“Bunda Maria: Ibu dan Teladan para Misionaris”

Renungan Harian Misioner
Jumat Paskah VI, 31 Mei 2019
Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet
Zef. 3:14-18a atau Rm. 12:9-16b; MT Yes. 12:2-3,4-bcd,5-6; Luk. 1:39-56

Peristiwa Bunda Maria mengunjungi Elisabet saudaranya bukan sekedar sebagai kunjungan manusiawi belaka sebagai saudara. Memang, Maria menemui Elisabet dan Zakharia untuk melayani mereka. Ia peduli dengan keadaan Elisabet yang sedang mengandung anak laki-laki pada usia tuanya. Bunda Maria tahu bahwa Elisabeth saudaranya membutuhkan bantuan dan pelayanannya. “Kira-kira tiga bulan lamanya Maria tinggal bersama dengan Elisabet, lalu pulang ke rumahnya” (Luk. 1:56).

Apa yang dilakukan oleh Bunda Maria memang tampak sangat manusiawi, tetapi pada saat yang sama, Maria membawa pesan atau berita kegembiraan dan perdamaian kepada mereka. Maria memasuki rumah Zakharia dan menyalami Elisabet. Salam yang diucapkan Maria bukan hanya ungkapan sopan-santun, melainkan salam dengan rumusan berkat. Di dalam rahimnya, Maria sedang mengandung Raja Damai, yang telah mengenakan keadaan manusiawi kita supaya memancarkan kegembiraan dan perdamaian di dalam hati setiap orang. Kedatangan Maria dan salamnya kepada Elisabet merupakan tanda kedatangan berkat Tuhan. Salam Maria merupakan doa dan berkat yang paling kuat. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak di dalam rahimnya. Elisabet sendiri benar-benar diberkati oleh salam Maria, dipenuhi dengan Roh Kudus dan mengalami sukacita besar.

Dalam sebuah kesempatan Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa, “Perjalanan Maria mengunjungi sepupunya Elisabet adalah sebuah perjalanan misionaris yang otentik. Ini adalah suatu perjalanan yang membawanya jauh dari rumah, mendorong dia kepada dunia, ke tempat-tempat yang asing bagi kebiasaannya sehari-hari. Bunda Maria adalah misionaris pertama yang memberitakan kabar gembira kepada Elisabeth saudaranya. Ia telah membawa Yesus kepada Elisabet dan kepada kita.”

Menurut Paus Benediktus XVI, “Peristiwa Perawan Maria pergi untuk mengunjungi Elisabet merupakan contoh yang paling jernih dan arti yang paling benar dari perjalanan kita orang yang percaya dan perjalanan Gereja itu sendiri. Gereja adalah misionaris menurut kodratnya, ia dipanggil untuk mewartakan Injil di mana pun dan selalu, untuk meneruskan iman kepada setiap laki-laki dan perempuan, dan kepada setiap kebudayaan.”

Apa makna kunjungan Bunda Maria kepada Elisabet? Bunda Maria adalah misionaris pertama dan unggul. Dialah yang mengandung Yesus dan membawa Yesus kepada Elisabet. Sebagaimana Bunda Maria, kita pun dipanggil oleh Allah untuk menjadi misionaris, yakni membawa dan mewartakan Yesus kepada orang lain. Untuk menjadi seorang misionaris, kita harus terlebih dahulu “mengandung” Yesus dalam jiwa dan hidup keseharian kita. Seorang misionaris adalah pribadi yang bersatu dengan Yesus, terutama melalui doa dan Ekaristi. Dalam Ekaristi, kita menerima Yesus dan bersatu dengan-Nya. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh. 6:56).

Bagi Paus Benediktus XVI, Elisabet adalah “simbol dari semua orang yang lanjut usianya dan sakit, lebih dari itu, simbol dari semua orang yang membutuhkan pertolongan dan cinta. Maria – yang menggambarkan dirinya sendiri sebagai “hamba Tuhan”- membuat dirinya sendiri hamba dari manusia. Maria melayani Tuhan yang dia jumpai dalam diri saudara-saudara. Dalam Surat kepada Jemaat di Roma, Rasul Paulus memberi nasihat yang amat penting untuk dilakukan oleh para misionaris jaman ini: “Bantulah orang-orang kudus dalam kekurangannya, dan berusahalah selalu memberi tumpangan! Berkatilah orang yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm. 12:13-15). Apabila kualitas sikap dan tindakan kita sebagai misionaris seperti ini, orang yang kita jumpai akan merasakan kehadiran Allah, mengalami kegembiraan dan sukacita serta memuliakan Allah.

Panggilan menjadi misionaris bukanlah tugas yang mudah dan selalu menyenangkan karena berbagai keterbatasan dan kerapuhan yang ada dalam diri kita serta adanya tantangan dan cobaan yang datang dari luar diri kita. Dalam situasi penuh tantangan dan cobaan, kita ingat nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma dalam bacaan pertama hari ini: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, bertekunlah dalam doa!” ( Rm. 12: 12). Nasihat Rasul Paulus ini sungguh menjadi modal spiritual yang luar biasa bagi kita dalam menjalankan perutusan sebagai misionaris. Kita pun mesti yakin bahwa Bunda Maria menjadi teman seperjalanan kita dalam tugas mewartakan Yesus, Puteranya. Yesus sendiri telah menyerahkan kita kepada ibunya: “Ibu, inilah anakmu” dan menyerahkan ibunya kepada kita: “Inilah ibumu” (Yoh. 19: 26-27). Bunda Maria tidak hanya mengunjungi Elisabet saudaranya, melainkan juga senantiasa mengunjungi kita anak-anaknya. Semoga cinta keibuan Maria dan teladan misionernya menjadikan kita misionaris-misionaris yang setia dan berkualitas.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s