Komitmen Kristiani

Renungan Harian Misioner
Jumat, 24 Mei 2019
Peringatan S. Yoana
Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17

Kita semua mengerti bahwa menjadi murid Kristus berarti berusaha menjadi seperti Kristus dengan mengenakan pada diri sendiri perasaan dan pikiran Kristus. Ini yang kita sebut komitmen kristiani. Inilah suatu pilihan dasar yang tidak akan ditarik kembali dengan alasan apapun juga. Intinya, mengasihi seperti Kristus sendiri mengasihi. Santo Yohanes Penginjil mencatat: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12). Tentu ini suatu proses yang panjang, seumur hidup.

Dengan komitmen seperti ini, setiap murid Kristus memusatkan seluruh perhatiannya pada pilihan dasar ini yang menggerakkan seluruh hidupnya pada cita-cita ‘menjadi seperti Kristus’. Untuk menjelaskan inti komitmen ini, Santo Yohanes menulis tentang Kristus yang menyebut para murid-Nya sebagai sahabat. Bukan bawahan atau hamba, melainkan sahabat! “Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh. 15:15).

Sikap, teladan, dan pengajaran Kristus ini pasti sangat mengesankan dia; tidak mudah dilupakan oleh seorang murid sekaliber Santo Yohanes Rasul. Murid-murid lainnya, sebagaimana dicatat oleh Santo Lukas dalam Kisah Para Rasul (bacaan pertama hari ini), seperti Petrus, Paulus dan Barnabas, Yudas yang disebut Barsabas dan Silas, juga Yakobus memperluas pengertian ‘sahabat’ itu dan menjangkau orang-orang bukan-Yahudi, yakni bangsa-bangsa lain (Kis. 15:23). Mereka disebut juga ‘saudara’! Sikap ini merupakan sebuah lompatan besar, suatu cara berpikir dan cara merasa yang baru. Ini sebuah sikap religius baru, meninggalkan paradigma lama yang dikotomis dan saling menyingkirkan: kami-kamu, beriman-kafir, saleh-najis, dan lain sebagainya.

Kita juga terbiasa dan terlatih dengan pola pikir, pola rasa, dan pola laku yang saling mengucilkan seperti ini. Diperparah dengan politik identitas yang semakin mewarnai hidup bermasyarakat kita dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, kita pun semakin saling mengalienasi satu sama lain. Kesatuan etnis atau keturunan dan afiliasi keagamaan serta pilihan politis dijadikan alasan untuk saling mempertentangkan antar kelompok sosial dalam masyarakat yang majemuk ini. Lebih parah lagi, kita menyaksikan ada kelompok-kelompok tertentu yang sedemikian mengagung-agungkan identitas kelompoknya sampai membenarkan tindakan kekerasan terhadap anggota masyarakat lain yang tidak sepaham dengan mereka. Komitmen mereka adalah mengangkat identitas kelompok sedemikian agung, sampai harus dibela sebagai sesuatu yang mahasuci, meskipun harus mengorbankan martabat dan hak hidup sesama manusia.

Sebaliknya, komitmen kristiani bergerak ke arah yang berlawanan. Tuhan Yesus telah meneladankan itu kepada para murid-Nya dan menekankannya lagi pada amanat perpisahan-Nya, seperti yang dicatat oleh Santo Yohanes Penginjil. Menjadi sahabat dan saudara bagi setiap orang tanpa memandang status sosial, latar belakang etnis, budaya, ataupun agama merupakan komitmen kristiani setiap murid Kristus. “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita,” kata Yesus pada kesempatan lain (Mrk. 9:40).

Sejalan dengan ini, kita teringat akan petuah emas dari Guru Ilahi kita, yakni panggilan untuk menjadi kudus seperti Allah sendiri. Bukan menjadi kudus menurut kriteria manusia! Menjadi kudus seperti Allah, yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan secara sama bagi orang benar maupun orang yang tidak benar (bdk. Mat. 5:45). Kita dipanggil untuk menjadi ‘lebih’ daripada ukuran idealisme manusiawi, lebih daripada kesalehan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Bahkan, setiap murid Kristus dipanggil untuk mampu mengasihi orang-orang yang memusuhi mereka. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu,” kata Sang Guru Ilahi menegaskan dalam bagian dari kotbah di bukit (Mat. 5:44). Inilah komitmen kristiani kita. Salam!

(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Wakil Ketua Komisi Karya Misioner KWI)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s