Empat Langkah Misioner untuk Sukacita

Renungan Harian Misioner
Senin Prapaskah IV, 1 April 2019
Peringatan S. Hugo
Yes. 65:17-21; Yoh. 4:43-54

Kita telah memasuki pekan Prapaskah IV yang dikenal sebagai pekan laetare atau sukacita. Sukacita itu datang dari perjumpaan dengan Yesus Kristus. Dalam surat apostolik Evangelii Gaudium, ditegaskan pula, “Bersukacitalah yang berjumpa dengan Kristus” (EG 1). Mereka yang pergi menjumpai Tuhan Yesus dan/atau membiarkan dirinya dijumpai oleh Tuhan Yesus akan mendapatkan sukacita. Kegirangan dan sukacita itu pula yang dialami oleh pegawai istana dan seluruh keluarganya karena mendapati anaknya yang (hampir) mati telah hidup setelah Yesus mengatakan tentangnya, “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh. 4:50).

Di awal pekan laetare ini, kisah Yohanes 4:43-54 mengajak kita untuk empat hal: pergi menjumpai Yesus; memohon Yesus datang; buah perjumpaan, yaitu hidup dan sukacita; serta bertindak misioner dengan mengikutsertakan orang lain untuk percaya.

Sukacita sejati yang tidak lapuk datangnya dari Tuhan Yesus. Untuk itu, ajakan pertama bagi kita adalah pergi menjumpai Yesus, seperti pegawai istana yang dikisahkan dalam Injil Yohanes. “Ketika pegawai itu mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya” (Yoh. 4:47). Masa Prapaskah adalah masa yang intensif untuk datang kepada Yesus. Banyak jalan dan cara kita tempuh untuk datang kepada-Nya. Kita pergi menjumpai Tuhan Yesus di dalam doa. Bagaimana kuantitas dan kualitas doa kita? Apakah kita memberikan quality time untuk menjumpai Yesus? Atau, sebaliknya kita datang kepada Yesus hanya sekadar untuk mengisi waktu luang, waktu sisa atau residu waktu di antara waktu 24 jam yang diberikan Tuhan kepada kita? Saat-saat sudah capek, sudah ngantuk sesaat jelang tidur? Kita pergi menjumpai Tuhan Yesus juga dengan membaca dan merenungkan Sabda-Nya dalam kitab suci. Sesering dan sesetia apakah kita membaca, meresapkan dan merenungkan kata-kata-Nya? Adakah waktu yang kita prioritaskan untuk membaca kisah-Nya, merenungkan Sabda-Nya, dan menjalankan pesan-Nya?

Ajakan kedua adalah memohon Yesus datang. Saat pegawai istana itu pergi menjumpai Yesus ia, “meminta supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati” (Yoh. 4:47). Pergi menjumpai Tuhan Yesus tidak sekadar datang kepada-Nya, setelah urusannya sendiri selesai lalu pergi begitu saja. Egois dan egosentris kalau hanya demikian. Pergi menjumpai Tuhan Yesus berarti mau tinggal bersama-Nya, mempersilahkan Tuhan Yesus datang dan bersemayam dalam diri, hati dan hidupnya. Membiarkan diri disapa oleh Yesus, dijamah oleh-Nya, disembuhkan-Nya, dikuatkan-Nya, tetapi juga terbuka untuk ditegur-Nya karena kesalahan kita. Kita memohon Tuhan Yesus datang dan tinggal bersama kita, betah dan kerasan bersama kita. Biarkan diri kita menjadi tempat tinggal-Nya dan tubuh kita menjadi bait-Nya yang kudus.

Kalau sudah demikian, Tuhan Yesus akan meraja dalam diri dan hidup kita. Buahnya adalah hidup dan sukacita. Keterbukaan dan sikap percaya pegawai istana itu membiarkan Tuhan Yesus memperlihatkan kuasa-Nya, “’Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.’ Kata Yesus kepadanya, ‘Pergilah, anakmu hidup!’” (Yoh. 4:49-50). Keterbukaan dan sikap iman yang dipersembahkan sepenuhnya kepada Tuhan akan membuahkan hidup dan sukacita sejati.

Ajakan tidak berhenti di situ. Pada akhir kisah Yohanes itu diceritakan, “Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya” (Yoh. 4:53). Ajakan keempat adalah bertindak misioner, yakni dengan mengikutsertakan orang lain, mulai dari kerabat dekat sampai ke lingkaran yang lebih luas untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Sukacita sebagai buah perjumpaan dengan Tuhan Yesus tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan dan disebarluaskan supaya semakin banyak orang mengenal Yesus dan memercayai-Nya. Dengan demikian beroleh hidup dan sukacita kekal. Bertindaklah misioner dalam hidup sehari-hari dengan kata-kata dan tindakan sederhana yang membawa damai dan sukacita. Shalom!*** (NW)

(RD. M Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s