Pengampunan dan Kasih

Renungan Harian Misioner
Rabu Biasa X, 12 Juni 2019
Peringatan S. Yohanes Fakundus
2Kor. 3: 4-11; Mzm. 99:5,6,7,8,9; Mat. 5:17-19

Hukum, adalah sebuah kata yang kuat, yang memiliki arti “mengatur”. Dalam kehidupan kita sehari-hari kita dapat menemukan banyak hukum atau aturan. Mulai dari aturan di rumah, yang dibuat oleh anggota keluarga, biasanya orang tua atau yang lebih dituakan, tapi mungkin juga merupakan kesepakatan bersama. Lalu ada aturan di sekolah, di mana aturan ini sifatnya lebih kuat dan mengikat para penghuni sekolah, baik guru maupun murid. Begitu pun di jalan, ada hukum yang harus diperhatikan dan ditaati, yang berupa rambu-rambu lalu lintas. Mengatur para pengguna jalan di mana harus berhenti, kapan bisa jalan, dsbnya.

Kita semua terbiasa hidup dengan aturan atau hukum. Negara kita pun negara hukum. Mengapa? Karena kehidupan diatur dengan hukum. Jika tidak, semua bisa kacau balau. Harus ada batas yang dipakai bersama sehingga orang-orang tidak saling merugikan, terutama karena manusia itu unik dan memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Negara menjaminkan keamanan dan kesejahteraan warga negaranya melalui hukum.

Terbiasa dengan segala keteraturan oleh adanya hukum, kita pun sering kali secara otomatis bahkan mungkin “selalu” menuntut segala sesuatunya berdasarkan aturan yang ada. Jika menemukan seseorang yang melakukan pelanggaran, kita kemudian menuntut penegakan dari hukum, meminta keadilan, apalagi jika kita merasa dirugikan. Sering kali hal ini menyebabkan kita marah, menuntut dengan emosi, serta “ngotot” memperjuangkan kebenaran dan keadilan berdasarkan hukum. Dalam momen-momen itu kita sedang lupa… Lupa bahwa di atas hukum, ada yang lebih tinggi. Yang diajarkan Yesus sendiri kepada kita, yang dilakukan Yesus sendiri terhadap kita. Apa itu? Kasih dan pengampunan. Ya, di atas hukum ada kasih dan pengampunan.

Ketika kita menemukan kesalahan, pelanggaran dari sesama kita, kenalan, sahabat, saudara, orang tua, maukah kita berhenti sejenak sebelum mulai menghakimi, dan mengingat wajah Tuhan yang dalam sengsara-Nya berseru pada Bapa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”? Sebesar apa pelanggaran yang pernah kita buat dalam hidup? Sebesar apa belas kasih Bapa mengampuni segala dosa kita? Sebesar apakah kita mampu meneladani pengampunan-Nya dan memberikannya kepada sesama? Jika Allah saja, sang pemilik hukum, yang adalah Hukum itu sendiri mampu mengampuni kita, apakah layak kita masih bertegar hati menganggap hukum duniawi itu di atas segala-galanya?

Hukum akan selalu ada. Untuk mengatur, menjamin keteraturan hidup. Tetapi sebagai murid-murid Yesus kita perlu menyadari bahwa dalam kondisi tertentu kita harus mampu melihat melampaui apa yang pada umumnya manusia lihat. Kita bisa memilih menjadi hakim dunia atau menjadi pembawa pengampunan dan belas kasih di saat kebenaran dan keadilan kita dilanggar. Kita mengingat Bapa, mengenang Yesus dan membiarkan Roh Kudus yang menghidupkan masuk ke dalam diri kita hanya ketika kita mau membuka pintu pengampunan dan memberikan kasih. Kita mengampuni dan berbelas kasih karena kita mengimani Allah Bapa melalui Yesus Kristus Putera-Nya di dalam Roh Kudus.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s