Mengapa Engkau Menangis?

Renungan Harian Misioner
Selasa Oktaf Paskah, 23 April 2019
Peringatan S. Adelbertus, S. Georgius
Kis. 2:36-41; Yoh. 20:11-18

Dalam peristiwa kematian, biasanya yang dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan adalah kesedihan dan kehilangan. Ini juga yang dialami oleh Maria Magdalena dalam kisah Injil hari ini. Yesus yang telah wafat disalib, lalu dikuburkan. Yohanes berkisah di awal, “[…] pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu […].”

Maria Magdalena adalah salah seorang yang mengikuti perjalanan sengsara Yesus dari dekat hingga sampai tiang penyaliban. Kesedihan dan kehilangannya tak terbayangkan ketika Yesus akhirnya wafat. Ia bukan saja hanya kehilangan seorang Guru tetapi juga seorang penyelamat yang telah membebaskannya dari dosa dan kekelaman masa lalunya. Yesus menerima Maria dengan belas kasih-Nya, dan itulah yang menjadi sebab pertobatannya yang radikal, setia mengikuti Yesus.

Betapa Maria terguncang ketika sang Penyelamat wafat dan tak ada lagi. Ia datang pagi-pagi benar ke kubur Yesus, ingin berada di dekat Yesus, karena belum mampu menerima kepergian-Nya. Namun ia menemukan kubur yang kosong, hal itu membuatnya semakin berduka karena tidak dapat lagi melihat bahkan hanya jasad Yesus. Ia pun menangis.

Kehilangan, selalu membuat kita menangis. Ada yang tiba-tiba lenyap, tak meninggalkan bekas atau jejak kecuali kenangan atau ingatan saja. Dan kehilangan itu sering datang secara tiba-tiba, seperti sebuah tiupan angin yang memadamkan nyala api lilin. Seketika cahaya lenyap berganti kegelapan. Begitu cepat terjadi. Namun begitu dalam rasa duka yang digoreskannya di dalam hati.

Apa yang ingin disampaikan Penginjil Yohanes dari kisahnya? Maria Magdalena adalah kita. Kita sering terpaku pada kematian yang tiba-tiba merenggut hidup orang-orang dekat kita. Dan itu mengguncang diri kita, seperti halnya kematian Yesus mengguncang Maria. Mengapa? Karena kita melihat kematian sebagai akhir. Hilang. Selesai. Putus. Ada yang diambil dari kita. Ada yang dirampas secara tiba-tiba. Lenyap seketika. Dan ketika kita menyadarinya, kita seperti lumpuh, tak mampu bergerak, tak mampu berbuat apa-apa. Tak bisa mengubah apapun. Hanya bisa menangis. Berduka.

Tapi bukankah kita percaya kematian itu tidak melenyapkan kehidupan, melainkan mengubahnya? Dan jika Allah mengubah sesuatu, bukankah pasti membuatnya menjadi “lebih baik?”

Malaikat bertanya pada Maria, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Kemudian Yesus menanyakan hal yang sama. Bahkan Yesus bertanya lebih lanjut, “Siapakah yang engkau cari?” Maria tidak mengenali Yesus karena terpaku pada rasa kehilangan dan kesedihannya. Sama seperti kita juga, ketika kita terpaku akan kehilangan seseorang, kita tidak akan mampu melihat bahwa kematian mengubah kehidupan, bukan melenyapkannya. Kita tidak akan mampu menemukan Yesus yang bangkit dalam kematian itu. Kita tenggelam dalam dukacita, alih-alih bersuka cita karena dengan kematian, hidup orang yang kita cintai telah diubah Allah. Bukan lagi kehidupan fana melainkan kehidupan abadi. Dan kehidupan abadi hanya ada bersama Allah, sang pemilik hidup itu sendiri.

Semoga kisah kebangkitan Yesus, membuka mata kita semua dalam melihat kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai awal hidup baru bersama Allah. Dan semoga kita selalu ingat pertanyaan Yesus pada Maria Magdalena, “Mengapa engkau menangis?” adalah sebuah pesan dari Yesus agar Maria berhenti berduka dan menyadari kematian tidak dapat mengalahkan hidup kekal yang dijanjikan Allah kepada seluruh umat-Nya.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s