Tuhan Menembus Pintu Hati Terkunci

Renungan Harian Misioner
Hari Minggu Paskah II, 28 April 2019
Kis. 5:12-16; Mzm. 118:2-4,22-24,25-27a; Why. 1:9-11a,12-13,17-19; Yoh. 20:19-31

Pasca wafatnya Yesus, para rasul berkumpul dengan pintu-pintu terkunci. Peristiwa sengsara dan wafat Yesus mengguncang iman mereka, menggentarkan hati mereka. Mereka ketakutan. Namun di saat-saat kegelapan itu, Yesus datang dan berkata, “[…] Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh 20 : 19).

Dalam momen istimewa tersebut para rasul diberi kesempatan melihat bekas luka pada tangan dan lambung Yesus. Manusia, sering kali memerlukan bukti agar dapat percaya. Yesus memahami hal tersebut. Itu pun yang kemudian dituntut oleh Tomas yang disebut Didimus. Ia melewatkan momen istimewa tersebut dan menolak untuk percaya, kecuali bila ia dapat mengalami pengalaman yang sama dengan rasul lainnya, melihat bekas luka, bukti bahwa Yesus sang Guru yang telah disalib dan wafat itu benar-benar kini telah bangkit.

Yesus dengan besar cinta-Nya tidak menganggap remeh keinginan Tomas, delapan hari kemudian Ia kembali datang dan bahkan tidak seperti pada para rasul Ia hanya memperlihatkan bekas-bekas luka-Nya, Yesus berkata pada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tangan-Mu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh 20 : 27).

Kita sering kali berlaku seperti Tomas, meragukan kedatangan Yesus, menyangkal kehadiran-Nya. Kita memerlukan suatu bukti yang nyata, yang bisa kita lihat dan rasakan sendiri. Kesaksian orang lain, bahkan orang-orang terdekat dengan kita sekali pun, yang berjalan bersama kita, yang kita kenal dan percayai, tetap tidak mampu meyakinkan kita. Ada yang menutup mata hati kita, kekecewaankah itu?

Tomas adalah salah satu murid dari dua belas murid pertama Yesus. Dia berada di sepanjang jalan bersama Yesus. Dia telah mendengar langsung Yesus mengajar. Dia telah melihat sendiri mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus. Dia pun telah mendengarkan pesan-pesan Yesus mengenai sengsara dan kematian yang harus dilewati-Nya. Ketidakpercayaannya akan kedatangan Yesus kembali merupakan bukti bahwa Tomas belum sungguh-sungguh memahami pesan-pesan sang Guru. Juga karena Tomas memiliki ekspektasi tersendiri pada Yesus. Akibatnya ketika sang Guru harus wafat di kayu salib, Tomas jatuh dalam kekecewaan. Hilang harapan.

Dalam kehidupan ini, mengikuti Kristus bukan berarti kita kemudian akan mendapatkan jaminan kehidupan yang mudah, baik dan sejahtera selalu. Keselamatan yang dijanjikan oleh Tuhan bukanlah keselamatan dunia. Hidup kekal yang dijanjikan-Nya bukanlah hidup duniawi. Siklus hidup manusia tidak akan pernah berubah atau berbeda: lahir, tumbuh, mati. Sehat dan sakit adalah dua kondisi yang harus dialami. Seperti halnya kegembiraan dan kesedihan. Pertanyaannya, apakah kita hanya percaya dan menerima Yesus Kristus dalam suka tanpa duka?

Belajar dari kisah Injil Yohanes mengenai Tomas, mari kita melakukan pesan yang Tuhan Yesus sampaikan, “[…] Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20 : 29). Ketika kegelapan, ketakutan menyelimuti hidup kita, jika pun itu membuat hati kita gentar, janganlah hal tersebut mengecilkan/menggoyahkan iman kita. Mari mengingat kembali bahwa Tuhan tidak meninggalkan para rasul sendirian, bahkan Ia tidak meninggalkan Tomas, murid yang imannya kecil. Seperti para rasul, kita juga pasti akan mengalami masa-masa sulit itu. Tetapi kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan pasti datang, menembus pintu-pintu (hati) yang terkunci dan sekali lagi berdiri di tengah-tengah kita dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.”

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s