
Dalam Injil hari ini, dalam pengajaran-Nya kepada murid-murid-Nya, Tuhan Yesus begitu tegas: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat. 5:17) Mengamati orang-orang pada zaman-Nya, Tuhan Yesus melihat bahwa ada banyak orang yang melakukan pelanggaran hukum, bahkan di antara para pemimpin masyarakat, yang seharusnya memberi teladan yang baik. Ada pula orang-orang yang pandai mengajarkan hukum Tuhan–karena mereka memang mendapat lisensi untuk itu, seperti para ahli Taurat–tetapi hidup mereka tidak bisa dijadikan teladan. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,” kata-Nya mengingatkan (Mat. 5:20). Di samping itu ada pula orang-orang yang dengan terang-terangan bersekongkol untuk melanggar hukum, suatu persepakatan yang jahat. Nah, kita termasuk kelompok yang mana? Masa prapaskah merupakan kesempatan yang baik untuk meneliti diri kembali, bagaimana pola-pikir dan cara hidup kita sebagai murid-murid Tuhan: Entahkah telah menjadi batu sandungan bagi sesama ataukah memberi inspirasi yang mencerahkan?
Lalu, dalam hubungannya dengan hukum yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dalam injil hari ini tidak lain daripada Taurat Musa. Ini sejalan dengan bacaan pertama yang diambil dari kitab Ulangan bab 4. Kepada bangsa Israel, yang bersiap-siap untuk memasuki tanah terjanji, Musa menyampaikan ‘hukum kehidupan’, yakni perintah Tuhan, yang bila dilaksakan dengan setia, akan menjadi kebijaksanaan dan pencerah budi bagi mereka. Dengan itu, mereka juga akan mendapat hormat dari bangsa-bangsa lain (Ul 4:6). Karena itu, Musa menegaskan kepada mereka, supaya segala perintah Tuhan yang disampaikannya itu diajarkan terus-menerus kepada anak, cucu, dan cicit mereka turun-temurun.
Begitu pula Tuhan Yesus menegaskan pentingnya Taurat Musa itu kepada murid-murid-Nya, bahkan huruf terkecil sekalipun. “Sesungguhnya, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi,” kata-Nya (Mat. 5:18). Tuhan Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat itu, bukan untuk meniadakannya. Karena itu, teologi kristiani juga mengajarkan bahwa seluruh hidup misioner Tuhan Yesus sejatinya merupakan penggenapan hukum Taurat dan para nabi.
Penegasan Tuhan Yesus dalam injil hari ini pada intinya mengajak para murid untuk masuk ke dalam hakikat hukum Taurat. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”, demikian penegasan-Nya (Mat .7:12). Bakti kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan intisari Taurat Musa. Dan, ukuran kasih sejati kepada sesama itu adalah kasih kepada diri sendiri. Lebih daripada itu, Tuhan Yesus mengingatkan supaya mereka saling mengasihi seperti Dia sendiri menunjukkannya, lewat berbagai karya dan pengajaran-Nya. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu,” tegas-Nya (Yoh. 15:12).
Kita mengetahui bahwa kasih itu kekuatan yang menghidupkan, makanya diperintahkan untuk diajarkan terus-menerus, turun-temurun. Ia memiliki bobot ilahi dan sekaligus sangat kondrati, alami. Artinya, sangat manusiawi! Masa prapaskah merupakan kesempatan yang penuh rahmat untuk memeriksa kembali cara beriman kita menurut kriteria yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Sejauh manakah kasih, sebagai hukum tertinggi dan inti hukum Taurat, sudah mewujud dalam pola-pikir, pola-rasa, dan pola-laku kita? Kita benar-benar ditantang untuk tidak membiarkannya hanya menjadi konsep indah di kepala, tetapi memperjuangkannya untuk mengalahkan ‘penguasa-penguasa dunia ini’.
(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Wakil Ketua Komisi Karya Misioner KWI)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Evangelisasi:
Pengakuan Hak Komunitas-Komunitas Kristiani: Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati oleh masyarakat sekitar. Kami mohon…
Ujud Gereja Indonesia:
Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden: Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum untuk anggota DPR dan Presiden, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan serta persaudaraan sesama anak bangsa agar tidak tergoda oleh bujukan politik uang. Kami mohon…
Ujud Khusus:
Semoga umat di Keuskupan kami ikut mengusahakan agar penyelenggaraan pemilihan di kampung-kampung terlaksana dengan semangat persaudaraan yang tulus dan penuh kejujuran. Kami mohon…
Amin
