Sukacita karena Cinta Kasih Tuhan

Renungan Harian Misioner
Kamis, 23 Mei 2019
Pesta S. Yohanes Baptista di Rossi, S. Eufrosina
Kis. 15:7-21; Mzm. 96:1-2a,2b-3,10; Yoh. 15:9-11

Nas yang singkat ini mengandung isi yang tak terhingga kayanya. Pertama, diwahyukan bahwa Yesus menyatu dengan Bapa yang dikasihi-Nya. Kedua, kita dirangkum dalam kasih yang mempersatukan Bapa dengan Yesus itu. Ketiga, kasih itu nampak dalam melaksanakan Kehendak dari Yang Dikasihi. Keempat, dengan kasih itulah kita akan tetap dalam rangkuman Yesus dan Bapa. Kelima, seluruhnya menyebabkan kita penuh dengan sukacita. Mari kita renungkan tahap demi tahap.

Dasar dari seluruhnya adalah perwahyuan, bahwa Bapa menyatu dengan Yesus, Sahabat kita. Kita sudah diangkat Yesus, tidak sebagai hamba, melainkan sebagai Sahabat; artinya kita sangat dicintai oleh Yesus. Namun, hal itu mempunyai dasar yang amat dalam karena Yesus, yang dikenal sebagai anak Tukang Kayu dan teman seperjalanan Petrus, Yohanes, Yakobus dan kita di dunia ini, sesungguhnya menyatu dengan Allah Bapa, Pencipta Langit dan Bumi. Artinya, Yesus, manusia, yang amat dekat di hati kita itu, terpadu dengan Yang Mahakuasa dan Mahakasih. Sebab Allah sudah menunjukkan Cinta-Nya dengan menciptakan kita, yaitu memberi hidup kepada semua, termasuk kita ini. Kalaulah kita mempunyai harta yang tak terhitung banyaknya, milik kita yang paling bernilai adalah hidup kita, dengan segala talenta dan pikiran serta perasaan, yang tidak dapat dibeli di mana pun dengan harga berapa pun. Masih lebih lagi, bahwa Sang Pencipta itu adalah Bapa dari Sahabat kita, Yesus Kristus, yang memberikan Diri-Nya kepada kita.

Dalam pada itu, kita dirangkum dalam kasih “Mereka”, yakni Bapa dan Yesus Kristus. Kita bukan hanya ‘buatan Allah, karena diciptakan-Nya’; kita ada di tengah pelukan antara Bapa dengan Yesus. Kita bukan hanya menjadi salah satu dari sekian juta ciptaan; kita tidak sekedar diletakkan-Nya di tengah alam semesta yang amat indah ini serta diperkenankan menikmatinya; kita bahkan boleh lebih dari hanya ikut menggarap alam atau ikut mengambil bagian dalam proses penciptaan lebih lanjut melalui karya kita, tetapi kita ada “dalam Hati Tuhan, bersama dengan Yesus Yang Terkasih”. Nilainya tidak terhingga. Betapa kita harus berterimakasih.

Dari lain sisi, kita perlu ‘tahu diri’ juga. Bagaimana caranya kita menunjukkan terima kasih dan kemudian hidup selaras dengan rahmat itu? Itu pun diperlihatkan oleh Yesus, Sahabat kita, dengan memberikan teladan-Nya. Ia melakukan Kehendak Bapa, agar kita tahu bahwa Ia mencintai Bapa. Dengan cara itu, Ia memberi contoh, bahwa kita harus juga melaksanakan Kehendak Bapa: sebagai bukti bahwa kita membalas cinta-Nya. Sebab, cinta kepada seseorang hanya akan terlihat, apabila kita berkata serta bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh Pribadi, Yang Kita Cintai. Apalagi, Dia yang telah lebih dahulu mencintai kita. Sementara itu, Teladan Yesus, Sahabat kita dalam “melaksanakan Kehendak Bapa, demi cinta-Nya” itu total: seluruh hidup dan sampai titik Darah-Nya yang terakhir. Hal itu berarti, bahwa kita hanya tahu berterima kasih jika “ada dalam Hati Tuhan” itu, jika kita secara menyeluruh mempersembahkan hidup dan segala yang diberikan-Nya kepada kita.

Persembahan diri kita itu bisa menyeluruh, apabila kita tidak memberikannya dengan pamrih. Padahal dalam banyak kesempatan, doa kita dipersembahkan sering kali dengan “pamrih”, misalnya “supaya kita damai”, atau “agar kita pasrah” atau “supaya akhirnya kita masuk surga” atau “agar menjadi bagian dari Kerajaan Allah”. Kadang kala pamrihnya malah lebih sederhana lagi, misalnya, supaya “lulus ujian” atau “supaya diberi kesuksesan” atau “supaya masuk surga”. Dengan pamrih-pamrih seperti itu, sebenarnya kita belum “membalas kasih Allah secara habis-habisan”. Pamrih-pamrih itu menunjukkan juga, betapa kita sesungguhnya belum seutuhnya melaksanakan Kehendak Allah. Betapa Tuhan Yesus harus menjadi perantara kita untuk menerima rahmat-Nya, agar dapat membaca Kehendak Allah dengan baik serta melaksanakan Kehendak-Nya dengan penuh. Tanpa pengantaraan Sang Sahabat itu, kita tidak dapat menemukan Kehendak Bapa dan melaksanakannya.

Padahal, hanya dengan melaksanakan Kehendak Allah Bapa itulah kita akan tetap ada “di Hati-Nya”, dalam Cinta Kasih-Nya. Hanya dengan demikianlah kita ada dalam rangkuman Yesus dan Bapa. Bila tidak, sebenarnya diri kita masih egois; hanya mencari kesenangan atau kepuasan kita sendiri; dan tidak melaksanakan Kehendak Bapa; dengan demikian, belum berada dalam Kasih-Nya.

Pada kenyataannya, sering kali kita hanya mau mencari kesenangan dan sukacita kita sendiri. Ya, sukacita yang hanya parsial – sebagian saja. Dalam hal itulah Sabda Terakhir Yesus dalam Nas ini menutup pesan-Nya dengan sangat tepat: hanya jika seluruhnya terjadi, maka sukacita akan penuh. Apabila kita senantiasa “menyisipkan kesenangan-kesenangan kita sendiri”, sepertinya kita memperoleh kegembiraan atau memenuhi gairah kita; tetapi sebenarnya hal itu hanya sementara dan hanya sebagian saja. Jika menginginkan sukacita yang penuh, kita harus memberikan segalanya sesuai dengan Kehendak Bapa, yang dalam Yesus Kristus merangkum kita dalam Hati-Nya yang penuh Kasih Sayang.

Marilah kita mohon Roh Cinta Kasih, agar segalanya dapat terpenuhi dengan Kasih Sayang-Nya.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s