Misionaris yang Relevan

Renungan Harian Misioner
Kamis Prapaskah V, 11 April 2019
Peringatan S. Stanislaus dr Krakow
Kej. 17:3-9; Yoh. 8:51-59

Barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya […] Bapa-Kulah yang memuliakan Aku […] Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya […]

Kata-kata Yesus ini bagaikan pedang bermata dua menghunjam jantung kehidupan orang Yahudi. Mereka menganggap Yesus keterlaluan, kerasukan setan, menghujat Allah, melebihi para nabi bahkan Bapa Abraham mereka.
Bagi mereka pewartaan Yesus ini tidak cocok, tidak relevan, bahkan sesat. Karena itu, sikap mereka melawan bahkan mau merajam Dia.

Yesus, misionaris agung, terus mewartakan kebenaran, kendati ditolak, dianggap sesat; Ia tidak dengan mudah menyenangkan pendengarnya; Ia tidak harus kehilangan kebenaran demi mendapatkan applaus, pro, penerimaan atau sambutan dari orang-orang semasa. Ia bukan misionaris murahan yang orientasinya adalah menyenangkan pendengarnya, mencari jumlah pendukung, mengumpulkan fans dan pengagum-pengagum. Ia terus mewartakan kebenaran serta apa saja yang seharusnya menjadi ‘’kabar gembira’’ dan menyelamatkan para pendengarNya.

Saya teringat Paus Fransiskus; sejak awal kepausannya dianggap banyak kalangan sebagai Paus yang aneh, bahkan dianggap tidak popular dan tidak relevan dalam ajaran dan ajakan-ajakannya. Misalnya: ia tidak gunakan mobil kepausan tetapi memilih naik bus bersama kardinal lainnya sesudah pemilihan menjadi Paus; ia menerima migran di kompleks Vatikan; pada hari Kamis Putih, mengenang perjamuan Tuhan, ia membasuh bukan kaki para uskup dan imam tetapi para narapidana, dari bermacam agama bahkan yang wanita. Padahal di balik semua itu, ia hanya mau mewartakan kebenaran dalam bertindak rendah hati, apapun jabatanmu; menyambut siapa saja, yang malang, tanpa sandang/pangan dan papan, yang marginal, yang miskin papa, dengan kasih persaudaraan, bahwa kasih itu universal, tidak memilih-milih. Bahkan dengan negara-negara dan pemimpin Islam ia datang, mengulurkan tangan, membawa hati dan dengan lantang mengajak mereka bersama-sama melawan kekerasan dan fanatisme.

Di tengah dunia yang kian keras, egois dan suka mempertahankan kenyamanan pribadi, di tengah masyarakat yang ingin kehendaknya, pikirannya, ide pribadinya diutamakan, dipentingkan dan dijadikan azas kebenaran, seorang misionaris perlu tanpa gentar mewartakan relevansi Kabar Gembira, mewartakan otoritas Allah, memberitakan kedalaman kasih Allah yang jauh melampaui pikiran dan cara pandang manusia.

Mengapa Yesus begitu teguh mewartakan dan begitu damai dengan diriNya sendiri dan begitu dilindungi, disertai dan di’’hadiri’’ oleh Allah sendiri? Satu alasan saja: Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya! Oh, inilah kekuatan, kesejatian, otentisitas seorang misionaris. Mengenal Allah BapaNya: terus menerus searah, sejalan, sejiwa dengan kehendak Bapa. Menaati, menuruti firman-Nya; tidak mendua, tidak menawar-nawar, percaya pada firmanNya, pada titah-Nya; setia dan taat pada perjanjian dengan-Nya. Maka, kebenaran tetap mengalir bagaikan air mancur di tengah batu karang padas. Maka, Ia juga tidak melunakkan atau menurunkan kadar kebenaran kendati dunia menolak dan menginginkan yang lain. Lebih dari itu, terhadap segala permusuhan, penolakan, bahkan tindakan kekerasan, Tuhan melindungi-Nya.

Mengapa Paus Fransiskus berani melawan arus, termasuk arus di dalam kalangan Gereja sendiri? Karena ia berupaya terus mengenal dan mencari kehendak Allah, patuh dan taat pada firman-Nya. Karena ia serentak mengembangkan dirinya sebagai misionaris yang saleh, bersahaja, rendah hati, murah hati, berlimpah kasih dan kerahiman, sesuai wajah Allah sejati, seperti seharusnya wajah dan hati Gereja sang Anak Domba. Misionaris sejati tidak perlu takut menjadi tidak popular, tidak relevan bagi mata dunia. Justru, seperti Paus Fransiskus, seorang misionaris akan lebih menyentuh dan mengubah banyak orang. Raja Emirat Arab, negeri Maroko, bahkan dunia Arab ikut ulurkan tangan dalam pelukan damai, semoga jadi benih sebuah dunia baru.

Menjelang Paskah nanti, sesudah masa pemurnian jiwa dan raga, keutamaan dan iman, kita semakin dikuatkan untuk mengangkat tinggi-tinggi salib dan kabar gembira yang dikandung-Nya dan mewartakan-Nya dengan gagah berani. Bukan untuk menyenangkan dunia, tetapi untuk mewartakan kebenaran dan keselamatan bagi dunia. Untuk itu, seorang misionaris perlu: seperti Yesus terus menerus mengenal Allah dan mematuhi firman-Nya (tiada hari tanpa lectio divina); teguh percaya bahwa Ia yang memanggil dan mengutus adalah Ia yang menyertai; senantiasa berbuat apa yang berkenan pada-Nya bukan pada dunia atau pada manusia (Yoh 8:29). Kita sadar, mengapa Yesus mendesak kita agar tinggal di dalam kasih Bapa dan taat kepada-Nya (Yoh 15:9-10). Inilah kunci yang akan membuat seorang misionaris tetap relevan, karena Ia menghadirkan wajah dan hati Allah di tengah dunia! Dibutuhkan misionaris yang dekat pada yang lemah, marginal, pun pada yang penuh kekerasan bahkan yang berbeda kepercayaan. Iman, harapan baik, kasih, kerendahan hati dan kemurahan akan membuatmu relevan dan menjawab kebutuhan jaman!

(RD. Terry Thomas Ponomban – Pastor Paroki St. Antonius Padua Tataaran, Keuskupan Manado)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s