Jalan-Ku Tidak Selalu Mulus

Renungan Harian Misioner
Jumat Prapaskah V, 12 April 2019
Peringatan S.Yulius I, S. Sabas dr Goth
Yer. 20:10-13; Yoh. 10:31-42

Pekan suci sudah di depan mata. Jumat Agung tinggal satu minggu lagi. Di hari itu kita mengingat kembali Yesus yang menyerahkan diri-Nya untuk diadili, disiksa, dihina dan akhirnya disalibkan.

Pada bacaan Injil hari ini, untuk yang kesekian kalinya orang-orang Yahudi hendak melempari Yesus dengan batu (Yoh. 10:31), menangkap Dia, namun Yesus selalu saja mampu meluputkan diri dari tangan orang banyak (Yoh. 10:39). Hal ini mengingatkan kita bahwa di dalam mengikuti Yesus, kita tidak bisa hanya mau enaknya saja. Hal yang sama dialami Yeremia pada bacaan pertama, dia pun pada saat melaksanakan tugas panggilan Tuhan mendapatkan celaan dan cemoohan, tetapi bagaimana pun penderitaannya dan cara Yeremia menyikapinya, Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Tuhan tetap menyertainya seperti pahlawan yang gagah (Yer. 20 : 11) dan dia tetap memuji Tuhan (Yer. 20 : 13).

Seperti Yesus dan Yeremia, kita pun akan mengalami penolakan oleh dunia. Di saat gereja dan ajarannya dicerca, kita mungkin merasa salib yang kita pikul terasa berat. Tapi janganlah kita berkecil hati, karena Allah kita lebih besar dari apapun juga. Dia lebih besar daripada yang dapat kita pahami melalui pikiran kita. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Kita senantiasa dilindungi-Nya selama kita berada bersama-Nya. Dia juga akan selalu menyertai kita. Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa (Yer. 20:11a). Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Yesus – dahulu dan sekarang – adalah setara dengan Bapa – satu dengan Bapa dan Roh Kudus dalam kehidupan Trinitas (Allah Tritunggal Mahakudus). Kita tentunya tidak setara dengan Bapa surgawi, namun kita adalah anak-anak-Nya melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Rasul Paulus menulis, “Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm. 8:14-16).

Sebagai misionaris, setiap saat kita diingatkan untuk bersandar pada Allah. Jalan yang ada di hadapan kita mungkin kelihatan susah, tapi kita harus berani melangkah bersama Yesus. Kadang-kadang ada waktu di mana kita merasa spiritualitas kita kering dan ada keraguan ketika Allah memperkenankan adanya penderitaan dan hambatan dalam pelayanan atau pada saat kita merasa jauh sekali dari diri-Nya. Masalahnya sebenarnya terletak dalam hati kita. Kita merasa inferior dan tak pantas untuk menjalin relasi penuh harapan dengan Dia. Atau merasa tidak mampu, padahal Tuhan mengharapkan agar kita dapat melakukan semua yang bisa kita kerjakan dan Dia yang akan melakukan hal yang tidak bisa kita kerjakan. Banyak alasan-alasan yang terkadang tidak dapat kita pahami. Tetapi kita harus berani mengambil risiko bagi janji Tuhan, seperti Sabas dari Goth yang dikenal sebagai seorang martir karena giat sekali meneguhkan iman orang-orang Kristiani di Goth. Ia orang miskin dan tidak mempunyai kedudukan dalam masyarakat, seperti Yesus anak tukang kayu, tetapi ia beriman teguh dan menyatakan dirinya sebagai orang Kristiani yang rela mati demi Kristus.

Dalam persiapan memasuki Pekan Suci minggu depan, mari kita membuang dari diri kita setiap rintangan yang menghalangi kita untuk mengenal dan mengalami kasih Allah Bapa. Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Putera Allah (lih Yoh. 10:36), satu dengan Bapa (Yoh. 10:30) dan mempunyai suatu relasi yang pribadi dan intim dengan Allah. Bagi orang-orang Yahudi, ini adalah hujat. Tetapi bagi kita, ini adalah fondasi dari pengharapan kita bahwa kita juga dapat mengenal dan mengalami Allah sebagai Bapa kita dan kita sendiri sebagai anak-anak-Nya. Jadi Bapa pasti tidak akan membiarkan kita anak-anak-Nya tertimpa masalah apalagi misionaris adalah pelayan buat sesama dan melayani demi kemuliaan nama-Nya semata.

Masalah, rintangan dan halangan akan terasa kecil jika kita menyadari diri dekat dengan Allah Bapa yang Maha Besar. Seperti yang dikatakan Romo Terry Thomas Ponomban dalam renungan misioner Kamis, 11-April-2019: teguh percaya bahwa Ia yang memanggil dan mengutus adalah Ia yang menyertai kita, kita tidak akan dibiarkan sendiri sebab kita senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya bukan pada dunia atau pada manusia (Yoh. 8:29).

(Helen Romli, Ketua Komisi Penyebaran dan Promosi, Yayasan Lembaga Alkitab Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s