Beriman Berarti Menjadi Pelaksana Sabda

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XII, 27 Juni 2019
Peringatan S. Sirilius dr Alexandria
Kej. 16:1-12,15-16; Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5; Mat. 7:21-29

Mazmur antar bacaan hari ini memberi inspirasi untuk memahami apa makna menjadi beriman. Mazmur berkata: “Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di setiap saat!” Hukum yang dimaksud tentu saja hukum Tuhan. Dalam Bahasa Kitab Suci, hukum kehendak dan perintah Tuhan kurang lebih bermakna sama. Intinya bahwa hukum Tuhan menjadi pegangan dan pedoman hidup, karena hukum Tuhan pasti selalu baik, benar dan adil. Dengan kata lain, perintah dan kehendak Tuhan itu adil selalu; tidak ada kesesatan di dalamnya. Karena itu melaksanakan hukum Tuhan merupakan jaminan kebahagiaan hidup. Hukum Tuhan itu adil, benar selalu. Melakukan hukum Tuhan berarti melakukan keadilan atau kebenaran. Itulah sumber sukacita dan kebahagiaan sejati.

Dengan taat melaksanakan keadilan atau kebenaran, yang berarti melaksanakan hukum Tuhan, maka di sana orang beriman memperlihatkan komitmen dan kesetiaannya dalam hidup beriman. Beriman menyangkut praksis hidup. Hidup baik dan benar, adil dan jujur seturut hukum, perintah dan kehendak Tuhan, merupakan wujud kesetiaan iman. Beriman lantas tidak sekedar berkata-kata, tetapi mewujudkan dan melaksanakan kehendak Allah.

Kesempurnaan dalam kesetiaan pada kehendak Allah kita temukan modelnya dalam diri Yesus. Dia yang adalah Putera Allah menjadi teladan dan model kesetiaan dan ketaatan bagi kita. Kata-kata Yesus yang kita dengar dalam Injil hari ini mengingatkan bahwa tanda pengenal sejati sebagai orang beriman adalah melaksanakan kehendak Bapa, seperti Yesus sendiri. Boleh kita katakan bahwa kesetiaan melaksanakan kehendak Allah berarti menyerupai Yesus Kristus Sang Putera. Itulah “tanda pengenal kita”. Ibarat pohon dikenal dari buahnya, demikian pula orang beriman dikenal melalui perbuatan baik: melakukan kehendak Bapa.

Mereka yang hanya berkata-kata, tetapi tidak melaksanakan, ibarat orang yang tidak memiliki identitas sebagai orang beriman. Karena itulah Yesus mengatakan, “Aku tidak mengenal kalian. Enyahlah daripada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!” Tentu saja kata-kata Yesus ini terdengar keras, tetapi kata-kata itu justru menyangkut hal yang paling utama dalam hidup beriman. Ibarat orang mendirikan rumah tanpa dasar kuat, begitulah pula manusia beriman yang tidak melaksanakan kehendak atau hukum Tuhan. Hidup tanpa dasar dan pegangan hidup. Menjadi manusia tanpa identitas, bahkan tidak dikenal oleh Tuhan sendiri. “Aku tidak mengenal kamu”.

Beriman sejati mensyaratkan totalitas ketaatan dan kesetiaan pada pelaksanaan sabda. Itulah yang memberi makna dan kualitas pada kehidupan kita. Manusia beriman dikenal dari perbuatan, sikap dan tindakannya yang adil, benar serta berkenan pada Tuhan.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s