Sang Pintu Gembala Berbau Domba

Renungan Harian Misioner
Senin Paskah IV, 13 Mei 2019
Peringatan SP Maria dari Fatima
Kis. 11:1-18; Mzm. 42:2-3; 43:3,4; Yoh. 10:1-10

Pintu. Sebuah benda yang berbentuk persegi, mungkin juga setengah lingkaran, bahkan mungkin berbentuk lingkaran yang utuh seperti yang bisa kita temukan di film Hobbit. Apa yang membuat sebuah pintu itu istimewa? Bentuknya? Bukan. Yang membuat pintu itu istimewa adalah fungsinya. Pintu dapat membawa kita ke tempat yang ingin kita tuju. Yang perlu kita lakukan adalah menemukannya, membukanya serta masuk melaluinya.

Seperti itu pulalah yang dipesankan Yesus sendiri dalam Injil Yohanes. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “Pintu” bagi domba-domba dan gembala. Pertama, pintu bagi domba-domba. Syarat yang utama untuk menjadi domba-domba yang diselamatkan, yang menemukan padang rumput yang merupakan sumber kehidupan bagi domba adalah masuk melalui Pintu, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” (Yoh. 10:9).

Apakah kita telah menemukan pintu itu dalam hidup kita? Mungkin dengan cepat kita akan menjawab: ya, tentu saja, siapa yang tidak mengenal Yesus? Tapi pertanyaan yang harus kita renungkan kemudian adalah: apakah kita telah masuk melalui-Nya? Ataukah saat ini kita masih berdiri termangu di depan pintu itu, menimbang-nimbang apakah merupakan pilihan yang baik untuk masuk melalui pintu itu atau mungkin masih ada cara lain yang lebih baik? Atau mungkin juga sebelah kaki kita saat ini masih berada di luar pintu sementara sebelah lagi sudah berada di dalam pintu?

Yesus berpesan, bahwa setiap orang harus masuk melalui pintu itu. Itu berarti Yesus bukan hanya ingin kita menemukan-Nya. Tidak cukup hanya sampai di situ saja, mengetahui tentang Yesus sekedar dari nama-Nya atau wajah-Nya, atau dari kisah-kisah-Nya. Yesus ingin kita mengambil inisiatif, bergerak maju, menghampiri-Nya dan masuk melalui-Nya. Masuk melalui-Nya berarti mengenal-Nya lebih dalam dan menyeluruh, menghidupkan pribadi-Nya melalui pribadi kita sendiri, juga melalui sikap dan tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Bertransformasi. Kita tidak bisa hanya diam, pasif, menunggu, masa bodoh, suam-suam kuku atau tetap menjadi diri kita yang dahulu, jika kita mengaku diri kita sebagai orang Kristiani.

Kedua, pintu bagi gembala. Domba-domba selalu berkumpul, membentuk sebuah kawanan. Tapi biasanya mereka tak berjalan sendirian, ada seorang gembala yang berjalan di depan mereka, yang memanggil nama mereka agar mereka mengikutinya, mencari mereka ketika mereka tersesat, menggendong mereka jika mereka membutuhkan dan menuntun mereka ke padang rumput yang hijau. Domba-domba membutuhkan gembala; gembala yang baik.

Kita semua mengemban misi evangelisasi sebagai orang-orang yang telah dibaptis dan diutus. Evangelisasi memiliki makna sederhana namun penuh yaitu memberitakan kabar baik (kerajaan Allah) kepada seluruh dunia. Seorang pewarta Injil/evangelis atau murid Yesus, juga merupakan gembala. Ia menuntun domba-domba (umat Allah) untuk menemukan padang rumput (kehidupan/keselamatan). Untuk dapat menjadi gembala atau pewarta Injil atau misionaris Tuhan yang baik, kita pun diminta untuk masuk ke kandang domba melalui pintu, yang adalah Yesus sendiri. Bukan dengan memanjat tembok. Ini berarti kita masuk dalam pewartaan dengan suara, kata-kata, sikap dan perbuatan yang serupa dengan Yesus sendiri. Meniru Yesus.

Memanjat tembok, bisa berarti kita berbuat tidak benar, memaksakan keinginan kita sendiri, cara kita sendiri, tidak mengikuti jalan yang telah ditunjukkan Yesus dan akhirnya membuat kita menjadi pencuri. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan. Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahannya” (Yoh. 10:10).

Sebagai murid kita harus selalu ingat tujuan pewartaan kita: Yesus. Bukan diri kita sendiri. Misi yang kita emban adalah misi Tuhan. Bukan misi diri kita sendiri. Kita adalah gembala-gembala dari Sang Gembala Agung, yang menggembalakan domba-domba milik-Nya. Dan Yesus menjaminkan bahwa ketika gembala masuk melalui pintu, maka domba-dombanya akan mengenali suaranya dan mengikutinya. Melekat pada Yesus adalah syarat mutlak dan utama dari seorang gembala yang baik. “[…] Akulah pintu ke domba-domba itu […]” (Yoh. 10:7).

Dalam Seruan Apostoliknya, Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), Paus Fransiskus mengatakan: Para pewarta Injil memiliki “bau domba” dan domba pun mau mendengar suara mereka. Maka, komunitas yang mewartakan Injil siap “menemani”. Menemani kemanusiaan dalam seluruh prosesnya, betapa pun sulit dan lamanya (Artikel 24).

Semoga mengemban misi ilahi, kita pun mampu benar-benar masuk melalui sang Pintu; “berbau domba”; dan mau menemani kemanusiaan dalam seluruh prosesnya secara nyata melalui kehidupan kita sehari-hari.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s