Misionaris: Mencari dan Memberi Kesaksian Tentang Perkara yang di Atas

Renungan Harian Misioner
MINGGU HARI RAYA PASKAH, 21 April 2019
Kis. 10:34a,37-43; Kol. 3:1-4 atau 1Kor. 5:6b-8; Yoh. 20:1-9

Renungan Harian dari Yung-Fo

Sahabat misioner yang terkasih, Selamat Hari Raya Paskah & Shalom!

Pada Hari Raya Paskah ini, Firman Tuhan dalam Bacaan Pertama mempertemukan kita dengan Rasul Santo Petrus dalam misi kepada Kornelius. Selanjutnya kita dipertemukan dengan Pemazmur, yang mengundang kita semua untuk bergembira atas tindakan Tuhan dan kasih-setia Tuhan yang bersifat abadi dan kekal. Rasul Santo Paulus melalui Surat kepada Jemaat di Korintus mengajak kita semua kaum beriman untuk “mencari perkara yang di atas, di mana Kristus berada, duduk di sebelah kanan Allah.” Kita juga dipertemukan dengan para murid yang bergegas ke makam Yesus dan mendapati bahwa makam itu kosong. Dari Yohanes, murid yang dikasihi Tuhan, kita mendapat kado Paskah yang khas Yohanes, yang diungkapnya menjadi kesaksian imannya, “ia melihatnya dan percaya!

Konsentrasi permenungan kita adalah tentang bagaimana pencarian “perkara-perkara yang di atas itu” oleh para murid, yang selanjunya juga menjadi para misionaris untuk pemberitaan perkara tersebut. Bagaimana mereka diubah dan dibarui oleh perkara itu dan selanjutnya menjadi saksi-saksi mengenai perkara yang di atas tersebut. Selanjutnya bagaimana perubahan dan pembaharuan itu juga dapat terjadi di dalam hidup kita sebagai “pewaris” perkara-perkara yang di atas tersebut!

1. Petrus dan perkara yang di atas
Tentang “perkara yang di atas” itu, rujukan kita adalah Surat Rasul Santo Paulus kepada jemaat di Kolose. Bagi Paulus, yang dimaksudkan dengan perkara yang di atas itu tidak lepas dari hubungan dengan Kristus dan melalui Kristus ada hubungan dengan Allah. Pokok dari perkara yang di atas itu ialah bahwa, “Yesus Kristus adalah hidup kita”, karena itulah Paulus meminta kita melalui Jemaat di Kolose untuk senantiasa mencari Kristus, untuk selanjutnya membangun hidup di dalam persekutuan dengan Dia, (Kol. 3 : 1-4).

Untuk dapat menerima perkara yang di atas ini, Paulus memberi syarat bahwa orang harus melepaskan perkara yang di bumi, (Kol. 3 : 2). Dan pada poin inilah kita dapat belajar dari pergumulan para tokoh iman, khususnya Rasul Santo Petrus. Di dalam Bacaan Injil, setelah mendengar berita bahwa tubuh Yesus telah diambil orang, Petrus dan Yohanes berlari ke makam untuk mengecek kebenaran berita dari Maria Magdalena ini, (Yoh. 20 : 1-7). Menempatkan pengalaman Maria Magdalena dan para murid ini dalam konteks “perkara yang di atas,” kita segera akan melihat bahwa kebangkitan dan hidup adalah perkara yang di atas, sementara kebinasaan dan maut adalah perkara yang di bumi. Pengalaman para murid menghadapi peristiwa kubur kosong ini menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya memahami tentang kebangkitan Yesus ini, yang didahului oleh sengsara dan wafat-Nya sebagai suatu perkara yang di atas, (Bdk. Mat. 16 : 21-22). Maria Magdalena masih berbicara tentang tubuh Yesus yang jasmaniah yang tidak ada lagi di dalam kubur itu, “Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya, dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan” (Yoh. 20 : 2). Penginjil Yohanes kemudian menjelaskan hal ini, ketika ia menulis “Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci, yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati” (Yoh. 20 : 9). Rasul Petrus yang kita jumpai pada Hari Kebangkitan Yesus ini adalah Petrus yang masih terikat dengan perkara yang di bumi dan cara pandang duniawi. Petrus belum memahami isi Kitab Suci dan nampaknya belum menerima sepenuhnya bahwa Kebangkitan Yesus ini sebagai suatu “peristiwa yang di atas”, yang harus terjadi sesuai dengan rancangan Allah (Mat. 16 : 21-23).

