Kita Dipanggil Untuk Merdeka

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XIII, 30 Juni 2019
1Raj. 19:16b,19-21; Mzm. 16:1- 2a,5,7-8,9-10,11; Gal 5:1,13-18; Luk. 9:51-62

Mengapa kita manusia sering mengalami pergumulan di dalam batin? Ketika pun kita sepertinya telah mengetahui apa yang baik, mana yang benar, sering kali masih juga kita harus merasakan adanya pertentangan batin untuk memutuskan atau memilih.

Karena manusia merupakan tubuh dan roh. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia mengatakan, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga setiap kali kamu tidak melakukan apa yang kamu kehendaki“ (Gal. 5:16-17). Inilah yang menyebabkan pertentangan batin itu terjadi. Adanya dua keinginan dari dua sumber berbeda. Dan dua sumber ini berada dalam satu tempat yang sama, yakni diri kita. Tak terelakkan, akan selalu ada pertentangan di dalam diri kita, karena selamanya manusia tak mungkin menjadi manusia jika hanya memiliki Roh tanpa tubuh, begitu pun sebaliknya.

Namun, tidak jarang kita akhirnya menyerah kalah pada kehendak daging, bukan pada kehendak Roh yang selalu memiliki nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Rasul Paulus pun menyadari hal ini dan menitipkan pesannya, “Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat” (Gal. 5:18 ). Kita diminta mendengarkan Roh, membiarkan diri dibimbing-Nya. Bukan sebaliknya menulikan telinga batin kita terhadap-Nya. Dengan demikian kita akan membebaskan diri dan menjadi orang yang merdeka. Namun, bagi orang yang tidak mengenal Tuhan, kemerdekaan itu berarti bebas melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Padahal, itu berarti menjadikannya manusia yang “tunduk” di bawah kendali daging: hawa nafsu, perseteruan, perselisihan, amarah, iri hati, kepentingan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora, percabulan, penyembahan berhala, sihir, dan sebagainya. Manusia itu tidak lagi memiliki “kebebasan” yang dianugerahkan Kristus, yaitu bebas dari dosa.

Penginjil Lukas mengisahkan sepotong peristiwa ketika Yesus menyiapkan perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Di sini kita dapat melihat bagaimana murid-murid Yesus didorong oleh keinginan daging, ingin membinasakan orang-orang Samaria karena tidak mau menerima sang Guru. Dan Yesus menegur mereka. Berapa sering kita pun bersikap seperti Yakobus dan Yohanes? Karena penolakan, sikap kurang bersahabat dari orang lain, kita kemudian mengikuti keinginan daging untuk marah dan mengambil tindakan yang tidak baik hanya demi kepuasan diri? Yesus memberi penekanan dan seharusnya itu juga kita ingat setiap kali kita tergoda akan keinginan daging untuk menghukum orang lain, “Kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan. Anak manusia datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya.” Menyelamatkan, bukan membinasakan. Cinta bukan hukuman. Misi kita adalah misi keselamatan dan cinta.

Kita semua dipanggil untuk merdeka. Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang diberikan Kristus, yaitu kondisi di mana kita mampu menguasai diri, menolak tunduk pada kehendak daging dan dengan tegas memilih jalan kebaikan dan kebenaran sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Yesus sendiri, juga oleh tuntunan Roh.

“Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau tunduk lagi di bawah kuk perhambaan.”

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s