Berjalan Bersama Yesus ke Emaus

Renungan Harian Misioner
Rabu Oktaf Paskah, 24 April 2019
Peringatan S. Fidelis dr Sigmaringen, S. Rosa Virginia Pelletier
Kis. 3:1-10; Luk. 24:13-35

Emaus nama sebuah kampung. Letaknya jauh dari Yerusalem, dikatakan kira-kira tujuh mil jauhnya. Bukan karena tempat atau namanya yang membuat Emaus ini terkenal di kalangan umat Kristiani. Tetapi kisah yang terjadi di tempat itu, momen pasca wafat Kristus yang melibatkan dua orang murid, yaitu: seorang bernama Kleopas dan seorang lagi tidak disebutkan namanya. Apa yang istimewa dari kedua murid ini sehingga Yesus memilih mereka dan menampakkan diri kepada mereka, setelah sebelumnya pada Maria Magdalena dan Simon Petrus? Bahkan pada mereka bukan hanya kehadiran yang sekejap saja, tetapi Yesus menemani langkah mereka, sepanjang perjalanan mereka, hingga duduk makan bersama mereka dan sekali lagi “[…] mengambil roti, mengucap berkat lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka” (Luk. 24:30).

Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya akan segala sesuatu yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Luk. 24:25-26). Murid-murid yang bodoh yang dipilih Yesus hari itu, bukan “murid kesayangan-Nya” atau “para rasul yang berada di lingkaran terdekat dengan-Nya”. Mereka berdua yang mendapatkan prestige perjumpaan kembali dengan Yesus sang Guru, yang telah bangkit mengalahkan kematian. Dan mereka pula yang berkesempatan mengalami pengajaran dan perjamuan pertama bersama sang Guru setelah kebangkitan-Nya. Tuhan melawat murid-murid-Nya yang membutuhkan kehadiran-Nya, di mana pun mereka, siapa pun mereka. Ia pula yang memilih. Bahkan yang bodoh pun tidak dikecualikan-Nya.

Saat itu kedua murid dalam keadaan sedih dan berduka. “[…] Maka berhentilah mereka dengan muka muram” (Luk. 24:17). Mereka bersedih karena berharap Yesus tidak mati, bahwa Yesus datang untuk membebaskan bangsa Israel. Mereka mengharapkan pembebasan di dunia. Lalu Yesus pun tidak tinggal diam, Ia datang kembali. Meskipun Ia sebenarnya telah banyak memberi pesan sebelum kepergian-Nya, tapi ternyata pesan-pesan-Nya tidak sungguh-sungguh dipahami murid-murid-Nya. Mereka belum dapat menerima bahwa Putera Allah harus mati demi membebaskan umat manusia. Bagi mereka, kematian tanda kekalahan, selesai, berakhir… Tidak ada lagi harapan pada sang Mesias. Sebaliknya, tanpa kematian itu Yesus tak akan pernah dapat menjadi Penyelamat dunia, membebaskan umat manusia dari dosa. Konsep penyelamatan yang berbeda. Dan sekali lagi dengan sabar Yesus menjelaskan pada mereka. Dan hati mereka kembali berkobar-kobar.

Ketika Yesus memecahkan roti, barulah mata mereka terbuka dan seketika mengenali sosok sang Guru. Yesus pun lenyap. Mengapa? Karena mereka telah “sadar”, mereka telah “mengenali Yesus”, iman mereka telah disembuhkan dan mereka telah siap untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Ingatkah kita akan momen sepanjang jalan ke Emaus itu dalam hidup kita sendiri? Ketika iman kita goyah karena kita tenggelam dalam kesedihan, merasa putus asa karena mengira harapan telah hilang, ketika wajah kita muram tak mampu bersuka cita? Di mana Tuhan berada? Di sepanjang jalan bersama kita. Hanya saja seperti Kleopas, kita sering kali tidak mengenali-Nya, karena kita tenggelam dengan perasaan dan pemikiran kita sendiri. Kita lupa akan iman dan ajaran-Nya. Tetapi seperti halnya pada Kleopas, Tuhan selalu bersabar menjelaskan kepada kita segala yang belum kita pahami. Tuhan berada di sepanjang jalan menuju Emaus, tak pernah meninggalkan kita. Dan di ujung perjalanan itu, Ia akan sekali lagi mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya pada kita. Sebagai bukti cinta-Nya pada kita, pemberian diri-Nya yang tak akan pernah selesai dan berlangsung sepanjang hidup kita semua.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan komentar