Berbagi Rezeki Tuhan

Paus mengenai kelaparan: Rezeki dari Tuhan adalah milik kita bersama, bukan milikku saja
Paus Fransiskus mengintensikan doanya untuk anak-anak sedunia yang kelaparan, dengan mengingatkan setiap orang Kristiani bahwa karunia Tuhan “rezeki hari ini” adalah ‘milik kita’ dan bukan hanya ‘milikku’.

“Berilah kami rezeki pada hari ini”. Di Audiensi Umum pada hari Rabu, Paus Fransiskus berdoa agar Tuhan dapat memberikan rezeki kepada semua orang yang kekurangan makanan – yang, kata Paus, “juga berarti air, obat-obatan, rumah, pekerjaan” dan “semua yang diperlukan untuk hidup”.

Paus merujuk, khususnya, makanan untuk semua “anak-anak yang kelaparan, di negara-negara di mana tidak ada makanan”.

“Rezeki” yang didoakan orang Kristiani adalah “bukan milikku”, tetapi “milik kita”, kata Paus. “Doa itu akan menghentikan kita sejenak dan berpikir tentang kelaparan anak-anak”.

Paus merujuk secara khusus kepada anak-anak yang tinggal di negara-negara yang dilanda perang, dengan mengambil tiga contoh yakni Yaman, Suriah dan Sudan Selatan.

Kita bisa mengerti mengapa Paus mengarahkan perhatian kepada tiga negara yang dilupakan ini dan anak-anak di sana.

Di Yaman
Setidaknya 85 ribu anak telah meninggal dunia karena kekurangan gizi sejak perang meletus 4 tahun lalu. Dua juta lebih membutuhkan penyembuhan melawan pembunuh yang sama ini. Seiring dengan kelaparan datang sistem kekebalan tubuh yang rentan dan seiring dengan sistem kekebalan tubuh rentan datang penyakit – diare, dan kolera, yang menginfeksi sekitar 1.000 anak setiap hari. Dana PBB untuk Anak-anak mengingatkan kita bahwa kehidupan dari hampir dua belas ribu anak di bawah umur sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan. Beberapa dari anak-anak inilah yang karenanya Paus Fransiskus mendorong kita untuk membagikan rezeki harian kita.

Namun seiring dengan kelaparan dan penyakit, terjadi pengeboman – hampir 6.500 anak-anak telah tewas atau terluka dari 19 ribu serangan udara yang telah terjadi di langit Yaman selama bertahun-tahun. Pada hari Rabu pagi, serangan udara menghantam sebuah rumah sakit – di tempat untuk membantu menyembuhkan dua pembunuh lainnya: kelaparan dan penyakit – menewaskan tujuh orang, di antaranya 4 adalah anak-anak.

Di Suriah
Delapan tahun kemudian sesudah perang, di Suriah, 20.000 nyawa anak-anak berisiko karena kekurangan gizi. Lima juta anak dilahirkan dalam konflik yang masih mengamuk ini. Ada 8 juta yang terancam oleh krisis ini. Tambang adalah penyebab utama kematian di kalangan pemuda di Suriah, dan dari 2 juta yang tidak lagi bisa bersekolah karena penghancuran lebih dari 50% infrastruktur pendidikan, hampir 1000 orang telah direkrut untuk angkat senjata. Kesehatan setiap anak berada dalam risiko, dengan setengah dari sistem pembuangan limbah tidak berfungsi dan dengan akses yang sangat rendah ke layanan sosial dasar.

Sudan Selatan
Kelaparan di Sudan Selatan menempatkan 7 juta orang dalam bahaya. Perang yang pecah 6 tahun yang lalu telah menyebabkan kurangnya air minum yang aman, sanitasi dasar, dan pengurangan produksi sereal. Kehidupan 860.000 anak di bawah umur berisiko, dan situasi yang mengkhawatirkan ini terus memburuk.

Paus Fransiskus memanggil keluar dari keegoisan
“Cinta kita tidak dapat tahan dengan ini” kata Paus Fransiskus, bahwa “rezeki yang diberikan kepada [semua] umat manusia, telah dimakan hanya oleh segelintir orang”. “Cinta Tuhan tidak dapat tahan dengan keegoisan ini karena tidak berbagi rezeki”.

27 Maret 2019
Oleh: Francesca Merlo
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s