Roti Hidup: Menyatu dengan Kehidupan Yesus dan Siap Berbagi Kehidupan

Renungan Harian Misioner
Rabu Paskah III, 8 Mei 2019
Peringatan S. Bonifasius IV, S. Benediktus II, S. Aloysius Rabata
Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh. 6:35-40

Bacaan hari ini merupakan bagian dari satu kesatuan pewartaan dalam Injil Yohanes yang berbicara tentang Roti Hidup (Yoh. 6:25-59). Jika teks ini dipahami dalam keseluruhan konteks pewartaan Injil Yohanes bab 6; yang diawali dengan kisah penggandaan roti maka tema ini dapat dipahami dalam dua dimensi: Pertama, Yesus sedang berbicara tentang tubuh-Nya sendiri. Roti Hidup dalam arti sebagai tubuh rohani dan makanan Jiwa. Kedua, juga dapat dipahami sebagai bahasa berbagi atas pangan modern dengan sesama yang berkekurangan.

Dalam awal bab 6 Injil Yohanes ini terdapat kisah Yesus memberi makan kepada lima ribu orang dengan menggandakan lima roti jelai dan dua ikan dari tangan seorang anak kecil. Ketika orang banyak berbondong-bondong mencari Yesus, Ia mengatakan,”[…] kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal […]” (Yoh. 6:26-27). Pertanyaan orang banyak, “[…] Apakah yang harus kami perbuat? […]” (Yoh. 6:28) Jawab Yesus “[…] hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh. 6:29).

Apa dasar bagi orang banyak untuk percaya bahwa Yesus adalah utusan Allah dari peristiwa penggandaan roti itu sendiri? Hal yang harus dipercaya oleh orang banyak dari peristiwa ini adalah:

  1. Yesus menggandakan sesuatu yang sedikit dari tangan orang sederhana atau anak kecil.
  2. Orang banyak mesti duduk sebelum Yesus mengucapkan berkat atas roti dan ikan. Sikap duduk menjadi simbol kesetaraan. Tidak ada orang yang merasa lebih tinggi dari yang lain.
  3. Mengucap syukur kepada Allah sumber segala rejeki. Apapun yang dimiliki entah banyak maupun sedikit semua berasal dari Allah.
  4. Segala yang datang dari Allah harus dibagi-bagi untuk semua orang, bukannya disimpan dan dimakan sendiri.

Orang banyak yang datang mencari Yesus setelah makan kenyang mesti memahami makna tindakan penggandaan roti ini secara utuh dan benar, bukan sekedar kenyang. Dalam hal ini, Yesus tidak mendemonstrasikan ke-Allahan-Nya atau membuat sensasi seperti seorang pemain sulap supaya Ia dikagumi oleh banyak orang. Mukjizat penggandaan roti merupakan tindakan ilahi melalui proses insani dengan maksud pertobatan hati. Yesus membuat kelimpahan dari hal yang kurang dan tidak berarti, asal orang mau duduk dalam kesetaraan, tahu bersyukur dan siap untuk berbagi. Dari tindakan belas kasih memberi makan kepada orang banyak itu ternyata menjadi pintu masuk bagi Yesus untuk mengajarkan peran diri-Nya sebagai Roti Hidup.

Itulah sebabnya beberapa unsur yang dikisahkan dalam peristiwa penggandaan roti ditemukan lagi dalam kisah Perjamuan Malam Terakhir menurut Injil Sinoptik. Para murid duduk bersama Yesus makan perjamuan malam terakhir, Yesus mengambil Roti mengucap doa berkat lalu membagi-bagikannya kepada mereka. Kesadaran iman yang semacam inilah yang memungkinkan kita melihat wajah Yesus dalam tindakan insani termasuk dalam perayaan Ekaristi. Dalam konteks ini maka Ekaristi juga dipahami sebagai perayaan berbagi kehidupan. Kehidupan ilahi diberikan kepada kita dalam Ekaristi dan sekaligus membekali kita untuk diutus berbagi roti dunia dengan sesama yang lapar. Ekaristi menyatukan kita dengan Yesus sedalam-dalamnya; cita-cita, semangat dan nasibnya. Kita sungguh percaya bahwa yang kita santap adalah tubuh Tuhan maka seluruh daya hidup ilahi meresap dalam kemanusiaan kita. Oleh karena itu, Ia tidak bisa menjadi “vitamin jiwa personal” seseorang, melainkan harus menjadi daya hidup Gereja yang misioner.

Daya ilahi tidak dicurahkan untuk memperkuat egoisme rohani pribadi, melainkan untuk memperkokoh persekutuan yang saling memerhatikan dan saling melayani. Tidak cukup hanya rajin datang ke Gereja dan merayakan Ekaristi demi keselamatan jiwa pribadi. Melainkan setiap orang yang datang merayakan Ekaristi menyatukan hidupnya sepenuhnya dengan daya hidup ilahi dan siap untuk berbagi suka duka dengan sesama. Semakin orang tekun berekaristi semakin ringanlah langkah kakinya untuk pergi berbagi kegembiraan, sukacita dan pengharapan dengan sesama di sekitarnya. Semakin peka mata imannya untuk melihat potensi-potensi yang ada dalam diri orang-orang kecil yang siap untuk diberdayakan, semakin rela untuk berbagi rejeki dengan yang lapar dan tidak berdaya. Inilah makna terdalam dari pengertian manusia datang dan percaya kepada Yesus sebagai Roti Hidup. (PST)

(RP. Simon Tenda CSsR – Anggota Pengurus Komisi Karya Misioner KWI)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s