Ketika kita kemudian menjumpai Petrus dalam perjumpaannya dengan perwira Kornelius, Petrus sudah tampil beda. Petrus yang tampil dalam kisah ini adalah seorang rasul yang tidak lagi ragu atau menolak sengsara dan wafat serta kebangkitan Yesus. Petrus ini jelas sudah dicerahkan, sehingga mampu memahami segala sesuatu tentang Yesus, tentang hidup dan karya-Nya, tentang sengsara dan wafat-Nya, dan tentang kebangkitan-Nya dari antara orang mati sebagai perkara yang dari atas, yang dirancang Allah. Kepada Kornelius dan keluarganya, inilah kesaksian yang disampaikan oleh Petrus tentang Yesus, bahwa “Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya”. Ke dalam barisan para saksi iman ini jugalah Petrus menempatkan dirinya (Kis. 10 : 42-43). Petrus ini telah menggumuli perkara-perkara yang di atas, ia memahaminya dengan sangat baik, dan kemudian memberikan kesaksian tentang perkara-perkara mengenai Tuhan kita Yesus Kristus sebagai kesaksian & pemberitaan iman kepada Kornelius dan keluarganya!

2. Yohanes dan perkara yang di atas
Yohanes ini adalah “murid yang lain” yang ikut bersama Petrus pergi mengunjungi makam Yesus setelah mendengar khabar dari Maria Magdalena. Berbeda dengan Petrus yang cekatan berlari, murid yang lain ini lebih kalem dan nampaknya meditatif. Yohanes melihat segala sesuatu dan merenungkannya dan kemudian membuat keputusan untuk dirinya tentang peristiwa yang dihadapinya. Nampaknya bahwa Yohanes sudah lebih maju dari Petrus ketika mereka mendapati makam Yesus yang kosong. Sebagai “murid yang dikasihi Tuhan” Yohanes nampaknya sudah mengimani bahwa Yesus Kristus sudah bangkit sebagaimana telah banyak kali dikatakan-Nya sebelum peristiwa itu terjadi, (Bdk. Mat. 16 : 21 par).

Keyakinan iman Yohanes ini ditegaskannya dalam kalimat singkat, “ia melihatnya dan percaya” (Yoh. 20 : 8), suatu keyakinan iman yang bertumbuh dari kebersamaan dan kedekatannya dengan Yesus, hingga Yohanes tidak ragu-ragu untuk mengakui kebangkitan itu sebagai suatu perkara yang dari atas, yang dirancang Allah untuk umat manusia.

3. Petrus, Yohanes, Paulus dan para misionaris.
Melewati pergumulan hidup, untuk melihat dan mempertimbangkan segala sesuatu dari sisi-tilik iman, bahwa di dalam Yesus Kristus, Tuhan Allah kita telah merancang hidup dan kebangkitan bagi kita, merupakan pergumulan atau proses hidup yang harus dilalui oleh setiap misionaris. Dia harus lebih dahulu yakin akan perkara-perkara itu, sehingga seperti Petrus dan Yohanes, mampu memberi kesaksian tentangnya dan membawa orang lain kepada keyakinan iman yang sama, yakni bahwa Yesus ini telah melewati sengsara dan wafat, tetapi dibangkitkan Allah, dan selanjutnya telah ditentukan untuk menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Pribadi Yesus Kristus yang telah dibangkitkan Allah inilah, yang oleh Rasul Paulus ditegaskan sebagai Pribadi yang harus dicari, karena di dalam tangan-Nya ada Hidup & Kebangkitan, yang merupakan perkara yang dari atas itu (Kol. 3 : 4).

Demikianlah, seperti para tokoh iman: Petrus, Yohanes dan Paulus, setiap misionaris haruslah orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang untuk mencari perkara-perkara yang di atas, perkara-perkara hidup di alam kebangkitan, memahaminya dengan baik, supaya akhirnya dapat memberi kesaksian tentang perkara-perkara itu kepada sesama manusia, agar dapat mengantarkan mereka semua kepada iman akan Yesus. Yesus itulah Pribadi yang menjadi dasar bagi perkara-perkara yang di atas itu. Selamat Paskah untuk kita semuanya. Amin! (rmg).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s