Menabur Keramahan Menuai Kehidupan

Renungan Harian Misioner
Senin Prapaskah V, 8 April 2019
Peringatan S. Redemptus de Ferento
Ad libitum:
2Raj 4:18b-21,32-37; Yoh 11:1-45

Kedua bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan satu nilai yang sangat penting dalam hidup bersama, yakni keramah-tamahan. Hospitalitas, begitu bahasa gaulnya! Sikap ramah tamah itu tampak jelas, misalnya, dalam cara orang menerima atau menjamu seorang tamu. Kitab Suci berkisah cukup banyak mengenai nilai yang sangat penting dalam hidup bersama ini. Dengan mendapat perlakuan yang ramah dari tuan rumah, seorang tamu atau orang asing akan merasa nyaman, di satu pihak. Di lain pihak, hospitalitas itu sejatinya juga mengungkapkan kualitas pribadi orang yang menerima tamu. Seseorang dengan kepribadian yang unggul!

Dalam bacaan pertama hari ini, perempuan Sunem yang dikisahkan itu mengungkapkan keluhuran pribadinya dalam menjamu Elisa, hamba Allah (lih. 2Raj 4:8-37). Bersama dengan suaminya, perempuan itu selalu membuka rumah mereka bagi Elisa yang berkunjung kepada mereka. Bahkan bagi Elisa disediakan satu ruangan khusus untuk menginap dengan segala perlengkapannya (2Raj 4:10). “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus,” kata perempuan itu kepada suaminya (2Raj 4:9). Sedangkan kedua kakak beradik Maria dan Marta dari Betania (Yoh 11:1-44; bdk. Luk 10:38-42) juga selalu terbuka menyambut Yesus yang datang berkunjung. Intinya, sikap ramah-tamah orang-orang ini, pada gilirannya mendapat imbalan yang melampaui apa yang mereka bayangkan. Dalam bacaan pertama, Elisa membangkitkan anak laki-laki perempuan Sunem yang telah meninggal itu. Begitu pula dalam bacaan Injil, saudara Maria dan Marta, yakni Lazarus, yang sudah empat hari meninggal dan dikuburkan, dibangkitkan oleh Yesus.

Di sini kita teringat sejenak akan kearifan Kristiani yang mengatakan bahwa siapapun yang menabur kebaikan akan beroleh kebaikan. “Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar,” kata Yesus mengingatkan murid-murid-Nya (Mat 10:41). Dengan cara serupa, Santo Paulus Rasul menulis: “Barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Gal 6:7-8) Penulis kitab Amsal juga memberi nasihat begini: “Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” (Ams 22:8-9)

Ketika kita masih kanak-kanak dulu, orang tua dan guru-guru kita di sekolah sering mengingatkan kita akan pepatah ini: “Siapa menggali lubang, dia sendiri yang akan masuk ke dalamnya.” Inilah kebijaksanaan dari Timur, yang diungkapkan secara negatif, dengan maksud positif, yakni jangan merancang kejahatan, jangan membodohi orang lain, jangan mencaci atau merendahkan sesama. Maksudnya jelas, hukum ‘tabur-tuai’ selalu berlaku dalam hidup manusia di mana saja dan kapan saja.

Dalam masa prapaskah ini, lewat olah tapa-puasa-pantang dengan doa dan karya amal, kita didorong untuk meningkatkan kualitas moral dan hidup rohani kita. Dalam Kitab Suci ada banyak contoh orang-orang yang berhati mulia, mereka yang berbuat baik dengan tulus tanpa pamrih. Artinya, kita perlu berdoa dengan lebih kuat dan dengan tiada henti-hentinya supaya nilai-nilai kebaikan, keramahtamahan, dan tenggang rasa selalu lebih unggul daripada nilai-nilai pemecah-belah yang merugikan hidup bermasyarakat dan bernegara. Semoga Tuhan juga membangkitkan (kembali) semangat kita untuk menjadi sarana pembawa rahmat bagi sesama. Siapa menabur keramahan, akan menuai kehidupan!

(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Wakil Ketua Komisi Karya Misioner KWI)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita.Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s