Beragama dan Mengenal Allah

Renungan Harian Misioner
Senin Paskah VI, 27 Mei 2019
Peringatan S. Agustinus dr Canterbury
Kis. 16:11-15; Mzm. 149:1-2,3-4,5- 6a,9b; Yoh. 15:26 – 16:4a

Umumnya orang berpikir bahwa dengan beragama seseorang akan mengenal Allah. Benarkah demikian? Pernyataan itu patut dipertanyakan kembali. Dalam kenyataan, banyak tindakan dan perilaku jahat secara moral malah mendapatan pembenaran dari agama. Singkatnya, agama dijadikan dasar pembenaran dari tindakan jahat. Bagaimana hal itu dipahami?

Jika agama hanya dipahami sebagai institusionalisasi iman, maka peranan menjadi lebih sentral. Agama menjadi lembaga menurut konsep dan kepentingan manusia; organisasi “surgawi” berada dalam tata kelola manusia, rawan “manipulasi dan eksploitasi”, termasuk melegitimasi pikiran dan perbuatan manusia. Perbuatan jahat menjadi benar atas dasar klaim ajaran agama yang melayani kepentingan manusia.

Yesus dalam hidup-Nya melawan “pembenaran palsu” seperti itu. Dia melawan aturan atau hukum agama demi kebenaran yang diyakni-Nya, yakni kehendak Allah Bapa-Nya. Ia melanggar Sabat untuk menyelamatkan hidup manusia; Dia tidak melaksanakan hukum Musa, demi perempuan yang terancam dirajam karena kedapatan berzinah (bdk. Yoh. 8:1-11). Allah yang dihadirkan dan diwartakan Yesus adalah Bapa yang berbelaskasih: mengutamakan belaskasih dan bukan korban; Bapa yang menantikan dan menerima si anak yang kembali ke rumah kendati sudah melakukan kesalahan (bdk. Luk. 15:11-32).

Injil hari ini mengingatkan kita akan bahaya dari cara beragama palsu: benar menurut aturan agama, tetapi bertentangan dengan kehendak Allah. Agama yang membenarkan kejahatan, kendati bertentangan dengan kehendak Allah. Agama serupa itu tidak mengantar manusia kepada Allah berbelas-kasih dan pengampun. Itulah tantangan bagi orang-orang Kristiani pada masa kini. Mereka akan mengalami tantangan dan kesulitan, seperti yang dialami Yesus sendiri. Yesus dibunuh karena para pembunuh-Nya yakin bahwa mereka melakukan kehendak Allah.

Ini merupakan peringatan bagi orang-orang Kristiani dan bagi Gereja, agar beragama secara benar: tidak mengutamakan agama, lantas mengabaikan Allah. Allahlah yang disembah, bukan agama. Para pengikut Kristus dilarang melakukan kejahatan, dengan legitimasi agama, apalagi Allah. Paus Fransiskus mengingatkan agar Gereja mengutamakan mereka yang menderita dan tertindas. “Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka dan kotor karena keluar di jalan-jalan, dari pada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri. Saya tidak menyukai Gereja yang berambisi menjadi pusat dan berakhir dengan terperangkap dalam jerat obsesi dan prosedur.”(Evangelii Gaudium 49). Seperti Lidia dalam bacaan pertama, menerima karunia iman berarti membuka pintu dan melayani sesama serta memberi yang terbaik. Itulah buah iman sejati: beragama serta mengenal Allah yang belaskasih dan penuh ampun. Beragama dengan mengenal Allah akan bermuara pada kasih, pengampunan dan kebenaran.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s