Misionaris: Bejana Tanah Liat – Pembawa Kematian Plus Hidup di dalam Yesus

Renungan Harian Misioner
Jumat Biasa X, 14 Juni 2019
Peringatan S. Metodius
2Kor 4: 7-15; Mzm. 116:10-11,15-16,17-18; Mat. 5:27-32

Renungan Harian dari Yung-Fo

Para sahabat misioner yang terkasih,
Setelah sukacita dan kegembiraan Paskah, kita kembali ke dalam Masa Biasa. Kemenangan Kristus atas maut yang menjadi kekuatan utama kesaksian dan pewartaan para murid kita bawa sebagai kekuatan yang Allah sediakan bagi kita dalam menjalani hidup pada masa yang biasa ini. Kekuatan Kristus ini menjadi poin penting, karena sama seperti para murid, kita menemukan diri “rapuh & tak berdaya,” laksana “bejana tanah liat” (2 Kor. 4:7). Kesadaran tentang diri yang rapuh secara internal itu, semakin lengkap dan menantang oleh situasi dunia dengan berbagai godaan dan pencobaan yang ditampilkan (Mat. 5:27 – 32).

1. Kerapuhan Manusiawi & Kemahakuasaan Tuhan
Rasul Santo Paulus dalam Bacaan Pertama memberikan pengakuan dirinya tentang dua hal. Secara manusiawi Paulus sadar sepenuhnya bahwa dirinya “rapuh” bagaikan “bejana tanah liat” namun kerapuhannya malah diangkat menjadi “sarana” yang diisi oleh Tuhan dengan kekuatan-Nya, untuk maksud keselamatan (2Kor. 4:7).

Kesadaran tentang kerapuhan manusiawi plus kekuatan Allah yang bekerja dalam dirinya tersebut, membuat Paulus mampu menyatukan semua pengalaman negatifnya seperti ditindas, habis akal, dianiaya, dihempaskan, dengan kematian Kristus (Kis. 4:8-10). Dengan mengambil bagian dalam wafat Kristus lewat aneka pengalaman negatif tersebut, Paulus selanjutnya menyerahkan dirinya kepada Kristus untuk diisi oleh kehidupan Kristus itu (Kis. 4:10-12).

Proses hidup yang olehnya Paulus mampu mengolah kerapuhan hidupnya dengan mengenakan kuasa dan kekuatan Allah, mampu mengantarkan Paulus kepada pengakuan iman, bahwa persekutuannya dengan Yesus Kristus tidak akan sia-sia, melainkan menjadi jalan kepada hidup dan keselamatan di dalam Kristus (Kis. 4:13-15).

Demikian, dalam kacamata iman seorang Paulus, kita dapat menyatakan bahwa kerapuhan manusiawi yang ada padaku dengan segala macam pengalaman negatif yang ada, jikalau kupersatukan dengan wafat dan kebangkitan Kristus, maka akan dapat menjadi sarana bagi Allah, ketika Allah mengisi kerapuhanku itu dengan kuasa dan kekuatan-Nya, untuk selanjutnya dapat digunakan untuk maksud penyelamatan bagi sesama manusia. Seorang misionaris seperti halnya Paulus, adalah seorang yang mengenakan Kristus seutuh-Nya: menyatu dengan wafat-Nya dan sekaligus dengan kebangkitan-Nya, sehngga dapat menjadi “alat-Nya Tuhan” bagi keselamatan umat manusia. Demikian, kerapuhan manusiawi dapat diubah oleh Allah untuk menjadi berkat dan keselamatan bagi sesama manusia.

2. Tantangan hidup seorang misionaris
Salah satu hal yang ikut menyumbang kepada kerapuhan manusiawi adalah relasi antar manusia, khususnya relasi antara pria dan wanita. Manusia dengan mudah menjadi rapuh dan jatuh ke dalam pencobaan, apabila “memandang seorang wanita dan menginginkannya dalam hatinya” (Mat. 5:27-28). Hal-hal yang besar seperti kasus perzinahan, berawal dari hal yang kecil dan sederhana, yaitu “memandang seseorang dengan pikiran yang tidak murni.” Semua manusia, siapapun dirinya, terancam oleh kerapuhan dalam sisi kehidupan yang satu ini. Karena itu nasihat Firman Tuhan adalah supaya kita menjaga diri sedemikian rupa, sehingga kita tidak jatuh ke dalam kebinasaan. Dengan kekuatan sendiri, tentu kita tidak berdaya. Namun pengalaman Paulus di atas menunjukkan, bahwa kuasa Allah dapat mengubah kerapuhan diri kita menjadi berkat bagi sesama.

Tuhan Yesus, kami ini lemah dan rapuh, bagaikan bejana tanah liat. Penuhilah kami dengan kuasa kebangkitan-Mu agar bersama Dikau, kami pun dapat menjadi berkat bagi sesama kami. Amin. (rmg)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s