Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengikut Kristus

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XIII, 1 Juli 2019
Peringatan S. Teodorikus, S. Pambo, S. Simeon Salos
Kej. 18:16-33; Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,10-11; Mat. 8:18- 22

Kita semua yang telah dibaptis tentu menyadari dengan baik bahwa kita telah menjadi pengikut Kristus. Ada begitu banyak kisah di balik pilihan hidup seseorang untuk hidup sebagai orang Kristiani. Mungkin sebagaian kita terlahir dalam keluarga Katolik sehingga kita menerima pembaptisan saat kecil, sebagai wujud cinta kasih dan kepedulian kedua orang tua kita. Ada juga yang dibaptis karena bertemu pasangan hidup dan ingin mengarungi bahtera keluarga dalam iman Katolik. Sebagian kita yang lain mungkin merasa tertarik dengan cara hidup orang Kristiani dan merasakan pengalaman rohani tertentu sehingga pada akhirnya memutuskan untuk dipermandikan.

Hal yang tampak serupa mengenai pilihan menjadi pengikut Kristus dikisahkan oleh Penginjil Matius dalam bacaan hari ini. Seorang ahli Taurat yang yang berkata kepada Yesus, “Guru, aku akan mengikuti Engkau, kemanapun Engkau pergi” (Mat. 8:19). Yesus menjawab dengan perumpamaan sederhana, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Kata-kata Yesus yang singkat ini sebenarnya ingin menunjukkan suatu pertanyaan yang penting bagi kita, Apakah kita sadar, apa yang akan kita alami sebagai orang Kristiani – pengikut Kristus?

Ahli Taurat tersebut merupakan orang yang terpelajar. Dan ia juga memiliki kedudukan yang terpandang dalam masyarakat Yahudi. Keputusannya mengikuti Yesus bisa sangat mungkin didasari sebab ia telah melihat sepak terjang Yesus: ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat-Nya yang tentu sangat memukau. Siapa yang tidak ingin mengikuti seseorang yang mampu menyembuhkan penyakit, mengusir roh jahat, menggandakan roti dan menghidupkan orang mati? Namun justru jawaban Yesus dengan perumpamaan di atas mau menunjukkan dengan sangat jelas, harga yang harus kita bayar untuk mengikuti Yesus. “Tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala” ingin memperlihatkan situasi yang serba ‘tidak pasti’; situasi di mana kita tidak merasa diterima, sebaliknya ditolak; situasi tidak adanya jaminan keamanan. Lihatlah bagaimana Yesus ditolak di kampung halaman-Nya, dimusuhi bangsa-Nya, dikhianati dan ditinggalkan orang-orang terdekat-Nya.

Mungkin ahli Taurat itu membatalkan niatnya untuk mengikuti Yesus. Terlalu besar harga yang harus dibayarnya. Kita yang telah menjadi orang-orang Kristiani, pasti memiliki banyak kisah bagaimana hidup sebagai pengikut Kristus. Suka-duka, tantangan dan gejolak kehidupan yang kita alami memperlihatkan bahwa apa yang dikatakan Yesus adalah benar. Menjadi pengikut Kristus sejak dulu hingga zaman sekarang ini tidak serta merta menghilangkan tantangan dan kesulitan hidup. Namun, Yesus yang kita imani tetap setia pada keputusan-Nya untuk mencintai kita dalam kehidupan yang kompleks ini, bahkan Ia rela membayar dengan darah-Nya di kayu salib. Cinta Kasih itu yang telah menjadikan segalanya mungkin dan pantas untuk diperjuangkan. Sebab mengikuti Kristus berarti juga memilih percaya pada Allah yang adalah Kasih. Mengalami jatuh-bangun, sukacita dan dukacita, dalam hidup sehari-hari kita di tengah keluarga dan masyarakat, memperlihatkan bahwa kita telah turut serta bersama Yesus berjuang untuk mewujudkan cinta kasih di sekitar kita.

(Br. Kornelius Glossanto, SX – Misionaris Xaverian)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s